OJK DIY dan Industri Jasa Keuangan DIY Galang Rp90 Juta untuk Mahasiswa NTT

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY bersama Bank Indonesia, Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK), dan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) DIY berhasil menghimpun dana Rp90 juta untuk mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa hanya dalam waktu setengah hari sejak menerima informasi dari pemerintah daerah, pada Selasa (18/8). Bantuan tersebut diserahkan di Bangsal Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, pada Rabu (19/8).
"Proses penghimpunan dananya kemarin begitu kami mendapat informasi dari pemerintah daerah, dalam waktu setengah hari, sudah bisa terkumpul seperti itu," kata Kepala OJK DIY, Eko Yunianto.
Penggalangan dana ini ditujukan untuk mahasiswa NTT di Yogyakarta yang keluarganya di kampung halaman mengalami kerusakan rumah akibat gempa, sehingga turut memengaruhi kondisi ekonomi mereka selama menempuh pendidikan di perantauan.
Selain dana dari sektor jasa keuangan tersebut, pada hari yang sama Pemerintah Daerah (Pemda) DIY juga menyalurkan bantuan senilai Rp1 miliar serta perbekalan medis senilai Rp38 juta dari Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, yang dikirim langsung kepada Pemerintah Provinsi NTT untuk kebutuhan tanggap darurat di lokasi bencana.
"Harapannya bantuan yang terkumpul ini ya mungkin nominalnya enggak seberapa ya Rp90 juta, ini dapat sedikit meringankan penderitaan dari teman-teman mahasiswa khususnya. Paling tidak untuk kebutuhan dasar bisa terpenuhi, terus termasuk juga nanti paling tidak bisa membantu mereka yang selama ini belajar di Yogyakarta ini," kata Eko.
Persoalan yang lebih struktural turut disinggung Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat penyerahan bantuan di Bangsal Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, Rabu (19/8). Ia menyebut pemerintahnya telah mengirim surat resmi ke kampus-kampus di DIY yang memiliki mahasiswa asal NTT terdampak gempa.
"Kita juga sudah berkirim surat kepada kampus-kampus di DIY di situ ada mahasiswa yang berkemungkinan yang dikirim karena musibah yang rumahnya rusak dan sebagainya gitu. Nah, kita akan bicara biaya kos dan mendapatkan kemudahan akses sehingga bisa melanjutkan pendidikannya di tempat itu," ujar Sultan.
Pernyataan ini mengindikasikan potensi kebijakan konkret berupa keringanan biaya tempat tinggal dan kemudahan administratif bagi mahasiswa terdampak, bukan sekadar bantuan logistik jangka pendek.
Langkah kolektif DIY ini mendapat apresiasi khusus dari pemerintah NTT. Kepala Badan Penghubung Daerah (Banhubda) Provinsi NTT di Jakarta, Florida Taty Satyawati, menyebut DIY sebagai provinsi pertama yang secara spesifik memberikan bantuan untuk menutup biaya hidup (cost of living) mahasiswa asal NTT, bukan sekadar bantuan bencana untuk daerah asal.
"Kami yang mewakili pemerintah provinsi NTT dan seluruh masyarakat NTT mengucapkan terima kasih banyak dan sebesar-besarnya kepada pemerintah provinsi DIY dan sepengetahuan kami provinsi DIY adalah provinsi pertama yang memang memberikan bantuan untuk khusus untuk mahasiswa untuk cost living-nya," kata Florida.
