Kumparan Logo
Konten Media Partner

Desainer Muda Jogja Sarah Azzahra Tembus Final Nasional Fatmawati Trophy

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Desainer muda asal Kota Yogyakarta, Sarah Azzahra. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Desainer muda asal Kota Yogyakarta, Sarah Azzahra. Foto: Dok. Istimewa

Desainer muda asal Kota Yogyakarta, Sarah Azzahra, melaju ke babak final nasional Fatmawati Trophy setelah berhasil masuk tiga besar Kurasi Region 7 di Semarang. Mewakili DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Sarah tampil dengan rancangan bertajuk “Sumbu Kartika” yang memadukan filosofi perjuangan dengan Batik Nitik khas Yogyakarta.

Capaian tersebut membawa Sarah bersama perwakilan Kabupaten Sleman dan Wonosobo mendapatkan tiket menuju puncak kompetisi nasional yang akan berlangsung di Bali pada Oktober mendatang.

DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta menilai keberhasilan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa ruang ekspresi dan pendampingan dapat membuka jalan bagi anak muda untuk masuk lebih jauh ke ekosistem industri kreatif.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto, mengatakan sebagian besar anak muda yang terlibat dalam ajang tersebut bahkan masih berusia di bawah 25 tahun. Menurutnya, mereka mampu menunjukkan kualitas ketika mendapatkan kesempatan untuk berkarya.

Sejumlah desain busana karya peserta Fatmawati Trophy Regional 7 Jawa Tengah & DIY. Foto: Dok. Istimewa.

“Ini sebuah soft campaign dan inspirasi yang luar biasa di luar ekspektasi saya. Mereka, yang rata-rata usianya masih di bawah 25 tahun, menunjukkan bahwa yang muda bisa berada di depan dan menghasilkan sebuah karya berkualitas,” kata Eko di sela diskusi “Anak Muda dan Dunia Digital”, Sabtu (15/8/2026).

Ketua Komisi A DPRD DIY itu mengatakan Fatmawati Trophy tidak semata-mata menjadi kompetisi desain dan peragaan busana. Ajang tersebut juga membawa pesan sejarah mengenai perjuangan Ibu Negara Fatmawati Soekarno ketika menjahit Bendera Pusaka Merah Putih.

“Saya selalu berpesan kepada teman-teman muda, hikmati bagaimana Ibu Fatmawati menjahit Merah Putih. Setiap langkah di panggung harus membawa spirit Ibu Fatmawati, Bung Karno, dan Bung Hatta dalam memerdekakan Republik ini,” ujarnya.

Eko berharap capaian anak muda di bidang fesyen tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem industri kreatif yang lebih luas di Kota Yogyakarta.

Desain busana karya peserta Fatmawati Trophy Regional 7 Jawa Tengah & DIY. Foto: Dok. Istimewa.

Ekosistem itu menurutnya dapat mempertemukan berbagai sektor, mulai dari tata busana, perias pengantin, hingga penyelenggara acara atau event organizer.

Untuk mematangkan persiapan menuju final nasional di Bali, DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta berencana menggelar peragaan busana di ruang terbuka pada salah satu kawasan bersejarah di Kota Yogyakarta. Kegiatan tersebut sekaligus akan menjadi ruang latihan dan ekspresi bagi para talenta muda.

“Sebelum berangkat ke Bali bulan Oktober, kita ingin buat pameran atau eksibisi outdoor di tempat bersejarah di Yogya. Ini jadi wadah latihan sekaligus berekspresi bagi anak-anak muda kita,” kata Eko.

Dalam Fatmawati Trophy, Sarah membawa rancangan “Sumbu Kartika” yang dibangun dari tiga elemen filosofi, yakni Akar, Nyala, dan Cahaya.

Konsep tersebut kemudian dipadukan dengan Batik Nitik, warisan budaya yang berkembang sejak abad ke-18 dan telah menjadi indikasi geografis khas DI Yogyakarta.

Peserta Fatmawati Trophy Regional 7 Jawa Tengah & DIY. Foto: Dok. Istimewa

Sarah mengatakan proses persiapan rancangan tersebut berlangsung sekitar satu bulan. Motif yang digunakannya dirancang menyerupai pantulan cahaya sebagai representasi sosok Fatmawati, kemudian dipadukan dengan karakter titik-titik pada Batik Nitik.

“Persiapannya cukup singkat, sekitar satu bulan. Motif saya buat seperti pantulan cahaya, merepresentasikan sosok Ibu Fatmawati. Dipadukan dengan Batik Nitik, menggunakan teknik titik-titik khas Yogya,” ujar Sarah.

Karya Sarah diperagakan sejumlah model muda, salah satunya Desvi Erinda. Ia berharap waktu yang tersisa menjelang final nasional pada Oktober dapat dimanfaatkan untuk menyempurnakan rancangan sehingga mampu bersaing dengan karya-karya terbaik dari daerah lain.

“Semoga di waktu yang ada menjelang Oktober nanti, Mbak Sarah bisa merevisi dan menyempurnakan detail desainnya agar kita bisa memberikan hasil terbaik dan menang di tingkat nasional,” kata Desvi.

Keberhasilan Sarah menuju final nasional sekaligus menjadi momentum untuk mempertemukan potensi anak muda dengan kekayaan budaya lokal Yogyakarta.

Pendampingan yang berkelanjutan diharapkan tidak berhenti pada kompetisi, tetapi ikut membuka peluang bagi generasi muda untuk tumbuh dalam ekosistem industri kreatif daerah.