Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mahasiswa AMIKOM Yogya Angkat Kisah Penghayat Kepercayaan lewat Film Dokumenter

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cuplikan film dokumenter Laku lan Lelaku karya mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Cuplikan film dokumenter Laku lan Lelaku karya mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta. Foto: Dok. Istimewa

Keberagaman budaya dan kepercayaan di Indonesia menjadi inspirasi bagi tim produksi Kitakita Media, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta angkatan 2022, dalam menciptakan film dokumenter berjudul Laku lan Lelaku.

Film ini diproduksi sebagai karya tugas akhir yang mengajak kita melihat penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Laku lan Lelaku, yang secara filosofis berarti perjalanan dan proses kehidupan, menghadirkan kisah tentang praktik spiritual, nilai budaya, serta perjalanan hidup para penghayat kepercayaan yang masih menjaga ajaran leluhur di tengah perkembangan masyarakat modern.

Melalui pendekatan dokumenter, film ini berupaya memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai keberadaan penghayat kepercayaan sebagai bagian dari keberagaman budaya Indonesia.

Dalam proses produksinya, tim Kitakita Media melakukan observasi langsung terhadap aktivitas para penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati di Kabupaten Wonosobo dan wawancara.

Cuplikan film dokumenter Laku lan Lelaku karya mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta. Foto: Dok. Istimewa

Film ini berdurasi 17 menit ini menceritakan kehidupan seorang penghayat kepercayaan bernama Sarno Kusnandar, ketua penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati yang membagikan pengalaman hidup, pandangan spiritual, serta nilai-nilai yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Penghayat kepercayaan sering dipersepsikan berbeda dengan orang lain dalam kehidupan sosial. Ini disebabkan oleh perbedaan mereka dalam praktik ibadah, adat istiadat, dan praktik spiritual lainnya. Akibatnya, mereka dianggap sebagai "praktik menyimpang" atau "sesat" yang bertentangan dengan syariat agama mereka.

Ini menunjukkan jarak sosial dalam komunitas. Sejumlah kasus menunjukkan masih adanya, pemaksaan identitas agama tertentu, serta stigma negatif terhadap kelompok penghayat kepercayaan yang dianggap berbeda dari kelompok mayoritas.

Di bidang pendidikan, penghayat kepercayaan masih belum mendapatkan hak yang sama dengan agama mayoritas. Para siswa di Wonosobo yang memeluk kepercayaan tidak memiliki hak untuk menerima pendidikan sesuai dengan keyakinannya sebelum Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 27 Tahun 2016 diberlakukan.

Akibatnya, banyak siswa yang memiliki keyakinan tertentu dipaksa memilih salah satu mata pelajaran agama resmi. Ini terjadi meskipun keputusan tersebut tidak sesuai dengan keyakinan keluarga mereka. Hal ini juga mengakibatkan penurunan jumlah penghayat kepercayaan.

Cuplikan film dokumenter Laku lan Lelaku karya mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta. Foto: Dok. Istimewa

“Pemilihan tema penghayat kepercayaan didasari oleh keinginan untuk menghadirkan karya audio visual yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga nilai edukatif dan sosial. Tim menilai bahwa keberadaan penghayat kepercayaan masih belum banyak dipahami oleh masyarakat luas, sehingga perlu diangkat melalui media yang mampu menjangkau berbagai kalangan,” ungkap perwakilan KitaKita Media.

Lewat film ini, mereka ingin menunjukkan bahwa penghayat kepercayaan merupakan bagian dari keberagaman budaya Indonesia yang memiliki nilai-nilai kehidupan, spiritualitas, dan kearifan lokal yang patut dihargai oleh masyarakat.

"Melalui penyajian visual yang humanis dan informatif, Laku lan Lelaku diharapkan dapat menjadi media edukasi bagi masyarakat sekaligus membuka ruang dialog mengenai pentingnya toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, serta pelestarian budaya lokal," lanjutnya.

Selain menjadi karya akademik, film dokumenter ini juga diharapkan dapat menjadi dokumentasi budaya yang memperkenalkan kehidupan penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati di Wonosobo kepada masyarakat yang lebih luas.