Kumparan Logo
Konten Media Partner

YASANTI Kenalkan Perjuangan Perempuan Pekerja ke Generasi Muda Lewat Pameran

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gelaran pemeran "Lintas Waktu", dalam rangka ulang tahun ke-44 Yayasan YASANTI, Selasa (29/9).  Foto: Dok. Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Gelaran pemeran "Lintas Waktu", dalam rangka ulang tahun ke-44 Yayasan YASANTI, Selasa (29/9). Foto: Dok. Istimewa.

Selama 44 tahun, Yayasan Annisa Swasti (YASANTI) mendampingi perempuan pekerja di Yogyakarta untuk memperjuangkan hak dan kehidupan yang lebih layak. Kini, keberlanjutan perjuangan itu juga dicoba dibangun dengan melibatkan generasi muda dalam kerja-kerja YASANTI.

Hal itu terlihat dalam perayaan ulang tahun ke-44 YASANTI yang digelar Selasa (29/9). Mahasiswa magang dari Program Studi Humanitas (PSH) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) terlibat dalam berbagai bagian kegiatan, mulai dari menyusun konsep, mengkurasi pameran, melakukan riset data, hingga membuat konten.

Tim pendukung kegiatan pameran "Lintas Waktu", dalam rangka ulang tahun ke-44 Yayasan YASANTI. Foto: Dok. Istimewa.

Ketua penyelenggara, Aliefea Rabecca Puspita Sari, mengatakan pameran bertajuk “Perjuangan Lintas Waktu” menjadi ruang untuk mengenalkan kembali perjalanan panjang perempuan pekerja.

“Pameran ini menjadi ruang untuk mengenalkan kembali perjalanan panjang perempuan pekerja informal sekaligus menunjukkan bahwa perjuangan untuk menyuarakan hak mereka masih berlangsung hingga sekarang.” kata Aliefea, saat ditemi di pameran, Selasa (29/9).

Kurator pameran, Geofani Mikhael Joseph Setiawan, menjelaskan konsep “Perjuangan Lintas Waktu” berkaitan dengan tema besar perayaan ulang tahun YASANTI, yakni “Gumregah: Berkadaya, Berkarya, dan Berdampak”.

“Konsep ini berangkat dari keinginan untuk menghadirkan kembali ingatan tentang perjalanan panjang yang telah dilalui oleh para pekerja perempuan informal, sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan untuk menyuarakan hak dan kepentingan mereka masih terus berlangsung hingga hari ini.” ungkap Geofani, pada Selasa (29/9).

Anggota tim Yayasan YASANTI dalam peringatan ulang tahun ke-44 di Yogyakarta, Selasa (29/9). Foto: Dok. Istimewa.

Bagi Geofani, perjalanan 44 tahun YASANTI tidak hanya menunjukkan usia sebuah lembaga, tetapi juga proses panjang dalam membangun pengetahuan, menjaga kebersamaan, dan mempertahankan semangat perjuangan. Karena itu, pengalaman tersebut perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.

“Karena itu, “Perjuangan Lintas Waktu” tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang keberlanjutan. Tentang bagaimana pengalaman, pengetahuan, dan semangat perjuangan yang telah dibangun selama puluhan tahun terus diwariskan, diingat, dan dihidupkan kembali hingga hari ini.”

Harapan tentang keberlanjutan tersebut juga menjadi alasan YASANTI melibatkan mahasiswa dalam rangkaian kegiatan. Direktur YASANTI, Nadlrotussariroh, mengatakan keterlibatan generasi muda menjadi bagian dari upaya agar perjuangan untuk perempuan pekerja tetap berjalan dan memiliki penerus.

“Harapan saya adalah perjuangan untuk pekerja perempuan tetap berjalan dan ada regenerasi. Kegiatan gumregah kali ini juga membuat YASANTI semakin semangat dan perjuangan perempuan tiada henti.” kata Nadlrotussariroh.

Anggota tim Yayasan YASANTI dalam peringatan ulang tahun ke-44 di Yogyakarta, Selasa (29/9). Foto: Dok. Istimewa.

Ia juga melihat keterlibatan mahasiswa dan panitia dari berbagai generasi sebagai bagian penting dari perayaan tahun ini.

“Selain itu, Keberadaan anak magang dari PSH dan seluruh panitia sangat mewarnai keberagaman generasi kali ini. Hal ini cukup membahagiakan karena menjadi penanda kebersamaan lintas genarasi dalam memaknai kerja-kerja kemanusiaan di YASANTI”.

Bagi mahasiswa, proses magang di YASANTI tidak hanya menjadi pengalaman terlibat dalam sebuah kegiatan. Mereka juga belajar memahami bagaimana persoalan sosial dapat disuarakan melalui tindakan sederhana dalam keseharian.

Mahasiswa magang dari Program Studi Humanitas (PSH) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Foto: Dok. Istimewa.

Timothy Kevin Basudewo Isliko dan Arian Wandik mengatakan pengalaman tersebut membuat mereka kembali memahami bahwa menyuarakan persoalan tidak selalu harus dilakukan melalui aksi besar.

“Proses magang di YASANTI ini membuat kami kembali berefleksi bahwa bersuara tidak harus melalui demo, tulisan, atau melalui postingan di media sosial, namun bisa hanya dengan menyapa, sekedar senyuman pun bisa memberikan efek yang cukup untuk orang merasa tertarik dengan hal yang hendak disuarakan. Ini yang kami maknai selama di YASANTI. Ini sejalan dengan hal-hal yang dipelajari di prodi PSH selama ini.”