Konten Media Partner

Nasib Bocah Yunisa di Palu, Derita Katarak hingga Infeksi Pernapasan

Palu Posoverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Yunisa Elmira, anak penderita katarak kongenital. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Yunisa Elmira, anak penderita katarak kongenital. Foto: Istimewa

Yunisa Elmira (8 tahun) tampak terbaring di ranjang rumah sakit dengan tangan kanan diinfus. Gadis kecil penderita katarak kongenital ini dimasukkan oleh kedua orang tuanya ke Rumah Sakit Anutapura, Kota Palu, Sulawesi Tengah, sejak Jumat malam (5/7), karena suhu tubuhnya tinggi dan tak kunjung turun.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium oleh dokter yang menanganinya, Yunisa didiagnosis mengalami penyakit saluran infeksi pernapasan dan ada diketahui bakteri yang menyumbat tenggorokannya.

Anak kedua dari pasangan Syamsul (33) dan Dewi Santiana (25) ini lahir dengan kondisi kedua matanya tidak dapat melihat, karena lensa matanya berwarna keruh, tampak seperti ada noda keabu-abuan. Kondisi ini biasa disebut katarak kongenital.

Sang ibu kadang merasa sedih melihat nasib anaknya. Menurutnya, masa depan Yunisa masih panjang, tetapi sayang harus menderita katarak, sebagaimana dirinya.

Tentu, Dewi sangat ingin mengobati katarak Yunisa, agar buah hatinya itu bisa melihat dan menjalani hidup normal seperti anak-anak pada umumnya. Hanya, keinginan itu, kata Dewi, masih terkendala kesiapan mental Yunisa sendiri. Sebab, peluang keberhasilan operasi katarak hanya sekitar 30-40 persen. Selain itu, biaya tindakan transpalansi lensa mata juga cukup besar.

Dewi, ibu Yunisa Elmira, anak penderita katarak kongenital. Foto: Istimewa

"Tapi tetap terus berusaha menabung, semoga suatu saat sudah siap dan mau mencoba, " ujar Dewi.

Selama ini, Dewi mengaku tetap tabah menghadapi kenyataan bahwa Yunisa menderita penyakit seperti yang dialaminya. Namun, ia berusaha tetap optimis bahwa masih ada secercah harapan untuk masa depan anak kandungnya itu.

Dewi tak tega membayangkan jika Yunisa mendapat perlakuan buruk dari 0rang-orang sekitar, sebagaimana sebagian orang dulu menghinanya, mencacinya, hingga mengucilkan dirinya dari pergaulan.

"Anak saya tidak sendiri, masih banyak lainnya, penting kemauan meski melewatinya tidak gampang," ujarnya.

Menurut Dewi, katarak yang diidap anaknya lebih parah dari yang dideritanya. Dewi mengaku masih bisa sedikit menangkap cahaya, sehingga matanya masih bisa berfungsi, walau fungsi penglihatannya sangat minim. Lain halnya dengan Yunisa, yang sama sekali tidak bisa melihat.

Yunisa Elmira, anak penderita katarak kongenital, saat di rawat di Rumah Sakit Umum Anutapura Palu. Foto: Istimewa

Ia menceritakan, awalnya Yunisa bisa sedikit melihat bayangan sebelum kejadian gempa, tsunami, dan likuefaksi pada 28 September 2018. Pada saat itu, di rumah singgah komunitas anak penyandang tunanetra yang dirintisnya, berkumpul semua anak-anak tunanetra.

Ketika gempa menghantam, anak-anak penghuni rumah singgah panik dan berlari berhamburan. Oleh karena mereka semua tidak bisa melihat, akhirnya beberapa anak menabrak Yunisa. Yunisa jatuh, kepalanya terbentur lantai, sehingga fungsi penglihatannya semakin terganggu.

"Waktu diperiksa di spesialis mata rumah sakit di Bandung tapi waktu itu tidak fokus pemeriksaannya ke mata, sebab ada amandel, semoga dengan kejadian ini ada hikmah bisa dipetik," ujarnya.

Ia berharap, semoga penderitaan yang dialami anak kandungya itu bisa mengetuk hati para dermawan dan tergerak untuk membantu kesembuhannya.

Penulis: Ikram (Palu)