PB PGI: Kasus Kanker Usus Besar pada Usia di Bawah 30 Tahun Mulai Meningkat

Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) mencatat kasus kanker usus besar pada kelompok usia muda di bawah 30 tahun mulai meningkat.
Kondisi ini diduga berkaitan dengan pola makan rendah serat, konsumsi daging merah dan lemak berlebihan, kebiasaan merokok, konsumsi minuman beralkohol, kurang aktivitas fisik, hingga faktor genetik.
Ketua Umum PB PGI sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Ari Fahrial Syam, mengatakan tren peningkatan kasus kanker usus besar pada usia muda tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara.
Berdasarkan data yang dihimpun PB PGI selama sekitar satu tahun, terdapat sekitar 2.000 kasus kanker usus besar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3 persen atau sekitar 60 kasus terjadi pada pasien berusia di bawah 30 tahun.
“Jadi ternyata kita lihat bahwa sebenarnya bukan saja di Indonesia tapi secara global itu kasus-kasus kanker usus besar itu semakin banyak ditemukan pada usia muda,” kata Ari ditemui dalam Kongres Nasional dan Pertemuan Ilmiah Nasional PGI, PPHI, dan PEGI di Sleman, Sabtu (25/7).
“Jadi angka kami yang terakhir kita dapatkan angka 3 persen yang umurnya 30 tahun terkena kanker usus besar. 3 persen itu angka yang besar. Ini terjadi di tahun-tahun ini,” ujarnya.
Ari mengatakan peluang kesembuhan pasien sangat bergantung pada stadium saat kanker terdeteksi. Menurutnya, pasien yang didiagnosis pada stadium awal memiliki peluang bertahan hidup jauh lebih tinggi dibandingkan pasien yang baru diketahui mengidap kanker saat sudah memasuki stadium lanjut.
“Kalau dia ditemukan stadium 4, superior rate 5 tahun itu hanya 5 persen. Kalau kita temukan di awal, misalnya stadium awal itu angkanya bisa sampai 95 persen dalam 5 tahun,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekitar 70 persen pasien kanker usus besar di Indonesia masih datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut. Untuk mendukung deteksi dini, PB PGI mulai memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dipasang pada alat endoskopi guna membantu dokter mendeteksi tumor.
“Penggunaan AI di dalam mendeteksi adanya tumor di-attach dengan endoskopi untuk mendeteksi adanya tumor,” kata Ari.
Menurut Ari, teknologi tersebut berasal dari China dan telah digunakan di negara asalnya serta sejumlah negara di Eropa. Alat itu akan dipinjamkan ke RSCM Jakarta dengan harapan dapat dimanfaatkan lebih luas di rumah sakit lain.
Selain penguatan deteksi dini, Ari mengatakan pengembangan terapi kanker usus besar juga terus dilakukan, termasuk melalui pengembangan obat-obatan dan kemoterapi untuk meningkatkan penanganan pasien
