Tekstil Bukan Cuma Garmen, Teknologinya Ada di Jalan hingga Dunia Medis

Mendengar kata tekstil, sebagian orang mungkin langsung membayangkan kain, pakaian, dan pabrik garmen. Padahal, garmen hanya menjadi salah satu bagian dari dunia tekstil.
Tekstil bermula dari serat. Ketika serat direkayasa menjadi material dengan karakter dan fungsi tertentu, penggunaannya dapat ditemukan di tempat-tempat yang jauh dari bayangan tentang pakaian: jalan raya, konstruksi, kendaraan, pesawat, hingga dunia medis.
Kepala Program Studi Rekayasa Tekstil Universitas Islam Indonesia (UII), Rina Afiani Rebia, mengatakan penggunaan tekstil secara konvensional memang paling mudah ditemui pada pakaian. Namun, technical textile memiliki bidang aplikasi yang jauh lebih luas.
“Kalau yang konvensional memang ke baju. Tapi kalau yang lainnya ada 12,” kata Rina di Yogya Agustus ini.
Salah satunya adalah geotekstil, yakni material tekstil yang digunakan dalam bidang teknik sipil. Aplikasinya dapat berkaitan dengan pembangunan jalan, jembatan, bendungan, rel maupun tanggul, antara lain untuk pemisahan lapisan material, drainase, filtrasi, dan penguatan konstruksi.
“Ada juga geotekstil, tekstil yang digunakan untuk atau berkaitan dengan teknik sipil,” ujar Rina.
Dunia transportasi juga bersentuhan dengan teknologi tekstil. Penggunaannya tidak terbatas pada jok, karpet, atau sabuk pengaman. Material berbasis serat dapat digunakan sebagai penguat komposit pada kendaraan maupun komponen pesawat.
Rina mengatakan mahasiswa Rekayasa Tekstil UII bahkan pernah menjalani kerja praktik di PT Dirgantara Indonesia untuk mempelajari proses yang berkaitan dengan material berperforma tinggi.
“Mahasiswa kami juga ada yang kerja praktik di PT Dirgantara. Jadi khususnya di pembuatan molding high performance, serat performa tinggi pakai karbon,” katanya.
Serat karbon memiliki karakter kuat sekaligus ringan sehingga dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan transportasi. Selain serat karbon, material komposit juga dapat menggunakan glass fiber maupun serat berperforma tinggi lainnya.
Bidang lain yang tidak kalah luas adalah tekstil medis. Rina sendiri mendalami tekstil fungsional saat menempuh pendidikan S2 dan S3 di Shinshu University, Jepang.
“Bidang saya itu lebih ke tekstil fungsional. Tekstil yang digunakan bukan hanya sekadar konvensional baju, tapi lebih fokus ke medical,” ujarnya.
Aplikasi tekstil medis dapat ditemukan pada berbagai kebutuhan kesehatan. Di laboratorium Rekayasa Tekstil UII, misalnya, serat berukuran nano tengah dikembangkan untuk material pembalut luka.
Tekstil juga digunakan pada produk non-woven untuk kebutuhan kesehatan dan higienitas. Selain itu, bidang technical textile mencakup penggunaan material berbasis serat untuk pertanian, arsitektur, industri, olahraga, perlindungan, lingkungan, hingga kemasan.
Karena itu, mahasiswa Rekayasa Tekstil tidak hanya mempelajari bagaimana serat menjadi benang dan kain. Mereka juga mempelajari bagaimana karakter serat dan material dapat direkayasa untuk menghasilkan fungsi tertentu.
Hasil akhirnya memang bisa menjadi pakaian. Tetapi teknologi yang sama juga dapat berada di jalan yang dilewati setiap hari, kendaraan dan pesawat yang digunakan untuk bepergian, hingga material yang digunakan dalam dunia medis.
Tekstil ternyata jauh lebih luas dari sekadar garmen.
