Lalu Muhamad Iqbal: MotoGP Bukan Tujuan Utama, Ini Momentum bagi NTB

MotoGP Mandalika akan kembali digelar di Pertamina Mandalika International Circuit, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 9–11 Oktober 2026. Namun, bagi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, dampak Mandalika tidak cukup dilihat dari jumlah penonton atau perputaran uang selama balapan.
Iqbal melihat MotoGP sebagai momentum untuk membangun ekosistem yang lebih besar. Mulai dari tumbuhnya sport tourism, masuknya investor, konektivitas penerbangan internasional, hingga pengembangan quality tourism di berbagai destinasi NTB.
Menjelang MotoGP Mandalika 2026, Pandangan Jogja berbincang dengan Lalu Muhamad Iqbal dalam sebuah kesempatan di Yogyakarta pada pekan terakhir September mengenai dampak Mandalika bagi NTB dan arah pengembangan pariwisata provinsi tersebut.
Berikut petikan wawancaranya.
Kalau kita ingin menjelaskan kepada publik nasional, sebenarnya apa dampak MotoGP dan Mandalika bagi NTB?
MotoGP itu tidak terlalu relevan untuk dihitung berdasarkan nilai jumlah penonton, nilai uang. Karena bukan itu tujuan utamanya.
Tujuan utamanya adalah menciptakan kumparan-kumparan sport tourism di NTB. Kumparannya tercipta. Sekarang hampir tiap minggu, tiap dua minggu sekali di Mandalika itu selalu ada racing.
Yamaha racing, Suzuki racing, Honda racing. Tumbuh pembalap-pembalap lokal, sekolah muncul. Terus kemudian penyewaan garasi luxury. Sekarang sudah orang-orang kaya dari seluruh dunia mau naruh mobilnya di situ. Kapan pun dia datang, dia tinggal pakai di sirkuit.
Terus GT World. GT World itu salah satu event prestisius karena pembalapnya itu adalah si pemiliknya. Jadi hanya orang kaya yang bisa ikut GT World itu karena dia bawa mekanik sendiri dan sebagainya sendiri.
Nah, orang-orang ini kan investor. Punya kemampuan investasi. Dengan dia datang ke situ, dia lihat potensi, dia masuk.
(Rafael) Nadal sekarang mau bangun lapangan tenis di sana. Sudah mulai survei dan sebagainya.
Jadi yang kita butuhkan itu momentum. Momentum-momentumnya. Jadi tidak terlalu relevan untuk menghitungnya sebenarnya dari angka. Karena dia menciptakan dampak yang lebih luas buat masyarakat.
Bagaimana kolaborasi Pemprov NTB dengan pemerintah pusat dan InJourney dalam mengembangkan Mandalika?
Kawasan itu kan yang bangun miliknya InJourney. Milik InJourney di kawasan itu dan InJourney sebagai penyelenggara melalui MGPA.
Alhamdulillah menurut pengakuan InJourney, dalam dua tahun terakhir ini kerja sama kita sangat dekat. Karena kita juga sama cara pandang. Ini bukan tujuan utamanya, ini trigger-nya, ini adalah momentumnya.
Kita menciptakan momentumnya. Karena itu kita sudah berencana sama-sama akan mengembangkan airport. Airport yang di Lombok akan dikembangkan, salah satu prioritas untuk dikembangkan.
Kita sama-sama dorong penerbangan internasional untuk masuk, penerbangan langsung, lebih banyak penerbangan langsung.
Sekarang kita sedang menjajaki, mudah-mudahan di akhir tahun baru bisa jalan karena ada isu politisnya, buka penerbangan langsung Lombok-Darwin, Lombok-Perth, Lombok-Melbourne.
Di samping yang sudah ada sekarang Malaysia sama Singapura. Kita lagi jajaki juga Bangkok.
Kita lagi bahas dengan Kementerian Perhubungan untuk fifth freedom. Sehingga pesawat-pesawat long haul dari Turkish Airlines, dari Istanbul menuju Australia, dia bisa mampir di Lombok, kemudian baru terbang ke Australia.
Tapi boleh menurunkan dan menaikkan penumpang di Lombok.
Turkish Airlines itu ingin mencari tempat transit. Dengan kita sekarang menawarkan Lombok sebagai tempatnya. Lombok itu salah satu daerah paling selatan sebelum ke Australia. Kami kan berbatasan dengan Australia.
Pengalaman Anda sebagai diplomat berpengaruh dalam mengeksekusi konektivitas ini?
(Lalu Muhamad Iqbal merupakan diplomat karier yang bergabung dengan Kementerian Luar Negeri sejak 1998. Ia pernah ditempatkan di Rumania, Austria, dan Turki, serta menjalankan tugas singkat ke 72 negara. Iqbal terakhir menjabat Duta Besar RI untuk Turki pada 2019–2023—red.)
Lah iya. Itu gunanya pulang setelah besar di luar itu. Gunanya untuk membawa pengalaman pulang. Kalau daerah itu mau dikembangkan, spektrumnya enggak bisa lagi nasional. Apalagi pariwisata. Pariwisata ini urusannya global, urusan internasional.
Jadi kita harus memahami anatomi dari pariwisata internasional. Bahwa itu ada soal transportasi. Soal transportasi itu terkait dengan soal regulasi, terkait dengan model bisnis, terkait dengan soal pasar. Itu kita harus pahami.
Selain penerbangan internasional, Anda kabarnya juga menyiapkan seaplane?
Didorong oleh kebutuhan di MotoGP dan Mandalika ini, insyaallah mulai akhir tahun ini, mudah-mudahan sebelum MotoGP, bisa mulai seaplane. Seaplane, jadi pesawat amfibi.
Jadi nanti ada danau di belakang airport itu kita pakai sebagai water base. Jadi orang-orang kaya itu mendarat di situ, pindah ke situ, langsung dibawa ke pulau.
Pesawat ini memang targetnya ke situ karena kami kan punya 400 pulau di NTB itu. Jadi kita sudah mulai memikirkan moda transportasi yang kalau kita mau mengarah kepada quality tourism.
Apa yang dimaksud quality tourism?
Kita kan enggak mau mengarah seperti Bali. Kami enggak tertarik, kami maunya quality tourism.
Kalau quality tourism artinya harus kita bangun resort-resort yang lebih private di pulau-pulau dan sebagainya. Artinya kita harus siapkan moda untuk mereka bisa ke situ tanpa harus bersusah payah naik kapal, naik mobil, jadi ya Seaplane tadi.
Sekarang insyaallah sudah mulai beroperasi. Tahun ini insyaallah beroperasi. Targetnya masih sebelum MotoGP, kalau enggak ya akhir tahun mulai beroperasi.
Kemarin saya sudah komunikasi sama Menteri Perhubungan, juga akan keluarkan izin sementara. Izin sementara dulu. Pesawatnya sudah di sini dua, dari target empat. Di awal dua sudah di sini.
Berapa kapasitas pesawatnya?
Bisa 18 penumpang. Tapi kalau untuk barang jadi 14 penumpang. Jadi belakang bisa dipakai buat, biasanya kan orang bawa papan selancar dan sebagainya.
Bagaimana karakter wisatawan dan lama tinggal wisatawan di NTB saat ini?
Sekarang ini length of stay masih di 1,9 hari.
Kami ini punya dua karakter pariwisata. Kalau dari perspektif hotel, hotel itu ada yang di kota, itu sebenarnya bisnis hotel, sama di resort.
Kalau kita campur antara resort sama kota itu 1,9.
Yang jadi bebannya ini kan di kota. Karena di kota sekarang okupansinya itu rendah sekali, 25–30, karena sebetulnya dia hidup dari aktivitas pemerintah selama ini. Pemerintahnya kan budget-nya turun untuk meeting, untuk ini.
Nah, resort, kalau resort itu sebenarnya sudah 90 persen. Cuma karena ketika dirata-ratakan jadinya turun sampai 50-an persen.
Sebetulnya kalau kita hitung resort saja, di Gili, di Senggigi, di Kuta itu enggak pernah enggak penuh. Penuh selalu, orang susah nyarinya.
Length of stay untuk wisatawan resort?
Target kita itu bisa sampai 2,5. Sekarang kalau di resort sudah di angka 2,5 kalau kita pisahkan. Tetapi karena masih dicampur datanya dengan yang lain, 1,8–1,9.
