Konten dari Pengguna

Hewan Kesayangan Mati, Kesempatan Terbaik Bicara Kematian dengan Anak

Pandangan Jogja Com

Pandangan Jogja Comverified-green

email: pandanganjogja@gmail.com

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pandangan Jogja Com tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kucing mati. Foto : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kucing mati. Foto : Pixabay

“Upi kucing kami mati. Anak-anak menangis dan berduka selama beberapa minggu. Mereka sangat sedih karena Upi adalah teman bermain mereka selama ini. Bahkan kadang kucing itu tidur bersama mereka.”

“Anak kami sedih sekali ketika pagi hari menemukan ikan mas koki kesayangannya mengambang di permukaan akuarium. Sambil menangis ia bertanya, Bu ikanku kenapa kok tidurnya begitu? Kok enggak berenang lagi?”

Demikian cerita orang tua yang anaknya sedih karena ditinggal mati hewan kesayangannya.

Hewan peliharaan membawa banyak kegembiraan dan cinta kepada anak-anak. Dari kucing, ikan mas koki, hingga anjing, anak-anak belajar hal penting tentang pengasuhan dan tanggung jawab dari memelihara hewan peliharaan di rumah. Namun, hari itu tiba-tiba datang ketika hewan peliharaan tercinta mati.

Apa yang harus dikatakan orang tua ketika hewan peliharaan anak-anak benar-benar mati? Haruskah Anda memberi tahu anak anda bahwa ikannya mati atau diam-diam menggantinya dengan ikan baru?

Pada usia 4 tahun, anak-anak mulai dapat memahami cerita kematian. Namun, setiap anak berbeda dan penting untuk mempertimbangkan perkembangan sosial dan kemampuan kognitif anak Anda ketika menyajikan topik kematian dalam percakapan.

Anne C. Frazier, Psikolog dan Konselor Profesional di South Carolina, Amerika Serikat, memiliki beberapa saran yang berinti bahwa kehilangan hewan peliharaan memberi orang tua kesempatan penting untuk belajar bersama anak.

Orang tua harus selalu bersikap jujur

Seperti dalam kasus kematian ikan mas koki tadi, meskipun jika Anda memilih untuk menyiramnya di toilet dan mengganti dengan ikan yang baru, Anda bukan orang tua yang buruk. Hanya saja Anda kehilangan peluang dan kesempatan untuk melakukan percakapan penting tentang bagian dari kehidupan yang tak terhindarkan: kematian.

Anda bisa katakan ini, “mama sedih memberi tahumu bahwa kucing kita mati. Jantungnya berhenti berdetak dan paru-parunya berhenti bernapas. Tubuhnya tidak berfungsi lagi."

Gunakan bahasa yang jelas dan mudah dimengerti anak.

Singkirkan ketidaknyamanan Anda sendiri

Pilih untuk berempati dan tidak menyelamatkan mereka keluar dari kesedihan itu terlalu cepat. Sebaliknya ciptakanlah ruang dan waktu yang nyaman bagi anak untuk benar-benar merasakan emosi itu. Anda akan mengajari anak Anda pelajaran yang lebih besar dalam proses itu, bahwa kematian adalah bagian kehidupan yang tak terhindarkan. Tidak masalah apakah itu hewan peliharaan atau bahkan kakek-nenek kita. Orang tua sebaiknya menyediakan ruang dan waktu untuk reaksi apa pun yang mungkin dilakukan anak.

Anak-anak perlu melihat sisi kemanusiaan kita

Ini mengingatkan mereka untuk lebih menerima dan mencintai mereka sendiri. Selain itu juga memungkinkan mereka untuk mempraktikkan ekspresi emosi yang otentik. Anggapan bahwa orang yang kuat adalah yang dapat menjaga emosi tetap tersimpan di dalam diri mereka alias tidak mengangis, itu tidaklah sehat. Jika kita sedih, menangislah.

Berikan ruang

Berikan ruang yang aman dan penuh kasih bagi seorang anak untuk mengekspresikan kesedihan, kemarahan, atau kebingungan tentang kematian. Beberapa anak akan memiliki pertanyaan dan tidak masalah untuk tidak memiliki semua jawaban. Berikan pelukan lembut, katakan, “mama juga sedih ikan itu mati,” dan membantu anak Anda mengingat peliharaan mereka sangat penting.

Minimalkan semua harapan

Dengan itu, menurut Frazier berarti bahwa orang tua harus siap bahwa beberapa anak mungkin memiliki reaksi beragam terhadap kematian hewan peliharaannya. Ada yang terkejut sedikit, ada pula yang menangis berhari-hari.

Pastikan kita sanggup melakukannya

Perlu kesadaran akan perasaan Anda sendiri atas apa yang terjadi. Bicaralah dengan pasangan atau sahabat anda, bahwa Anda adalah orang tua yang baik, mampu menciptakan ruang yang aman untuk percakapan yang berpotensi emosional tentang bagian kehidupan yang tak terhindarkan, yaitu kematian.

Jadikan sebagai perpisahan yang indah

Frazier menyarankan agar kita meminta anak-anak untuk masing-masing mengatakan sesuatu yang istimewa tentang hewan peliharaan mereka dan memungkinkan mereka untuk mengucapkan selamat tinggal. Mereka bisa menulis atau menggambar sesuatu lalu mengubur kertas itu bersama peliharaan yang mati dengan bantuan Anda.

Meskipun ini bukan hal yang mudah, tapi mengucapkan, "Selamat tinggal itu penting," demikian ujar Frazier. (Maya Puspitasari / YK-1)