Konten Media Partner

10 Malam Terakhir Ramadan: Melihat Iktikaf di Masjid Walidah Dahlan UNISA

26 Maret 2025 16:04 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Keluarga yang melaksanakan ibadah iktikaf di Masjid Walidah Dahlan, Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Keluarga yang melaksanakan ibadah iktikaf di Masjid Walidah Dahlan, Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
ADVERTISEMENT
Di tengah kesunyian malam, di antara lantunan doa dan munajat, puluhan jemaah berkumpul di Masjid Walidah Dahlan, Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Mereka datang dengan satu tujuan, yakni mencari keberkahan di sepuluh malam terakhir Ramadan melalui iktikaf, berdiam diri di masjid untuk beribadah dan memperbanyak doa.
ADVERTISEMENT
Imam Masjid Walidah Dahlan sekaligus koordinator iktikaf, Muhammad Zaid Adnan, menjelaskan program ini diikuti oleh 37 peserta. Program iktikaf dan kajian intensif akhir Ramadan bertajuk ‘Indahnya Menggapai Lailatul Qadr” ini dimulai pada Kamis, 20 Maret 25 dan akan berakhir pada 29 Maret 2025 atau malam ke-29 Ramadan.
Zaid menjelaskan, momen sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi kesempatan bagi umat muslim untuk memperbanyak ibadah, mengejar satu malam istimewa yang kemuliaannya lebih dari seribu bulan, Lailatul Qadr.
Imam Masjid Walidah Dahlan sekaligus koordinator iktikaf, Muhammad Zaid Adnan. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
“Pada sepuluh malam terakhir ini juga terdapat satu malam yang kemuliaannya itu lebih daripada 1000 bulan. Pada malam itu kita dianjurkan banyak memanjatkan doa karena salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa,” papar Zaid saat ditemui pada Sabtu (22/3).
ADVERTISEMENT
UNISA Yogya, menurutnya, berupaya menyediakan ruang bagi momen berarti ini. Tak hanya sebagai tempat beribadah, Masjid Walidah Dahlan juga mendukung jemaah dengan fasilitas yang menunjang kenyamanan ibadah, mulai dari takjil berbuka puasa, makan sahur, kasur beserta sprei dan bantal, hingga buku panduan iktikaf.
“Ruangan yang bisa disediakan oleh Masjid Walidah Dahlan saat ini baru sekitar 37 orang. Fasilitas kami menyediakan makan sahur, takjil, kasur, dan buku panduan iktikaf. jemaah bisa mengikuti kajian, sahur bersama, tadarus bersama hingga ibadah mandiri,” jelasnya.
Salah satu jamaah iktikaf, Suharda. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
Bagi sebagian peserta, iktikaf bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang mendalam. Suharda, pria paruh baya asal Sedayu, Bantul, mengaku telah mengikuti iktikaf di Masjid Walidah Dahlan sejak hari pertama. Baginya, malam-malam ini menjadi waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon keberkahan, serta mendoakan keluarga yang telah tiada.
ADVERTISEMENT
“Dari dulu saya senang kalau ada iktikaf saya ikut, nyari Lailatul Qadr. Perasaannya senang, kita salat malam, berdoa agar panjang umur dan minta kesehatan untuk anak istri serta orang tua yang sudah tiada,” katanya ditemui Pandangan Jogja pada Rabu (26/3) dini hari.
Puspa Waritobe, mahasiswa kebidanan UNISA asal Nusa Tenggara Timur mengatakan bahwa iktikaf memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar berdiam diri di masjid. Ia merasakan ketenangan yang menurutnya berbeda, di mana setiap doa yang dipanjatkan terasa lebih khusyuk.
“Salat malam itu rasanya tenang, bisa curhat, dan insyaallah dapat hidayah. Doa saya, semoga dimudahkan dalam pendidikan dan orang tua diberi kesehatan,” ungkapnya.
Aktivitas jamaah iktikaf di Masjid Walidah Dahlan, Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta pada Rabu (26/3). Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
Bagi sebagian keluarga, iktikaf telah menjadi tradisi yang diwariskan. Seperti salah satu keluarga dari Kronggahan, mereka mengaku ingin menanamkan nilai spiritual sejak dini kepada anak-anak mereka. Hal itu telah dilakukan sejak anak ketiganya menduduki usia Taman Kanak-Kanak (TK).
ADVERTISEMENT
“Sudah sejak dia TK, kami iktikaf keluarga biar di sepuluh malam terakhir itu bisa meningkatkan ibadah bersama keluarga,” kata ibu sang ibu, Apri Hartati.
“Beberapa tahun kita kayak gini (iktikaf keluarga), tahun kemarin juga di sini. Nyaman di sini, kita sudah pernah coba di tempat lainnya, kalau di sini nyaman untuk keluarga dan anak, fasilitasnya juga komplet, jadi kita tinggal datang aja nggak usah bawa apa-apa,” jelasnya.
Pada malam-malam terakhir Ramadan, Masjid Walidah Dahlan menjadi saksi setiap kepala tertunduk dalam doa. Setiap tangan terangkat memohon ampunan, dan setiap hati berharap menemukan keberkahan Lailatul Qadr.