Kumparan Logo
Konten Media Partner

Dari 'A Cup of Java' hingga Geisha, Cerita Panjang Kopi Indonesia

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Muliadi Widodo dalam sebuah sesi omakasi di rumahnya beberapa waktu lalu. Foto: ESP
zoom-in-whitePerbesar
Muliadi Widodo dalam sebuah sesi omakasi di rumahnya beberapa waktu lalu. Foto: ESP

Di tengah omakase kopi yang berlangsung hampir empat jam di Serpong, Minggu (10/5/2026), percakapan siang itu perlahan bergerak semakin jauh.

Awalnya hanya soal rasa kopi. Lalu masuk ke roasting. Kemudian petani. Setelah itu sejarah kopi dunia, kolonialisme, hingga posisi Indonesia dalam industri kopi global hari ini. Bagi Muliadi Widodo, kopi memang tidak pernah sesederhana minuman.

“Kopi itu ajaib,” katanya di tengah sesi omakase. Ia memulai ceritanya dari Afrika.

Menurut Muliadi, kopi pertama kali ditemukan secara tidak sengaja ketika seorang penggembala melihat kambing-kambingnya tetap aktif setelah memakan buah kopi. Kisah itu kemudian berkembang menjadi salah satu legenda paling terkenal dalam sejarah kopi dunia.

“Makanya ada warung kopi namanya Dancing Goat,” ujarnya sambil tertawa.

kumparan post embed
kumparan post embed

Dari Afrika, kopi kemudian menyebar ke Timur Tengah dan Eropa. Italia, menurutnya, menjadi salah satu negara penting karena melahirkan budaya kedai kopi modern sekaligus perkembangan mesin espresso.

“Kenapa pencipta mesin kopi itu Italia? Karena mereka yang menginvent mesin kopi pertama kali di dunia,” kata Muliadi.

Namun percakapan siang itu paling panjang ketika membahas Indonesia. Muliadi menyebut kopi Jawa pernah menjadi salah satu kopi paling terkenal di dunia pada masa kolonial Belanda. Bahkan kopi asal Jawa pernah dilelang di Den Haag dan dikenal luas dengan istilah “A Cup of Java”.

“Waktu itu kopi dari Indonesia, Jawa terutama, menjadi kopi termahal di lelang tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, istilah Java dalam dunia komputer juga dipercaya lahir dari popularitas kopi Jawa saat itu. Ia lalu menunjukkan peta coffee belt dunia—jalur wilayah tropis tempat kopi tumbuh optimal. Indonesia termasuk negara yang dilalui jalur tersebut.

“Makanya saya bilang, kita itu istimewa,” katanya sambil menunjuk wilayah Indonesia di peta persebaran kopi dunia.

Namun di balik posisi geografis yang strategis itu, Muliadi menilai Indonesia masih menghadapi banyak persoalan struktural. Salah satu yang paling ia soroti adalah minimnya dukungan negara terhadap petani kopi dibanding negara lain seperti Vietnam.

Menurutnya, Vietnam mampu melampaui Indonesia dalam produksi kopi karena dukungan pemerintah yang serius terhadap industri kopi mereka.

“Vietnam sering jadi peringkat nomor dua atau tiga karena pemerintahnya mendukung,” ujarnya.

Sebaliknya, Indonesia dinilai masih berjalan sendiri-sendiri. Banyak petani kopi tidak mendapatkan edukasi memadai, sementara lahan kopi juga kerap berbenturan dengan status kawasan hutan.

Selain membahas produksi massal, Muliadi juga menjelaskan bagaimana dunia specialty coffee berkembang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menyebut nama-nama seperti Geisha Panama, Liberica, Excelsa, hingga Black Ivory—kopi yang diproses menggunakan pencernaan gajah dan dikenal sebagai salah satu kopi termahal di dunia.

Menurutnya, Geisha Panama menjadi fenomena besar karena karakter aromanya yang sangat khas dan dijaga ketat oleh pemerintah Panama.

“Bawa green bean Geisha di Panama bisa seperti bawa narkoba,” katanya sambil tertawa.

Namun ia percaya Indonesia sebenarnya juga memiliki varietas-varietas kopi yang tidak kalah menarik jika dikelola dengan serius. Salah satu yang ia ceritakan adalah Excelsa, kopi yang menurutnya memiliki aroma nangka sangat kuat hingga dijuluki “kopi nangka” oleh sebagian orang Jawa.

“Excelsa itu aromanya nyetrak banget,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menunjukkan bagaimana varietas-varietas seperti red caturra atau kopi anaerobik dari Kerinci mulai memperlihatkan potensi besar kopi Indonesia di pasar specialty coffee dunia.

Menurut Muliadi, tantangan terbesar Indonesia sebenarnya bukan pada tanah atau iklim, melainkan konsistensi pengetahuan dari hulu ke hilir.

Ia berkali-kali menegaskan bahwa kopi terbaik lahir dari kombinasi petani yang memahami panen, roaster yang memahami karakter rasa, dan ekosistem yang mendukung kualitas.

“Indonesia itu sebenarnya enggak kalah,” katanya.

Menjelang akhir omakase, espresso boom menjadi penutup percakapan siang itu. Espresso panas dituangkan langsung ke dalam air soda dingin hingga menghasilkan rasa ringan dan berbuih yang mengingatkan pada root beer.

Di meja kecil lantai satu rumahnya di Serpong itu, kopi terasa jauh lebih besar daripada sekadar minuman.

Ia berubah menjadi cerita tentang gunung, perdagangan dunia, sejarah kolonial, eksperimen rasa, dan masa depan Indonesia yang sebenarnya sudah lama dikenal dunia lewat secangkir kopi.

**