Konten dari Pengguna

Mengalami Hebatnya Pelajar Masa Lalu di Museum Pendidikan Indonesia

Pandangan Jogja Com

Pandangan Jogja Comverified-green

email: pandanganjogja@gmail.com

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pandangan Jogja Com tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Museum Pendidikan Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Foto oleh : Widi Erha
zoom-in-whitePerbesar
Museum Pendidikan Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Foto oleh : Widi Erha

Meja belajar di dalam kelas sudah disusun rapi. Meski tampak tua dan kusam, namun meja yang menjadi satu dengan bangku itu ternyata masih sangat kuat. Kayunya masih kokoh, meski sudah lebih dari setengah abad lalu dibuat. Meja-meja belajar di dalam kelas itu buatan tahun 1960-an.

Tak seperti meja-meja kelas sekarang yang permukaannya datar, di kelas itu permukaan meja dibuat sedikit miring dengan lubang berdiameter 5 cm di tengahnya.

“Ini untuk tempat tinta,” kata Indri Prasetyawati, Edukator di Museum Pendidikan Indonesia menjelaskan fungsi lubang kecil itu.

Banyak yang tak tahu fungsi lubang itu kata Indri. Setiap yang berkunjung, biasanya mengira lubang itu tempat menyimpan pensil. Bahkan ada yang menyangka tempat untuk membuang sampah, sebab jika memasukkan apa pun ke dalamnya akan langsung masuk ke dalam laci meja.

Indri menilai wajar jika banyak yang tak tahu fungsi lubang itu, mengingat sekarang meja-meja seperti itu hampir sudah tidak digunakan lagi. Selain lubang tempat tinta, di permukaan meja juga ada guratan kecil memanjang yang berfungsi untuk meletakkan pena. Desain yang sederhana, tapi menurut Indri desain-desain kecil itu sangat berguna pada masanya.

Tak ada dinding beton, hanya anyaman-anyaman bambu yang mengelilingi ruang kelas. Di depan kelas, papan tulis hitam terpasang rapi. Untuk menulis di papan itu harus menggunakan kapur, tak bisa menggunakan spidol. Untuk generasi 90-an, kemungkinan pernah mengalami sulitnya menulis di papan itu.

Meja berlubang sebagai tempat tinta. Foto oleh : Widi Erha

Saya jadi ingat saat masih SD sering menulis di papan itu, setelah menulis pasti mata saya merah dan berair karena kemasukan serpihan-serpihan kapur yang beterbangan. Kepala saya juga pernah kena lemparan kapur Pak Guru karena saya asyik ngobrol dengan teman sebelah saat guru sedang menjelaskan materi.

“Kalau sekarang kan medianya sudah berkembang, papan tulis hampir nggak kepakai karena sudah bisa pakai proyektor sehingga memungkinkan untuk student center,” kata Indri memecah lamunan saya.

Secara penataan, ruang kelas pada zaman dulu memang menjadikan guru sebagai pusat pembelajaran atau teacher center. Itulah yang menurut Indri menjadi perbedaan paling mendasar antara konsep kelas lama dengan kelas yang ada sekarang.

Di ruang kelas lama, posisi tempat duduk ditata sedemikian rupa hingga perhatian tertuju sepenuhnya kepada guru. Sekarang, seiring berkembangnya teori tentang model pembelajaran, kelas tidak lagi dikonsep teacher center, justru siswalah yang menjadi pusat pembelajaran.

“Jadi sekarang ada komunikasi dua arah antara guru dan siswa,” kata Indri.

Perjuangan Menulis di Daun Lontar

Foto oleh : Widi Erha

Indri Prasetyawati, 28 tahun, sangat antusias menemani saya menyusuri lorong-lorong Museum Pendidikan Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dia sangat bersemangat menceritakan setiap koleksi museum yang kami lewati. Nyaris tak ada pengunjung museum siang itu, hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang sibuk dengan laptopnya masing-masing di taman museum.

Koleksi pertama yang kami lewati adalah dua buah sepeda tua yang berada tepat di depan pintu menuju ruang koleksi. Sepeda itu adalah jenis sepeda Hummber buatan Inggris yang dipakai sebagai alat transportasi utama guru pada era 1980-an.

Kami terhenti di sebuah lemari kaca yang berisi koleksi alat tulis dari masa ke masa. Indri menceritakan bagaimana ratusan tahun silam orang-orang menulis. Pada masa Hindu Budha Islam berkembang di Indonesia, media tulis menulis yang digunakan adalah daun lontar.

“Pada waktu itu kan belum ditemukan kertas. Nah media tulisnya mereka menggunakan daun lontar,” ujar Indri.

Salah satu naskah daun lontar paling tua yang ditemukan adalah naskah Arjunawiwaha yang ditemukan di daerah Jawa Barat sekitar tahun 1334 Masehi.

Menulis di daun lontar tak semudah menulis di atas kertas, sulit dan lama, butuh waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan sebuah naskah di daun lontar. Pertama, daun lontar dipilih yang kualitasnya terbaik; tidak terlalu muda ataupun tua.

Daun lontar pilihan itu lalu direndam dengan air mengalir selama tiga bulan lebih untuk menghilangkan serat-serat di permukaannya. Daun lontar yang sudah direndam ini kemudian digosok sampai halus sebelum melalui proses perendaman yang kedua.

Perendaman yang kedua itu menggunakan air rempah-rempah,” kata Indri.

Sayangnya ramuan rempah-rempah yang digunakan tidak diketahui pasti bahannya apa saja, sebab kata Indri literatur yang ada sangat terbatas. Setelah melalui proses perendaman kedua, daun lontar kemudian ditiriskan untuk selanjutnya di-press.

“Jadi prosesnya itu ribet sekali,” ujar Indri.

Setelah melalui proses panjang itu, baru daun lontar dapat ditulis menggunakan pengrupak atau pisau tulis. Jadi, menulis menggunakan medium daun lontar ini seperti mengukir. Supaya goresan yang tertiggal di daun lontar berwarna hitam, orang zaman dulu menggunakan kemiri yang disangrai dan digosokkan ke permukaan daun lontar yang diukir tadi.

“Jadi celah-celah tadi kemasukan sangrai kemiri itu, jadi bisa hitam seperti ini,” kata Indri sembari menunjuk naskah daun lontar yang ada di dalam lemari kaca.

Sampai sekarang, salah satu yang masih menggunakan daun lontar sebagai media tulis adalah masyarakat Bali. Namun fungsinya sudah berganti menjadi kesenian seperti menuliskan cerita-cerita pewayangan.

Pena Bulu Angsa dan Tinta Beras Hitam

Pena bulu angsa dan tinta yang terbuat dari beras ketan hitam. Foto oleh : Widi Erha

Seiring berkembangnya zaman, ditemukanlah kertas sebagai medium tulis menulis. Dengan ditemukannya kertas, otomatis pisau tulis tak bisa lagi digunakan. Orang-orang zaman dulu kemudian mengganti pisau tulis dengan pena bulu angsa.

“Pena bulu angsa ini mulai populer pada kerajaan Islam. Jadi santri-santri di pondok pesantren banyak menggunakan ini (pena bulu angsa),” jelas Indri.

Tinta yang digunakan bukan tinta yang banyak digunakan sekarang ini. Para santri biasa membuat tinta sendiri menggunakan ketan hitam yang disangrai. Setelah disangrai, beras ketan hitam lalu ditumbuk sampai halus dan dicampur menggunakan minyak-minyakan.

Namun tulisan yang dihasilkan dari pena bulu angsa ini kurang rapi, karena tinta yang dipakai kerap kali tercecer di permukaan kertas. Selain itu, ujung pena bulu angsa yang tajam juga kerap membuat kertas rusak, hingga ditemukanlah pensil dan pena seperti yang sekarang kita gunakan.

Sabak Bikin Ingatan Orang Zaman Dulu Lebih Kuat

Ruang kelas di masa lalu. Foto oleh : Widi Erha

Meski sudah ditemukan kertas, di era penjajahan Belanda hingga tahun 1970-an, siswa sekolah di Indonesia masih banyak yang menggunakan sabak sebagai medium tulis. Sabak ini berbentuk seperti papan tulis namun dengan bentuk yang lebih mini. Bahkan, di era 1960-an, sabak menjadi alat tulis yang wajib dimiliki oleh siswa.

“Permukaan sabak ini dibuat dari batu-batuan endapan atau sedimen,” ujar Indri.

Untuk menulis di permukaan sabak, siswa zaman dulu menggunakan grip; mirip pensil namun terbuat dari batuan juga. Alasan siswa masih menggunakan sabak menurut Indri karena dinilai lebih ekonomis dan awet, berbeda dengan kertas yang hanya sekali pakai.

Setelah ditulis, sabak dapat dibersihkan lagi menggunakan kain basah atau dedaunan. Kelemahannya, karena setelah dipakai harus dibersihkan lagi, materi yang sudah ditulis tidak bisa disimpan seperti kita menyimpan buku tulis. Sehingga siswa harus benar-benar memahami betul apa yang dia tulis sebelum menghapusnya.

“Makanya orang-orang dulu kan terkenal punya ingatan yang kuat. Jadi sekali ada pelajaran, dia hafal, ya sudah dihapus,” ujarnya.

Mendengar cerita Indri, saya merasa sangat beruntung hidup di zaman sekarang yang tak perlu membawa sabak ketika berangkat sekolah atau kuliah. Saya tinggal memotret materi yang ditampilkan dosen melalui proyektor lalu membukanya kembali menjelang ujian.

Saya juga merasa sangat bersyukur karena tidak perlu memakai daun lontar dan pisau tulis untuk membuat tulisan ini, sehingga tidak butuh waktu berbulan-bulan hingga artikel ini bisa diterbitkan.

Tapi, di tengah segala kemudahan ini, adakah saya sudah belajar sebagaimana mestinya? Saya pura-pura saja tidak pernah terbersit pertanyaan itu. (Widi Erha Pradana / YK-1)