Kumparan Logo
Konten Media Partner

Cerita WN Prancis Ikut Mubeng Beteng Kraton Yogya: Saya Ingin Ikut Lagi

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prosesi mubeng beteng Keraton Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja/Arif UT
zoom-in-whitePerbesar
Prosesi mubeng beteng Keraton Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja/Arif UT

Ribuan orang mengikuti prosesi Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta pada malam 1 Suro, Rabu (17/6) dini hari kemarin. Tak hanya dari Jogja, banyak peserta yang datang dari luar daerah, bahkan ada yang dari mancanegara.

James adalah salah satu peserta mubeng beteng yang berasal dari luar negeri. Ia adalah warga negara Prancis dan baru kali ini mengikuti prosesi mubeng beteng.

Bersama ribuan orang lain, James ikut berjalan kaki mengitari benteng Keraton Yogyakarta sejauh kurang lebih lima kilometer. James memaknai perjalanan itu sebagai sebuah perubahan, dari awal perjalanan di mulai sampai selesai meski tiba di lokasi yang sama.

“Mulai dari tempat ini, waktu sudah lewat, ada sesuatu yang berbeda dari awal ke akhir,” kata James kepada Pandangan Jogja, Rabu (17/6).

James, salah satu peserta mubeng beteng Keraton Yogyakarta dari Prancis. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

James mengaku terkesan dengan pengalaman pertama ini. Dan jika ada kesempatan, ia ingin mengulanginya lagi tahun depan.

”Jika saya di Jogja, (tahun depan) saya akan ikut lagi,” kata dia.

Tak Ikut Mubeng Beteng, tapi Ikut Dapat Berkahnya

Prosesi mubeng beteng juga menjadi sumber berkah, bahkan bagi mereka yang tak mengikuti prosesi ini.

Tamto, pedagang minuman di area Keraton Yogyakarta mendapatkan penghasilan berlipat berkat adanya prosesi mubeng beteng.

”Walaupun tidak ikut, tapi ikut terkena dampaknya. Banyak juga pedagang di sini yang laris, lumayan untuk makan anak istri,” ujar Tamto.

”Walaupun sampai jam 2, jam 3, namanya tanggung jawab untuk anak istri ya jalani saja,” lanjut Tamto.

Tamto, penjual minuman di sekitar Keraton Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Hal serupa disampaikan Indra, pedagang bakso pentol di sekitar Keraton Yogyakarta. Dia sudah mulai berjualan sejak pukul 16.00 WIB, dan baru pulang sampai pukul 04.00 WIB.

”Tadi jam 4 (sore), sampai jam 4 (pagi) lagi,” kata Indra sambil melayani pembeli.

”Masih semangat. Alhamdulillah jadi berkah untuk pedagang,” ujarnya.

Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta adalah tradisi berjalan kaki mengelilingi benteng keraton pada malam 1 Suro. Ritual ini dilakukan dengan Tapa Bisu (berjalan tanpa berbicara dan tanpa alas kaki) sejauh kurang lebih 5 kilometer.

Prosesi mubeng beteng memiliki sejumlah tujuan, di antaranya untuk introspeksi dan refleksi diri, pengendalian diri, hingga pendekatan kepada Tuhan