Kumparan Logo
Konten Media Partner

Penanganan Pasien AIDS-TBC Terhambat Stigma, Puskesmas di Yogya Perkuat Edukasi

Pandangan Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puskesmas Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja.
zoom-in-whitePerbesar
Puskesmas Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja.

Stigma terhadap penderita HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan dalam penanganan penyakit menular di tingkat layanan kesehatan pertama. Di Puskesmas Tegalrejo, Kota Yogyakarta, upaya mengurangi stigma dilakukan melalui edukasi, pendampingan pasien, serta jaminan kerahasiaan layanan kesehatan.

Kepala Puskesmas Tegalrejo, Suharno, mengatakan stigma dapat memengaruhi keberanian seseorang untuk mengetahui kondisi kesehatannya, menjalani pengobatan, hingga melakukan pencegahan penularan.

"Stigma itu menghalangi orang untuk mengetahui, menghalangi orang untuk berobat, dan menghalangi orang untuk mencegah penularan pada orang lain," kata Suharno, Rabu (5/8).

Kepala Puskesmas Tegalrejo, Suharno. Foto: Pandangan Jogja

Menurut .Suharno, stigma dapat muncul dari lingkungan sekitar maupun dari penderita sendiri yang merasa khawatir sebelum kondisi kesehatannya diketahui orang lain. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian orang menunda pemeriksaan atau enggan mengakses layanan kesehatan.

Suharno menegaskan, Puskesmas Tegalrejo tetap menjamin kerahasiaan identitas dan kondisi kesehatan pasien selama proses pemeriksaan hingga pengobatan.

Meski stigma masih menjadi tantangan, Suharno mengatakan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan HIV dan TBC saat ini terus meningkat. Masyarakat mulai lebih terbuka untuk memeriksakan kondisi kesehatannya dan memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia.

Puskesmas Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja.

Penanganan pasien HIV dan TBC di Puskesmas Tegalrejo dimulai melalui penjaringan kasus, baik dari masyarakat yang datang secara mandiri maupun hasil skrining aktif petugas kesehatan. Setelah dinyatakan positif, pasien akan menjalani pemeriksaan lanjutan, mendapatkan pengobatan, serta memperoleh pendampingan selama masa terapi.

Suharno mengatakan pemeriksaan dan pengobatan pasien HIV maupun TBC tidak dipungut biaya. Pembiayaan dilakukan melalui BPJS Kesehatan maupun anggaran negara (APBN).

"Kecuali pembayaran pendaftaran, kalau punya BPJS maka bisa menggunakan BPJS, jadi tidak ditarik biaya," ujar Suharno.

Pendampingan pasien dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing penyakit. Pada pasien HIV, pendampingan diberikan melalui konseling psikososial dan dukungan kelompok sebaya untuk membantu pasien menerima kondisi serta menjaga kepatuhan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV).

Puskesmas Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja.

Sementara pasien TBC mendapatkan pendampingan melalui pengawas minum obat (PMO), yang umumnya berasal dari anggota keluarga. PMO bertugas mengingatkan pasien mengonsumsi obat sesuai jadwal dan menjalani pemeriksaan rutin.

Selain pendampingan, edukasi mengenai cara penularan juga terus dilakukan untuk mengurangi kesalahpahaman yang dapat memicu stigma. Suharno menjelaskan HIV hanya dapat menular melalui empat jalur, yakni aktivitas seksual yang tidak aman, penularan dari ibu ke anak, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, serta transfusi darah.

"Virus HIV tidak bisa menular hanya karena makan bersama, tidak bisa menular karena berpelukan, berciuman, kemudian tidur bersama, berganti-ganti pakaian, itu juga tidak bisa," jelasnya.

Ilustrasi layanan kesehatan di Puskesmas Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Foto: Canva.

Suharno mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa upaya pencegahan penyakit tidak berarti menjauhi orang yang menderita HIV maupun TBC. Menurutnya, pasien tetap perlu diterima dan mendapatkan dukungan selama menjalani pengobatan.

"Yang dihindari adalah HIV-nya, tapi terimalah orang yang terkena HIV itu seperti orang sakit pada umumnya, karena memang di sekitar kita juga ada yang sakit, itu harus diterima, termasuk dengan TBC," ujar Suharno.

Suharno mengatakan masyarakat yang memiliki risiko maupun mengalami gejala penyakit menular tidak perlu ragu melakukan pemeriksaan. Menurutnya, deteksi dan pengobatan sejak awal dapat membantu pasien mendapatkan penanganan yang sesuai.