Kumparan Logo
Konten Media Partner

100 Perempuan Lintas Negara Bertemu di Jogja, Bahas Pemberdayaan lewat Budaya

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para delegasi Women’s International Club (WIC) yang berasal dari berbagai negara. Foto: Pandangan Jogja/Yusuf Hayy
zoom-in-whitePerbesar
Para delegasi Women’s International Club (WIC) yang berasal dari berbagai negara. Foto: Pandangan Jogja/Yusuf Hayy

Sekitar 100 delegasi dari belasan klub perempuan dari berbagai negara datang ke Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta, pada Kamis, 30 April 2026, untuk menghadiri rangkaian gala dinner dalam Konferensi Internasional Women’s International Club (WIC) ke-17 yang berlangsung di tiga kota di Indonesia.

Konferensi ini digelar pada 26 April hingga 5 Mei 2026 di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali, dengan mengusung tema “Bridging Traditions and Transformations: Empowering Women through Education and Cultural Heritage in a Changing World” yang berfokus pada pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan pelestarian budaya di tengah perubahan zaman.

Para delegasi Women’s International Club (WIC) yang berasal dari berbagai negara. Foto: Pandangan Jogja/Yusuf Hayy

Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam, menyebut WIC merupakan jaringan perempuan yang tersebar di berbagai negara dan aktif dalam kegiatan sosial.

“Tapi memang WIC ini tidak hanya di Jakarta tapi di seluruh dunia. Jadi kalau di seluruh dunia namanya Women Club International. Mereka memang senang berkumpul untuk membahas isu-isu sosial yang ada dan mereka setiap ceramah di Indonesia. Itu yang saya suka. Makanya saya mau mengadakan dinner untuk mereka karena mereka sosialnya besar,” katanya kepada tim Pandangan Jogja, Jumat (1/5).

Konferensi WIC ke-17 diselenggarakan di tiga kota, yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Bali, serta diikuti peserta dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Taiwan, Jerman, dan Inggris.

Selama berada di Yogyakarta, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan berbasis budaya, mulai dari mengunjungi Kampung Batik Giriloyo untuk belajar proses membatik hingga melakukan kunjungan ke Candi Borobudur.

instagram embed

Ketua Konferensi Internasional WIC, Nina Handoko, menjelaskan pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia secara langsung kepada peserta.

“Di Yogyakarta kami pergi ke Kampung Batik Giriloyo di mana para peserta kami belajar sendiri bagaimana caranya membikin batik yang ternyata susah banget. Habis sesudah dari itu kami ke Borobudur Teple juga dan pada malam hari ini kami dijamu di Pakualam oleh ibu Gusti Putri,” ujarnya.

Selain mengikuti agenda budaya, para peserta menghadiri jamuan makan malam di Pakualaman yang menjadi bagian dari rangkaian konferensi. Mereka tiba di lokasi dengan menaiki andong dari kawasan Malioboro menuju Puro Pakualaman.

Malam itu sekaligus menjadi momen diperkenalkannya Batik Asthabrata sebagai salah satu karya khas Pakualaman yang bersumber dari manuskrip kuno koleksi Perpustakaan Widyapustaka, seperti Sestradisuhul dan Sestra Ageng Adidarma, yang memuat ajaran kepemimpinan Jawa.

Para delegasi Women’s International Club (WIC) yang berasal dari berbagai negara. Foto: Pandangan Jogja/Yusuf Hayy

Ambassador of Belize to the Republic of China, Katherine Meighan, menyampaikan kesan terhadap Yogyakarta sebagai kota yang memiliki kekayaan budaya yang tercermin dalam kehidupan masyarakat.

“Jadi, hanya dengan melihat apa yang ditawarkan kota ini, seperti batik dan budaya yang ada di sini, kamu bisa melihatnya di berbagai lapisan kehidupan dan pada masyarakatnya kamu juga bisa mendengar dan merasakan semangat pada kecintaannya” uangkapnya

Konferensi ini mempertemukan perempuan dari berbagai negara untuk bertukar pengalaman serta memperkuat peran perempuan dalam isu sosial, pendidikan, dan pelestarian budaya di tingkat global.