UGM Trail Run 2026 Kembali Digelar, Dorong Wisata dan Ekonomi Kawasan Merapi
ยทwaktu baca 3 menit

Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama KAGAMA Lari Untuk Berbagi (KLUB) kembali menggelar UGM Trail Run (UGMTR) 2026 sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-77 UGM.
Ajang lari lintas alam yang akan berlangsung pada 26-27 September 2026 di Gelora Hargobinangun, Kaliurang, Sleman, itu diharapkan dapat mendorong wisata dan perekonomian masyarakat di kawasan lereng Gunung Merapi.
Ketua Panitia UGM Trail Run 2026, Budi Susila, mengatakan penyelenggaraan tahun ini merupakan yang keenam sejak pertama kali digelar pada 2019. Panitia tetap mempertahankan konsep Run, Edu, dan Care yang menjadi ciri khas acara tersebut.
"Tema dari event lari UGM Trail Run 2026 ini bukan hanya sekadar lari, tapi kita juga mengusung tiga konsep, yakni Run, Edu, dan Care," kata Budi dalam konferensi pers di Yogyakarta, Jumat (5/6).
Menurut Budi, konsep Run diwujudkan dengan memfasilitasi masyarakat dan pegiat trail run melalui sejumlah kategori lomba, yakni 7 kilometer, 15 kilometer, 30 kilometer, 50 kilometer, serta kategori baru 77K Relay.
Sementara konsep Edu diwujudkan melalui berbagai kegiatan edukasi keselamatan berlari, pelatihan emergency rescue, hingga edukasi mitigasi kebencanaan dan lingkungan di kawasan Merapi.
Adapun konsep Care diwujudkan melalui pengalokasian sebagian biaya pendaftaran peserta untuk program beasiswa mahasiswa UGM yang kurang mampu. Dana tersebut nantinya akan digabungkan dengan hasil penggalangan dana dari kegiatan UGM Ultra Charity Run yang digelar pada akhir tahun.
"Harapannya nanti sebagian dari uang registrasi peserta bisa kita sumbangkan untuk beasiswa mahasiswa yang kurang mampu, sehingga kehadiran kegiatan ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas," ujarnya.
Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Arie Sujito, menilai UGM Trail Run tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga sarana memperkenalkan budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat Indonesia kepada peserta dari berbagai daerah maupun negara.
Menurutnya, konsep Care dalam kegiatan tersebut mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan, lokalitas, dan kebudayaan sekaligus membantu mahasiswa melalui program beasiswa.
"Kegiatan seperti ini bisa menjadi fungsi diplomasi. Peserta dikenalkan dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat sehingga pesan-pesan edukatif dari UGM Trail Run dapat tersebar lebih luas," kata Arie.
Sementara itu, Race Director UGM Trail Run 2026, Roostian, mengatakan minat terhadap trail run terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir karena menawarkan pengalaman berlari yang berbeda dengan road running. Selain berolahraga, peserta juga dapat menikmati bentang alam lereng Gunung Merapi.
Ia menilai penyelenggaraan UGM Trail Run turut berkontribusi meningkatkan kunjungan wisatawan ke sejumlah kawasan wisata alam di sekitar Merapi, seperti Kali Talang, Bukit Klangon, Kalikuning, dan Bukit Turgo.
"Tidak hanya diminati pelari dari Yogyakarta, peserta yang mendaftar juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri," ujarnya.
Menurut Roostian, peserta mancanegara yang telah mendaftar sejauh ini berasal dari sejumlah negara, di antaranya Belarus, Republik Ceko, dan Jepang. Selain itu, kategori baru 77K Relay juga mendapat respons positif dari berbagai kalangan, termasuk tim dari satuan Kopassus yang telah tercatat mendaftar.
UGM Trail Run merupakan ajang trail run resmi yang diakui Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI). Peserta kategori 30K dan 50K juga akan memperoleh poin International Trail Running Association (ITRA) yang dapat digunakan untuk mengikuti berbagai ajang trail run internasional.
Panitia menargetkan sebanyak 4.000 peserta mengikuti UGM Trail Run 2026. Hingga akhir Mei 2026, lebih dari 1.300 peserta telah tercatat mendaftar. Pendaftaran masih dibuka hingga 23 Agustus 2026 melalui situs resmi penyelenggara (https://ugmtrailrun.com).
Melalui penyelenggaraan di kawasan Kaliurang dan lereng Gunung Merapi, panitia berharap UGM Trail Run 2026 dapat menjadi bagian dari pengembangan sport tourism sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan wisata dan Taman Nasional Gunung Merapi.
