Kumparan Logo
Konten Media Partner

40-an Warga di Sleman Alami Gejala Keracunan Usai Hadiri Pamitan Calon Haji

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puluhan warga di Sleman mengalami gejala keracunan setelah menyantap hidangan di acara pamitan calon jemaah haji. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
zoom-in-whitePerbesar
Puluhan warga di Sleman mengalami gejala keracunan setelah menyantap hidangan di acara pamitan calon jemaah haji. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Puluhan warga di Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menghadiri acara pamitan calon jemaah haji pada Minggu (3/5). Gejala yang dirasakan meliputi sakit perut, mual, pusing, diare, hingga demam tinggi.

Berdasarkan data sementara per Senin (4/5) pukul 13.45 WIB, sebanyak 30 warga mendatangi posko darurat di Rumah Dukuh Toragan, 8 orang melakukan pemeriksaan mandiri di RSA UGM, dan 3 orang memeriksakan diri ke Puskesmas Mlati.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Khamidah Yuliati, menyebut kejadian ini berawal dari konsumsi makanan dalam acara pamitan haji yang digelar pada Minggu pagi.

Dalam acara tersebut, tamu disajikan makanan ringan berupa lemper, pastel, donat, dan sus, serta makanan berat seperti nasi, ayam bakar, krecek, jeroan usus, telur rebus, pisang, dan lalapan timun.

“Kondisi makanan, krecek mulur, kecut,” kata Yuli saat dihubungi, Senin (4/5).

Puluhan warga di Sleman mengalami gejala keracunan setelah menyantap hidangan di acara pamitan calon jemaah haji. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Tuan rumah acara, Nayoko Bramantyo, juga mengalami gejala serupa. Ia menyebut telah memesan katering untuk sekitar 250 porsi yang dibagikan kepada warga dan kerabat.

“Kami korban juga. Di rumah ada tiga, saya, bapak saya dan adik saya. Diare, sekarang panas juga,” kata Nayoko usai menjalani pemeriksaan di posko darurat.

Ia meminta pihak katering bertanggung jawab atas kejadian tersebut. “Minta proses hukum, saya minta penjara 10 tahun soalnya sudah banyak orang korban dan kami minta denda, kalau bisa denda. Nggak pernah kami berbuat apa-apa,” kata Nayoko.

“Baru sekali pesan, kami pun menyesal soalnya dari waktu saja tidak on time, belum lagi bentuk kotaknya peyot-peyot,” tambahnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan warga masih terus berdatangan ke posko darurat hingga Senin siang.