Konten dari Pengguna

Hari Raya Kurban Makin Dekat tapi Pelapak Kambing Belum Bisa Tersenyum

Pandangan Jogja Com

Pandangan Jogja Comverified-green

email: pandanganjogja@gmail.com

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pandangan Jogja Com tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kambing kurban jualan Kirjan di pinggiran jalan Godean, Sleman, DIY. Foto: WIdi Erha Pradana.
zoom-in-whitePerbesar
Kambing kurban jualan Kirjan di pinggiran jalan Godean, Sleman, DIY. Foto: WIdi Erha Pradana.

Sudah hampir dua pekan Kirjan membuka lapak kambing di pinggir jalan di daerah Godean, Sleman, Yogyakarta. Sudah 14 ekor kambing gembel berhasil dia jual dari kisaran harga Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Tapi itu masih jauh lebih kecil ketimbang tahun-tahun sebelumnya sebelum adanya pandemi.

“Biasanya (terjual) 50-an ekor,” ujar Kirjan, kemarin.

Hari raya Idul Adha sudah semakin dekat. Namun kambing-kambing yang dia jual masih banyak yang belum terjual. Biasanya, saat-saat seperti inilah pembeli paling banyak datang. Siang itu, ada sekitar 30 ekor kambing yang berada di lapaknya. Tapi Kirjan maklum, dia menyadari bahwa perekonomian memang sedang kurang sehat karena gempuran pandemi.

Kambing-kambing yang dia jual hanya sebagian yang miliknya sendiri. Sementara sisanya merupakan titipan dari teman-temannya yang juga punya peternakan. Untuk harga, ukuran dan gemuk tidaknya kambing menjadi indikator paling penting.

“Tanduknya juga pengaruh, kalau ada tanduknya, apalagi panjang, harganya lebih mahal,” lanjutnya.

Purwanto belum lama membuka lapak kambing di tepi jalan seperti Kirjan. Baru tiga hari ini dia membuka lapak, dan baru seekor yang berhasil dia jual dengan harga Rp 3,1 juta. Tahun-tahun sebelumnya dia sudah membuka lapak jauh-jauh hari sebelum hari raya Idul Adha. Namun setelah membaca situasi yang kurang menguntungkan karena pandemi, dia memilih untuk membuka lapaknya ketika sudah mendekati hari raya saja.

Jumlah kambing yang dia bawa juga tidak sebanyak biasanya, hanya ada belasan kambing di lapaknya. Padahal tahun kemarin dia berhasil menjual 20 ekor kambing untuk qurban.

“Paling mahal yang besar itu, yang kambing Jawa, Rp 5,5 juta. Kalau yang paling murah yang gembel paling kecil ini, Rp 2,5 juta,” ujar Purwanto.

Tidak Asal Bawa Kambing ke Pinggir Jalan

Kirjan menawarkan kambing dagangannya kepada seorang calon pembeli. Foto: Widi Erha Pradana.

Di lahan sekitar 50 meter persegi itu, Kirjan membuat sepetak kandang untuk kambing-kambingnya. Sudah sepuluh tahun lebih dia membuka lapak kambing di tempat itu setiap menjelang Idul Adha. Selain karena dia kenal dan telah mendapat izin dari pemilik lahan untuk membuka lapak kambing di lokasi itu, jalan di sekitarnya juga cukup ramai dilewati orang.

“Apalagi dekat masjid besar, jadi banyak yang qurban di masjid itu beli kambing ke saya,” ujar Kirjan.

Sejauh ini, Kirjan mengandalkan jaringan yang sudah lama dia bangun. Karena setiap tahun selalu membuka lapak di tempat yang sama, lama-lama Kirjan mempunyai pelanggan setia.

“Ada yang memang setiap tahun langganan di sini, ada juga pembeli-pembeli baru,” lanjutnya.

Model bisnisnya Kirjan juga mengandalkan jaringan kawan-kawan peternak lainnya. Karena kambing yang dia punya belum cukup untuk memenuhi permintaan, Kirjan juga menjualkan kambing-kambing temannya yang kelebihan stok. Soal keuntungan, Kirjan biasanya mendapat 60 persen dari keuntungan, sedangkan sisanya menjadi hak si pemilik kambing.

“Kan saya juga harus bayar temen-temen yang mencarikan rumput juga, mas,” ujarnya.

Berbeda dengan Kirjan, semua kambing yang dijual Purwanto adalah miliknya sendiri. Di rumahnya dia memang punya peternakan sendiri, sehingga tidak perlu menjualkan kambing milik orang lain. Dan sudah tiga tahun terakhir, dia selalu membuka lapak kambing di tempat yang sama setiap Idul Adha.

“Karena istri saya orang sini, terus lumayan ramai juga kan jalannya,” ujar Purwanto.

Biasanya, ketika tidak sedang musim Qurban, dia menjualnya ke pasar-pasar hewan di area Yogyakarta. Selain itu, dia juga menyuplai kebutuhan para pemilik usaha kuliner seperti sate, tongseng, dan olahan-olahan daging kambing lainnya.

“Biasanya memang paling menguntungkan momen Qurban ini, tapi karena corona mungkin jadi menurun ya,” ujarnya.

Kelas Menengah Jadi Pelanggan Utama

Purwanto pelapak kambing di Jalan Gdoean, Sleman, DIY.

Para pembeli kambing tidak hanya datang dari daerah Godean saja. Beberapa juga ada yang datang dari Kota Jogja dan wilayah-wilayah lain. Dari segi ekonomi juga bermacam, dari kalangan menengah ke bawah, sampai kalangan atas.

“Qurban itu kan sebenarnya masalah niat mas, jadi kalangan menengah ke bawah juga banyak yang beli asal memang sudah niat. Tapi kebanyakan ya menengah,” ujar Kirjan.

Hal serupa juga dikatakan Purwanto. Pembeli kambing di lapaknya juga datang dari berbagai kalangan ekonomi. Menurut dia, orang berqurban itu kaitannya dengan niat, sementara keadaan ekonomi tidak terlalu berpengaruh.

“Enggak jamin juga (ekonomi), kalau kaya tapi enggak ada niat buat qurban yang enggak qurban juga mas,” ujar Purwanto.

Purwanto juga berbagi tips, bagaimana memilih kambing terbaik untuk qurban. Selain gemuk, kesehatan juga menjadi faktor terpenting dalam memilih kambing qurban. Untuk mengetahui seekor kambing sehat atau tidak juga tidak terlalu sulit dan bisa dilihat secara kasat mata.

Kambing yang sehat memiliki sorot mata yang tajam dan cerah. Selain itu, jika dipegang bulunya juga cenderung lembab, tidak kering.

“Terus dia (kambing) itu aktif, sama nafsu makannya bagus,” ujar Purwanto menjelaskan.

Purwanto berharap besok bisa tersenyum lebar seperti senyum kambing terbaik yang ia punya.

"Soalnya besok hari terakhir semoga laris. Sekarang belum bisa senyum," pungkas Purwanto. (Widi Erha Prada / YK-1)