500 Tiket Konser Orkestra Serenade Bunga Bangsa XII Ludes dalam 3 Menit

Sebanyak 500 tiket gratis Konser Orkestra dan Paduan Suara Internalisasi Kesejarahan “Serenade Bunga Bangsa (SBB) XII” ludes hanya dalam tiga menit setelah reservasi dibuka. Tingginya permintaan membuat kapasitas tempat pertunjukan menjadi salah satu batas jumlah penonton dalam konser yang sepenuhnya diselenggarakan menggunakan anggaran Dana Keistimewaan (Danais) ini, bertempat di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (28/8).
Kepala Seksi Sejarah Dinas Kebudayaan DIY, Rr. Titik Fatmadewi, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap SBB terjadi secara konsisten setiap tahun. Tiket tahun ini dibagikan secara gratis melalui reservasi daring platform Yesplis dengan ketentuan satu akun email untuk satu tiket.
“Dalam 3 menit, 500 tiket habis,” kata Titik saat ditemui Pandangan Jogja, Jumat (28/8).
Jumlah tersebut menyesuaikan kapasitas Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Titik mengatakan jumlah kursi di lokasi tersebut lebih terbatas dibandingkan Auditorium Universitas Sanata Dharma yang menjadi tempat penyelenggaraan pada tahun sebelumnya.
Konser SBB XII melibatkan 70 pemain yang membawakan sembilan repertoar. Pertunjukan tahun ini mengusung tema “Aksaranada Mahardhika”, yang disesuaikan dengan tema Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026, yakni “Aksara”.
Project Manager SBB XII, Krido Bramantyo, mengatakan tema tersebut disesuaikan dengan karakter SBB sebagai pertunjukan musik. “Kita mengikuti tema FKY, tapi kita sesuaikan dengan karakternya Serenade Bunga Bangsa, yaitu akhirnya komposisi tema itu menjadi Aksaranada Mahardhika,” kata Bram.
Salah satu karya yang ditampilkan adalah “Hanacaraka”, concerto baru karya komposer Vishnu Satyagraha yang menjadi sajian puncak pertunjukan. Karya tersebut dimainkan oleh solois Eko Balung pada biola dan Jaeko Siena pada seruling tradisional, dengan iringan orkestra dan paduan suara.
Vishnu mengatakan “Hanacaraka” terinspirasi dari kisah Adjisaka dan asal-usul aksara Jawa. Cerita pertengkaran Dora dan Sembada tersebut diterjemahkan melalui perpaduan permainan biola dan seruling tradisional dalam format orkestra simfoni dan paduan suara.
“Karya ini mencoba menceritakan mengenai cerita Adjisaka yang menjadi asal muasal bagaimana Hanacaraka kemudian tercipta dan semakin dikenal oleh masyarakat,” ujar Vishnu.
Selain “Hanacaraka”, konser menampilkan lagu-lagu wajib nasional dalam aransemen orkestra serta karya baru lain seperti Sabit, karya Eki Satria atas puisi yang ditulis oleh Alif Amin Arrofah. Karya Gardika Gigih yang mengalihwahanakan puisi Asrul Sani berjudul “Surat dari Ibu” serta “Ibu Kita Kartini” menegaskan bagaimana karya tulis dapat menjadi alat perjuangan. Hal ini juga ditemukan dalam puisi Muhammad Yamin “Merdeka atau Mati” yang digubah oleh Eki Satria untuk menutup konser ini. Pertunjukan dipimpin konduktor Eki Satria, dengan Ezra Mulyawan sebagai concert master.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan musik dipilih sebagai salah satu medium untuk menyampaikan nilai sejarah dan kebangsaan karena dapat menjangkau masyarakat melalui pengalaman musikal.
“Musik menjadi bahasa yang universal untuk mampu diterima, tidak hanya diterima secara panca indra tetapi juga rasa,” kata Dian.
SBB tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-12. Dian mengatakan keberlanjutan program tersebut menjadi bagian dari upaya Dinas Kebudayaan DIY mengenalkan nilai sejarah dan kebangsaan kepada masyarakat, termasuk generasi muda.
