'The Social Dilemma' Bagian 4: Kumpulan Kutipan yang Bikin Pengin Hapus Medsos

email: pandanganjogja@gmail.com
Tulisan dari Pandangan Jogja Com tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film dokumenter garapan sutradara Jeff Orlowski, The Social Dilemma, menjadi perbincangan banyak orang setelah rilis pertama kali di Netflix 9 September silam. Film berdurasi satu setengah jam ini bercerita tentang kerusakan maha besar yang ditimbulkan media sosial terhadap masyarakat modern.
The Social Dilemma menceritakan bagaimana perusahaan teknologi mengeksploitasi penggunanya untuk keuntungan finansial. Bagaimana mereka menguasai data penggunanya, membuat kecanduan, merusak kesehatan mental anak-anak, sampai membuat masyarakat terjerumus pada jurang polarisasi yang sudah terbukti di Myanmar dan akan terus mengulang kekerasan atau perang saudara.
Film ini menghadirkan para mantan pegawai di perusahaan-perusahaan teknologi raksasa, mereka yang dulu merancang sistem kerja mesin, namun kini berbalik coba menghentikan pertumbuhannya. Mereka di antaranya mantan ahli etika desain Google, Tristan Harris, salah seorang pendiri Center for Humane Technology, Aza Raskin.
Ada juga mantan Presiden Pinterest, Tim Kendall, salah seorang pendiri Asana sekaligus mantan engineer Facebook, Justin Rosenstein, serta para pakar yang fokus mempelajari tentang teknologi.
Banyak sekali pesan yang disampaikan oleh para narasumber dalam film The Social Dilemma yang bisa membuat kita berpikir ulang setiap ingin membuka media sosial kita. Berikut ini adalah rangkuman pesan atau quote yang disampaikan oleh para narasumber di dalam film The Social Dilemma. Urutan kutipan sesuai alur film.
Tak ada hal besar yang memasuki kehidupan manusia tanpa kutukan. (The Social Dilemma).
Perusahaan seperti Google dan Facebook adalah yang terkaya dan tersukses sepanjang masa. Mereka punya pegawai yang relatif sedikit. Mereka punya komputer raksasa yang mudah menghasilkan uang, bukan? Untuk apa mereka dibayar? Itu pertanyaan yang sangat penting. (Jaron Lanier).
Perubahan perlahan, kecil, dan tidak terlihat dalam perilaku dan persepsi kita, itulah produknya. (Jaron Lanier).
Karena kita tak membayar produk yang kita gunakan, pengiklan membayar produk yang kita gunakan. Pelanggan adalah pelanggannya. Kitalah yang dijual. (Aza Raskin).
Jika kau tak membayar produknya, berarti kaulah produknya. (Tristan Harris).
Banyak orang berpikir ‘Google hanyalah kotak pencarian, dan Facebook hanya tempat untuk melihat kabar teman-temanku dan melihat foto mereka. Namun, mereka tak sadar, mereka bersaing memikat perhatianmu. (Tristan Harris).
Ada banyak layanan di internet yang kita anggap gratis, namun itu tak gratis. Semua itu dibayar oleh pengiklan. Mengapa pengiklan membayar perusahaan itu? Mereka membayar untuk menampilkan iklan kepada kita. (Justin Rosenstein).
Kitalah produknya. Perhatian kita adalah yang dijual kepada pengiklan. (Justin Rosenstein)
Mereka menjual kepastian. Agar sukses dalam bisnis itu, kita harus punya prediksi bagus. Prediksi besar dimulai dengan satu hal penting. Kita butuh banyak data. (Shoshana Zuboff)
Inilah jenis lokapasar baru saat ini. Ini lokapasar yang belum pernah ada. Ini lokapasar yang hanya memperdagangkan prediksi nilai saham manusia. (Shoshana Zuboff)
Seperti pasar yang memperdagangkan prediksi nilai saham perut babi atau minyak. Kini kita punya pasar yang memperdagangkan prediksi nilai saham manusia dalam skala besar dan pasar itu telah menghasilkan triliunan dolar yang menjadikan perusahaan internet sebagai perusahaan terkaya dalam sejarah kemanusiaan. (Shoshana Zuboff)
Mereka punya lebih banyak informasi tentang kita daripada yang pernah dibayangkan dalam sejarah manusia. Ini belum pernah terjadi. (Shoshana Zuboff)
Aku ingin semua orang tahu semua yang mereka lakukan di internet diawasi, dilacak, dan diukur. Setiap tindakan yang kita lakukan dipantau dan direkam dengan hati-hati. (Jeff Seibert)
Mereka tahu saat kau kesepian, depresi, dan tahu saat orang melihat foto mantan pasanganmu. Mereka tahu yang kau lakukan saat larut malam. Mereka tahu semuanya. (Jeff Seibert)
Jadi, semua data yang kita berikan setiap saat, dimasukkan ke sistem yang nyaris tak diawasi manusia, yang terus membuat prediksi makin membaik tentang apa yang akan kita lakukan dan siapa kita. (Sandy Parakilas)
Mereka membuat model yang memprediksi tindakan kita. Siapapun yang punya model terbaik akan menang. (Aza Raskin)
Di sisi lain layar, mereka seperti punya model boneka voodoo yang menyerupai kita. Semua yang pernah kita lakukan, semua klik yang kita buat, semua video yang kita tonton, semua tombol suka, semua itu diolah untuk membangun model yang lebih akurat. (Tristan Harris)
Ada tiga tujuan utama di banyak perusahaan teknologi ini. Ada tujuan keterlibatan untuk menaikkan penggunaanmu, agar terus gulirkan layar. Ada tujuan pertumbuhan untuk mengundangmu kembali, mengundang banyak teman. Lalu ada tujuan iklan untuk memastikan bahwa seiring semua itu terjadi, kami menghasilkan uang sebanyak mungkin dari iklan. Masing-masing tujuan itu ditenagai oleh algoritma. (Tristan Harris)
Kita telah menciptakan dunia tempat koneksi daring menjadi hal utama, khususnya bagi generasi muda. Namun di dunia itu, setiap dua orang terhubung, itu hanya bisa didanai oleh orang ketiga yang licik yang membayar untuk memanipulasi dua orang itu. (Jaron Lanier).
Semua teknologi yang canggih, tidaklah berbeda dari sulap. (Arthur C. Clarke)
Teknologi persuasif itu semacam desain yang sengaja diterapkan secara ekstrem agar kami bisa mengubah perilaku seseorang. Kami ingin mereka melakukan sesuatu dan terus melakukan ini dengan jari mereka. (Tristan Harris)
Bukan hanya memakai produknya secara sadar, tapi aku mau masuk jauh ke batang otak dan menanamkan kebiasaan secara tak sadar di dalam dirimu agar kau diprogram secara lebih mendalam. (Tristan Harris)
Kita hanya zombi dan mereka ingin kita lebih banyak melihat iklan agar mereka dapat lebih banyak uang. (Sandy Parakilas)
Kita beralih dari memiliki lingkungan teknologi yang berbasis alat ke lingkungan teknologi yang berbasis kecanduan dan manipulasi. (Tristan Harris)
Media sosial bukan alat yang menunggu untuk digunakan. Ia punya tujuan dan cara sendiri untuk memperolehnya, menggunakan psikologimu untuk melawan dirimu. (Tristan Harris)
Hanya ada dua industri yang menyebut pelanggan mereka ‘pengguna’, industri narkoba dan peranti lunak (software). (Edward Tufte)
Apa kau memeriksa gawaimu sebelum kencing saat pagi, atau sambil kencing saat pagi? Karena hanya ada dua opsi itu. (Roger McNamee)
Media sosial adalah narkoba. Maksudku, kita punya perintah biologis dasar untuk terhubung dengan orang lain. Itu secara langsung mempengaruhi pelepasan dopamin dalam ‘jalur kenikmatan’. (Anna Lembke)
Media sosial mulai terus menggali lebih dalam ke batang otak, mengambil alih harga diri dan identitas anak. (Tristan Harris)
Kita menyesuaikan hidup kita mengikuti pandangan kesempurnaan ini karena kita mendapat imbalan dalam sinyal jangka pendek ikon hati, suka, dan jempol. Lalu kita menyatukannya dengan nilai dan kebenaran. Alih-alih sebagai hal yang sebenarnya, yaitu popularitas palsu dan rapuh, yang hanya sesaat, dan membuat kita kecanduan. Dan akuilah, membuat kita hampa sebelum melakukannya. (Chamath Palihapitiya)
Ini sangat jelas bagiku. Layanan ini (media sosial) membunuh orang dan menyebabkan orang bunuh diri. (Tim Kendall)
Kita melatih dan mengondisikan satu generasi orang baru, agar ketika kita tak nyaman, kesepian, merasa tak pasti, atau takut, kita punya penenang digital sendiri yang menghentikan kemampuan kita untuk menghadapinya. (Tristan Harris)
Kita hidup di dalam perangkat keras, otak, yang berusia jutaan tahun. Lalu ada sebuah layar dan di baliknya ada ribuan teknisi dan komputer super yang punya tujuan berbeda dari tujuan kita. Jadi, siapa yang akan menang dalam hal itu? (Tristan Harris)
Menurutku, algoritma adalah opini yang disematkan di dalam kode, dan algoritma itu tidak obyektif. Algoritma dioptimalkan ke sebuah definisi kesuksesan. Jadi bisa dibayangkan, jika perusahaan komersial membuat algoritma untuk definisi kesuksesan bagi mereka, itu kepentingan komersial. Biasanya profit. (Cathy O’Neil)
Algoritma itu punya pikiran sendiri. Jadi, meski seseorang menulisnya, itu ditulis sedemikian rupa agar setelah kita membuat mesinnya, mesinnya akan berubah sendiri. (Bailey Richardson)
Sebagai manusia, kita hampir kehilangan kendali atas sistem ini, karena mereka mengendalikan informasi yang kita lihat. Mereka mengendalikan kita melebihi kita mengendalikan mereka. (Sandy Parakilas)
Media mempunyai masalah yang sama karena model bisnis mereka pada umumnya adalah menjual perhatian kita kepada pengiklan. Internet adalah cara lebih efisien baru untuk melakukan itu. (Justin Rosenstein)
Aku khawatir algoritma yang aku kerjakan sebenarnya meningkatkan polarisasi masyarakat. Namun, dari sudut pandang durasi menonton, polarisasi ini sangat efisien untuk membuat orang tetap online. (Guillaume Chaslot)
Orang mengira algoritma ini dirancang untuk yang mereka inginkan, tapi kenyataannya tidak. Algoritma ini sebenarnya mencoba mencari beberapa perangkap yang sangat kuat, mencari perangkap mana yang paling sesuai dengan minat kita. (Guillaume Chaslot)
Kita menciptakan sistem yang berprasangka terhadap informasi palsu. Bukan karena kita mau, tapi karena informasi palsu memberi perusahaan lebih banyak uang daripada kebenaran. Kebenaran itu membosankan. (Sandy Parakilas)
Ini model bisnis yang mencari profit dari disinformasi. Kita menghasilkan uang dengan membebaskan pesan tak terkontrol, diterima siapa saja dengan harga terbaik. (Tristan Harris)
Jika kita ingin mengendalikan populasi negaramu, tak pernah ada alat yang seefektif Facebook. (Roger McNamee)
Kami dari industri teknologi telah menciptakan alat untuk mengacaukan dan mengikis struktur masyarakat di setiap negara sekaligus, di mana-mana. (Tristan Harris)
Jika teknologi menciptakan kekacauan massal, kemarahan, ketidaksopanan, kurangnya saling percaya, kesepian, alienasi, peningkatan polarisasi, peretasan pemilu, populisme, gangguan, dan ketidakmampuan berfokus pada isu sebenarnya, itulah masyarakat. Kini masyarakat tak mampu menyembuhkan dirinya dan berubah menjadi semacam kekacauan.(Tristan Harris)
Kurasa dalam jangka pendek, perang saudara (karena teknologi). (Tim Kendall)
Jika kita teruskan situasi saat ini, anggaplah hingga 20 tahun lagi, peradaban kita mungkin akan hancur karena kebodohan yang disengaja. (Jaron Lanier)
Perhatian kita bisa ditambang. Kita akan lebih menguntungkan perusahaan jika kita menghabiskan waktu menatap layar, menatap iklan, daripada menghabiskan waktu untuk menikmati hidup. (Justin Rosenstein)
Ini ide soal teknologi manusiawi, itulah awal mula Silicon Valley. Lalu kita kehilangan arah karena itu tinggal menjadi tindakan yang keren, bukan yang benar. (Aza Raskin)
Cara kerja teknologi bukan hukum fisika. Tidak mustahil untuk diubah. Ini adalah pilihan yang dibuat manusia sepertiku selama ini. Manusia bisa mengubah teknologi itu. (Justin Rosenstein)
Struktur masyarakat yang sehat, bergantung pada keluarnya kita dari model bisnis merusak ini. (Tristan Harris)
Pada akhirnya, mesin ini tidak akan berubah sampai ada tekanan publik yang besar. (Tristan Harris)
Jangan pernah mau menerima rekomendasi video dari Youtube. Selalu memilih. Itu cara melawan lain. (Jaron Lanier)
Jadi, lakukanlah! Keluar dari sistem. Ya, hapuslah. Lepaskan benda bodoh itu. Dunia ini indah. Lihat, di luar sana indah. (Jaron Lanier)
Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut narasumber 'The Social Media' layak kutip. Jika masih ada yang terlewat, silahkan sidang pembaca menambahkannya dalam kolom komentar. (Widi Erha Pradana / YK-1)
