Merdeka Bersama Mbah Doel Wahab, Legenda Barongsai Jogja yang Sukarnois Sejati

email: pandanganjogja@gmail.com
Tulisan dari Pandangan Jogja Com tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di ruangan seluas tiga meter persegi itu, Mbah Doel sedang merebahkan dirinya di sebuah dipan. Televisi di sudut ruangan itu menyala, terus meneriakkan iklan demi iklan dengan volume tinggi. Di dinding ruangan itu terpampang foto-fotonya mengenakan seragam silat berwarna kuning dalam bingkai berukuran A3.
Sekuat tenaga, dia bangun dari bantal dan kasur dengan sprei kuning yang sederhana, teramat sederhana bagi seorang yang sudah mengharumkan nama negara di dunia internasional. Dia adalah Martinus Abdoel Wahab, seorang pesilat, pembuat barongsai, juga sukarnois garis keras.
“Saya nasionalis, PNI. Sukarnois, dari dulu sampai sekarang,” kata Mbah Doel, begitu warga setempat kerap memanggilnya, Senin (17/8).
Bagi Mbah Doel, Sukarno adalah sosok pemimpin yang sangat berwibawa dan tegas. Meski sudah enam kali ganti presiden, tapi belum ada satupun sosok yang bisa menggantikan Sukarno di hatinya. Memang, di masa itu lebih banyak rakyat yang kelaparan ketimbang sekarang. Tapi menurutnya, rakyat saat itu diajari dan disadarkan untuk hidup secara mandiri.
“Pak Karno itu, nuwun sewu, sampai sekarang belum ada gantinya,” lanjutnya dengan suara terbata.
Dulu, dia punya foto Sukarno berukuran besar yang dipajang di ruang tamu. Tapi sekarang foto-foto Sukarno sudah habis, dibawa oleh anak-anaknya semua yang juga pengagum Sukarno. Ketika melihat Sukarno, meski hanya melalui gambar, dia selalu terngiang pidato-pidato Bung Besar itu. Mbah Doel langsung teringat berbagai pesan yang pernah dilontarkan oleh Sukarno, terutama ‘berdiri di atas kaki sendiri’ atau berdikari.
“Harusnya negara itu begitu, bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Punya harga diri juga, tidak diinjak-injak oleh bangsa lain,” ujarnya.
Tapi selepas kekuasaan orde baru bercokol, menggantikan Sukarno yang telah berkuasa selama 22 tahun, Mbah Doel nyaris tidak pernah ikut-ikutan politik lagi. Pemikiran-pemikiran Sukarnoisme, dia simpan di pikiran, mentok di meja makan keluarga. Mengingat rezim yang saat itu baru berkuasa tidak terlalu aman bagi para simpatisan Sukarno.
“Apalagi saya Dulu kan PNS mas di (Dinas) P&K (Pendidikan dan Kebudayaan DIY). Tahu sendiri kan, PNS itu seperti apa. Apalagi waktu zamannya Pak Harto,” lanjutnya.
Ya, Mbah Doel adalah pensiunan PNS golongan II di Dinas P&K Provinsi DIY, tepatnya di bidang pengembangan pencak silat. Dia diangkat menjadi pegawai negeri saat Sukarno masih berkuasa pada 1955 sampai dan baru pensiun 37 tahun setelahnya. Saat itu, PNS belum banyak diminati orang karena gajinya yang kecil. Tidak seperti sekarang, yang menurutnya PNS telah dimanjakan dengan berbagai fasilitas dan berbagai tunjangan.
Dia juga pernah diminta untuk membantu mengajar di sebuah sekolah olahraga di Yogyakarta oleh Mohamad Jumali, yang kemudian menjadi salah seorang pendiri Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Tapi dia selalu menolak ketika diminta untuk menjadi pengajar tetap.
“Saya tidak pernah daftar, tapi saya diangkat jadi pegawai negeri waktu itu,” ujar Mbah Doel.
Dikirim Sebagai Duta Kesenian ke Eropa Timur
Salah satu momen yang tidak pernah Mbah Doel lupakan dalam hidupnya adalah ketika dia dan 40 orang lainnya dikirim ke Eropa Timur oleh Sukarno sebagai duta kesenian Indonesia. Dari 41 orang, ada empat orang yang ditugaskan untuk mengenalkan pencak silat ke dunia internasional, mereka adalah Mbah Doel, Rosidi, dan Jumali yang sama-sama dari Yogyakarta, serta Suhada dari Bandung.
Mbah Doel bahkan masih ingat betul, hari dia berangkat keliling Eropa untuk mengenalkan pencak silat ke dunia internasional: 29 Agustus 1957. Dalam tur itu, mereka menyambangi sejumlah negara di antaranya Cekoslovakia, Hongaria, Polandia, Rusia, serta Mesir, satu-satunya negara Asia yang dikunjungi. Selama 3,5 bulan Mbah Doel dan 40 orang lainnya tampil dari satu negara ke negara lain.
“Paling berkesan itu waktu di Rusia, karena saya diminta untuk tampil dua kali. Jadi habis tampil, saya diminta untuk tampil lagi di lokasi yang berbeda,” ujar Mbah Doel.
Sejak kecil, Mbah Doel memang sudah tertarik dengan pencak silat. Bahkan dia sampai memilih untuk tidak melanjutkan sekolahnya ketika masih duduk di bangku SMP untuk belajar dan mendalami bela diri ini. Ridwan adalah guru pencak silat pertamanya, yang kemudian membuat namanya dikenal sebagai seorang pencak silat andal.
“Nuwun sewu, sejak kecil saya memang sudah suka sama pencak silat, saya mulai belajar silat itu sejak usia 7 tahun sama Pak Ridwan, guru pertama saya,” lanjutnya.
Pulang dari misi pengenalan pencak silat ke dunia internasional yang berjalan sukses, Mbah Doel lagi-lagi mendapatkan kabar gembira. Sampai di rumahnya di Kampung Kemetiran KiDoel, Kelurahan Pringgokusuman, Gedong Tengen, Yogyakarta, istrinya yang ketika ditinggal memang sedang mengandung melahirkan anak pertama mereka beberapa hari selepas Mbah Doel pulang.
“Waktu itu kebahagiaan yang saya rasakan bertubi-tubi, karena waktu saya pulang, istri saya melahirkan anak pertama,” ujar Mbah Doel.
Banting Setir Menjadi Pembuat Barongsai
Selepas pensiun sebagai PNS pada 1992, Mbah Doel Wahab mulai serius menggeluti dunia barongsai yang sebenarnya sudah dekat dengannya sejak kecil. Selain berlatih pencak silat, dia juga sempat berguru bela diri kepada seorang pendekar tionghoa di Yogyakarta. Dari situlah dia mulai mengenal Barongsai.
Barongsai dan pencak silat menurutnya tidak bisa dipisahkan. Keduanya punya ikatan yang kuat, karena untuk bisa memainkan barongsai menurutnya seseorang harus bisa melakukan gerakan-gerakan silat.
“Kalau disuruh milih barongsai atau silat ndak bisa ya, karena itu saling terikat,” ujar Mbah Doel.
Saat itu, dia adalah orang asli Indonesia pertama di Yogyakarta yang membuat barongsai dan liong. Hingga kemudian dia dikenal sebagai pembuat barongsai ulung di Yogyakarta. Topeng-topeng barongsai dan liong yang dia buat, selalu ludes terjual, terutama ketika menjelang hari raya Imlek.
Tak hanya membuat barongsai, Mbah Doel juga pernah menjadi pemain barongsai meski tidak lama karena usianya makin menua. Dia bahkan mendirikan sebuah sanggar untuk berlatih barongsai yang dinamai Isakuiki. Di sana, dia menjadi pelatih anak-anak muda yang ingin belajar memainkan barongsai.
“Tapi sekarang kan saya sudah tua, jadi sekarang dilanjutkan sama anak saya,” lanjut Mbah Doel yang memiliki enam orang anak.
Hingga kini, masih banyak yang ingin membeli topeng-topeng barongsai dan liong buatannya. Bisnis ini menurutnya cukup menjanjikan, karena untuk membuat topeng liong atau barongsai sebenarnya bukan persoalan yang sulit. Apalagi di rumahnya dia sudah punya banyak cetakan, yang sudah beberapa bulan ini hanya dia anggurkan di dalam gudang.
“Tapi saya enggak mau kalau tujuannya cuman nyari uang, saya bikin barongsai itu ya kalau saya pengin bikin saja. Uang dari pensiunan juga masih cukup kok,” kata ujarnya.
Memaknai Kemerdekaan di Tengah Pandemi
Karena usia yang terus bertambah, beberapa bulan ini Mbah Doel lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah: berbaring menonton televisi, mendengarkan radio, serta beberapa kali membuat topeng ketika fisiknya sedang prima. Pada 2 November tahun ini, usianya akan genap 88 tahun, 13 tahun lebih tua ketimbang usia negara ini.
Dia tidak banyak mengikuti perkembangan pandemi virus corona saat ini, hanya sesekali mendengarnya lewat radio atau televisi. Kini, dia hanya ingin menikmati masa tuanya, tanpa dipusingkan dengan tetek bengek persoalan dunia.
“(Usia) saya sudah 88, saya tinggal menunggu Tuhan manggil saja,” kata dia sembari sekilas melirik ke foto Yesus yang juga terpajang di dinding rumahnya.
Merayakan kemerdekaan di tengah wabah memang bukan perkara gampang. Tapi dia yakin, bangsa ini bisa melewati pandemi, cepat atau lambat. Bangsa ini menurut dia bukan bangsa yang lemah, berbagai gejolak pernah dilewati, dari penjajahan oleh Belanda, Jepang, serta gejolak-gejolak berdarah internal lain seperti kasus G30S yang juga masih membekas di benaknya.
“Dan kita bisa melewati semua itu, walaupun memakan banyak korban. Tahun ini memang tahun yang tidak disangka-sangka,” ujarnya.
Wabah ini menurutnya juga perlu dimaknai sebuah peringatan, bahwa manusia tidak selayaknya merasa paling kuat, tidak merasa paling kuasa di dunia ini. Pandemi virus corona adalah akumulasi dari tabiat manusia yang merasa paling kuat sehingga seenaknya mengeksploitasi alam.
“Saya itu pesilat mas, tapi saya tidak pernah berantem. Karena ibu saya ngajari saya, kalau masih banyak yang lebih kuat, jadi jangan sampai saya merasa paling kuat. Dan terbukti kan, ternyata manusia itu lemah sekali,” kata Mbah Doel Wahab. (Widi Erha Pradana / YK-1)
