1.086 Pengangguran di DIY Terserang TBC, 641 Mahasiswa & Pelajar Juga Kena TBC
·waktu baca 2 menit

Temuan kasus tuberkulosis (TBC) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sepanjang tahun 2023 hingga 11 Desember 2023 berdasarkan catatan Dinas Kesehatan DIY mencapai angka 5.442 kasus. Jumlah ini sedikit lebih rendah dari temuan TBC sepanjang 2022 kemarin yang berada di angka 5.502 kasus.
Padahal, berdasarkan estimasi dari Kementerian Kesehatan RI diperkirakan ada sebanyak 9.301 kasus TBC di DIY. Artinya masih ada sekitar 3.859 kasus TBC di DIY yang belum terdeteksi.
Pandangan Jogja melakukan liputan khusus terkait masalah TBC yang tak kunjung tuntas di Indonesia, termasuk di Yogyakarta. Di sisi lain, pemerintah memiliki target untuk mengeliminasi TBC pada tahun 2030 mendatang.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Setyo Harini, menjelaskan bahwa kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang lemah merupakan salah satu kelompok paling rentan tertular TBC.
Hal itu ditunjukkan dari temuan kasus TBC di DIY, di mana kelompok masyarakat yang paling banyak tertular adalah pengangguran.
“Paling banyak justru tidak bekerja, pengangguran,” kata Setyo Harini saat ditemui Pandangan Jogja di kantornya, Selasa (12/12).
Dari 5.442 temuan kasus TBC di DIY, 1.086 di antaranya merupakan kelompok pengangguran. Artinya, sekitar 19,9 persen pasien TBC di DIY adalah pengangguran.
Di peringkat kedua berasal dari kelompok pekerjaan ‘lain-lain’, sebanyak 752 kasus. Kemudian diikuti oleh kelompok pelajar dan mahasiswa sebanyak 641 kasus, ibu rumah tangga 436 kasus, tidak teridentifikasi 394 kasus, serta di peringkat keenam adalah buruh.
Namun kelompok profesi lain ternyata juga tidak benar-benar aman dari TBC. Beragam profesi lain seperti wiraswasta, pegawai swasta/BUMN/BUMD, petani, peternak, nelayan, PNS, guru/dosen, anggota TNI/Polri, hingga warga binaan pemasyarakatan juga ada yang tertular TBC meski jumlahnya tidak sebanyak enam kelompok teratas lainnya.
Besarnya pengangguran yang tertular TBC menurut Rini disebabkan karena secara teori kelompok masyarakat dengan perekonomian lemah memang lebih rentan tertular TBC. Selain itu, masyarakat dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan rendah juga lebih rentan.
“Secara teori, yang tidak bekerja itu bisa jadi kaitannya karena sosial ekonomi, pemenuhan gizinya, karena dia tidak punya penghasilan yang cukup untuk membiayai kesehatannya,” jelasnya.
Rini meminta kepada masyarakat yang mengalami gejala TBC seperti batuk berkepanjangan untuk segera memeriksakan kesehatannya ke fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan begitu, jika memang ia positif TBC bisa langsung ditangani sehingga tidak sampai menularkan ke orang lain.
“Dan sekarang kan sudah ada program dari pemerintah, biaya pengobatan pasien TBC itu ditanggung penuh oleh pemerintah sampai proses pengobatan, dan di semua puskesmas sudah bisa melayaninya,” kata Setyo Harini.
