Semestinya Manusia Bisa Berbagi Ruang Hidup dengan Ular Kobra

email: pandanganjogja@gmail.com
Tulisan dari Pandangan Jogja Com tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Warga di sejumlah daerah seperti Gunungkidul, Klaten, Jember, bahkan Ciracas, Jakarta Timur tengah dibuat resah karena kemunculan ular kobra di sekitar permukiman. Dalam beberapa kasus ular kobra itu juga ditemukan di dalam rumah penduduk.
Dosen pengampu matakuliah Herpetologi dari Laboratorium Sistematika Hewan Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha, mengatakan habitat alami ular kobra sebenarnya berada di daerah-daerah yang lembab dan rimbun seperti hutan. Ketika ular kobra ditemukan di permukiman warga, itu menandakan habitat aslinya telah berkurang.
Hampir setiap reptil, termasuk biawak, buaya, kadal, dan sejenisnya, setelah menetas anaknya akan langsung mencari shelter atau tempat yang aman bagi mereka untuk bisa tumbuh. Kalau secara alami, mereka akan masuk ke tumpukan kayu atau batu-batu untuk berlindung dari pemangsanya sampai dia tumbuh dewasa.
“Karena habitatnya sudah semakin berkurang, dia masuk ke rumah-rumah penduduk. Rumah penduduk kan hangat, enak, nyaman ya bagi mereka untuk tinggal di situ,” kata Donan ketika ditemui, Selasa (10/12).
Di beberapa kasus, kebanyakan kobra yang ditemui masih berupa anakan. Hal itu karena induknya hampir tidak pernah berada di dekat anakannya. Induk kobra hanya akan menjaga telur sampai menetas, namun setelah telur-telurnya menetas, anakan kobra akan mencari tempat perlindungan sendiri-sendiri.
“Telurnya satu kelompok itu kan 16 sampai 26 butir ya, dan itu enggak hanya satu sarang, satu indukan. Terus habitatnya sempit, ya sudah akhirnya mereka masuk ke rumah-rumah penduduk,” lanjut Donan.
Septian Dedi dari Komunitas Reptil Yogyakarta juga mengatakan habitat alami ular kobra sebenarnya berada di kawasan persawahan, hutan primer, serta hutan sekunder. Lalu, kenapa ular-ular itu malah masuk ke pemukiman penduduk?
“Sebenarnya bukan salah si ular untuk masuk ke pemukiman, tetapi karena seiring waktu tempat hidup mereka dialih fungsikan oleh manusia. Sehingga mereka mau tidak mau masuk ke pemukiman untuk mencari tempat hidup,” kata Septian.
Sumber makanan ular di pemukiman penduduk juga melimpah, seperti tikus, katak, dan anak ayam. Sehingga bukan hal mengherankan jika banyak ular kobra yang masuk ke kawasan pemukiman penduduk. Terlebih, bulan September sampai November memang musim menetasnya telur-telur kobra.
“Pada musim seperti ini wajar kalau banyak anakan ular ditemukan, karena memang siklus tahunan,” lanjut Septian.
Menipisnya Predator Kobra
Selain ekosistemnya mengalami fragmentasi, kemungkinan besar populasi ular kobra juga meledak karena jumlah predator yang semakin menipis. Beberapa predator utama ular kobra adalah burung elang dan musang. Namun burung elang semakin jarang karena banyak diburu, begitu juga musang yang kini malah lebih banyak dijadikan “mesin pembuat” kopi luwak.
“Jadi di alam mereka sudah tidak punya predator lagi, sehingga bisa juga populasinya meledak. Jadi banyak faktor yang memengaruhi kenapa mereka masuk ke pemukiman warga,” kata Donan.
Pada dasarnya, kobra dan segala jenis binatang sebenarnya cenderung menghindari manusia. Namun karena situasi yang mendesak tadi, mereka akhirnya memilih untuk menempati rumah warga yang dirasa lebih aman. Sebab, ketika masih kecil, anakan kobra harus menghindari predator yang jauh lebih banyak, bisa kucing, anjing, atau biawak.
Namun karena masih minim pengalaman, anakan ular kobra kurang memahami bahaya yang mengintainya. Berbeda dengan ular kobra dewasa yang cenderung menghindari keberadaan manusia.
“Bukannya tidak takut dengan manusia, tapi karena masih anakan mereka belum tahu ancaman, belum berpengalaman. Dan satu lagi, karena mereka ular berbisa, mereka sudah PD (percaya diri) juga kan karena punya bisa, punya senjata itu,” ujar Donan.
Septian juga mengatakan ada persoalan ekologi dari fenomena ular kobra yang banyak ditemui di pemukiman penduduk ini. Terutama terkait kondisi rantai makanan, apakah rantai makanan di dalam ekosistem kita masih seimbang atau sudah goyah.
“Karena rusaknya atau goyahnya satu predator akan berimbas kepada rantai makanan, dan di situ akan terjadi peledakan populas,” kata Septian.
Belajar Melihat Ular sebagai Ciptaan Tuhan
Donan mengatakan, tahun ini di Gunungkidul sudah dua kali terjadi kasus serupa. Beberapa bulan lalu, sejumlah kera ekor panjang di daerah Kecamatan Paliyan juga masuk ke ladang dan permukiman warga. Kera-kera itu turun dari habitat aslinya karena kelaparan akibat stok makanan yang menipis di tengah musim kemarau berkepanjangan.
“Itu juga soal fragmentasi habitat juga kan? Ada yang kelaparan, kehausan, mati. Mereka sampai menjarah perkebunan warga, mengapa bisa begitu? Karena habitatnya sudah berkurang,” kata Donan.
Saat itu belum ditemukan banyak ular di pemukiman penduduk karena memang belum masanya menetas saja. Donan mengatakan kasus itu merupakan sebuah alarm sudah terganggunya keseimbangan ekosistem.
Sayangnya menurut dia kebanyakan masyarakat tidak melihat sampai situ. Mereka hanya melihat kera ekor panjang justru sebagai hama yang menjarah ladang warga, sementara munculnya banyak ular kobra merupakan ancaman bahaya bagi mereka sehingga ular-ular itu harus dibasmi.
“Padahal populasi ular meledak dan kera yang jadi hama itu kan pasti ada penyebabnya,” ujar Donan.
Pola pikir yang berkembang di tengah masyarakat sifatnya sangat antroposentris, yakni hanya berpusat pada kepentingan manusia. Padahal hewan dan mahluk hidup lain juga berhak mendapatkan ruang untuk keberlangsungan hidupnya.
“Hadirnya manusia membuat keberadaan mereka (binatang) semakin tergeser. Di tempat yang semakin sempit itu mereka menjadi penuh sekali, ya mereka mau tidak mau mendobrak juga kan? Akhirnya dikatakan mereka yang menjarah, merampas, dianggap hama, kok bisa? Kalau mereka bisa jawab, ya anda manusia yang hama, itu lahanku kalian ambil kok,” jelas Donan.
Dari kasus tersebut, Donan mengatakan manusia kurang bisa melihat hewan dan mahluk lain sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang tak berhak mendapatkan ruang hidup. Dia juga menyinggung fenomena tawon affinis atau tawon endhas belum lama ini, menurutnya fenomena itu juga serupa dengan kasus ular kobra maupun kera ekor panjang.
Donan mencontohkan, ketika manusia menebang atau memangkas pohon karena memasuki musim penghujan, yang mereka pikirkan sebatas pada kepentingan manusia, yaitu agar pohon tidak tumbang dan menimpa manusia. Tapi ada yang dilewatkan, manusia tidak pernah berpikir kalau di sebuah pohon juga hidup banyak mahluk lain, tawon, berbagai macam serangga, tupai, juga burung.
Pemahaman yang selama ini berkembang adalah manusia sebagai mahluk yang unggul sedangkan hewan dan tumbuhan merupakan sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan atau dieksploitasi sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia. Tapi di sisi lain, ada juga yang mengatakan bahwa manusia, hewan, dan tumbuhan berposisi yang sama sebagai manusia sehingga harus berbagi ruang hidup, alih-alih mengeksploitasinya.
“Sejauh ini yang saya tahu pemahaman yang berkembang adalah kita sebagai mahluk yang supreme, yang unggul, sehingga berhak mengeksploitasi tumbuhan dan hewan yang ada,” kata Donan.
Dampaknya, hewan-hewan itu akan menyerang balik manusia seiring dengan ruang hidupnya yang semakin terancam. Namun, Donan tak sepakat jika istilah yang dipakai adalah hewan-hewan itu menyerang manusia, sebab yang mereka lakukan hanya berdasarkan insting. Hewan, termasuk dalam konteks ini ular kobra tak bisa berpikir untuk menguasai atau balas dendam, melainkan hanya untuk membela diri.
“Jangan dianggap kalau mereka menyerang, nggak ada, kalau menyerang itu aktif, berarti dia punya kondisi untuk menghancurkan atau menguasai sesuatu, mereka instingtif. Mereka kalau lapar ya sudah, kalau kita sudah kenyang saja kan masih nyimpen roti dan macem-macem. Itu bedanya manusia sama hewan itu di situ. Jadi kalau dikatakan mereka menyerang ya saya tidak setuju,” kata Donan.
Berbagi Ruang Hidup
Ada beberapa cara menurut Septian untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dari fenomena ular kobra ini. Misalnya dengan membersihkan rumah dan semak-semak yang terlalu dekat dengan rumah. Bisa juga dengan menebar kabur barus yang sudah ditumbuk di sekeliling rumah dan memasang pengharum ruangan di dalam rumah.
“Ular tidak tahan dengan bahan-bahan kimia dan bau menyengat seperti alkohol, kapur barus, parfum, minyak tanah, bensin, dan lainnya. Bukan dengan garam, karena ular tidak bereaksi terhadap garam,” kata Septian.
Sementara itu, Donan lebih fokus bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dan berbagi ruang hidup dengan ular dan hewan-hewan lain. Dia menolak munculnya banyak ular kobra seperti yang terjadi di sejumlah daerah sekarang ini sebagai wabah atau hama, karena mereka juga punya hak untuk hidup. Dalam kondisi begini, membasmi ular kobra yang masuk ke pemukiman penduduk menurut Donan adalah perbuatan yang zalim atau tidak adil.
Solusi paling bijak yang bisa dilakukan manusia atas fenomena tersebut adalah dengan berbagi ruang hidup. Misalnya membuat shelter-shelter di belakang rumah sebagai tempat tinggal ular sehingga mereka tidak masuk ke dalam rumah.
“Dalam bentuk apa? Tumpukan kayu, tumpukan batu, dengan semak-semak yang rimbun di pojokan. Jadi ketika ular yang datang dari hutan yang sempit itu datang, mereka akan lebih cenderung masuk ke shelter itu, tidak masuk ke rumah,” papar Donan.
Atau bisa juga membuat semacam bangunan seperti kamar mandi yang lembab atau kolam, khusus sebagai shelter agar ular tak masuk ke rumah. Tapi itu hanya bisa terjadi kalau manusia mau sedikit berbagi dengan mereka, berpikir bahwa bukan hanya manusia yang hidup di muka bumi ini.
Dari shelter itu, nantinya juga bukan hanya ular yang tingga di sana, bisa juga kadal, berbagai macam serangga, kalajengking, burung, dan sebagainya sehingga akan menjadi habitat mikro untuk mereka. Namun prinsip keseimbangan itu belum banyak dipahami oleh manusia.
“Pembelajaran atau pemahaman mengenai hidup bersama dengan hewan lain selain manusia itu kurang di warga, mereka lebih mementingkan dirinya sendiri sesama manusia. Jadi harus banyak belajar, banyak mengetahui bahwa kita tidak hidup sendirian di bumi, ada mahluk lain. Dan mereka juga punya hak, punya teritori, punya habitat spesifik,” jelas Donan. (Widi Erha Pradana / YK-1)
