Kumparan Logo
Konten Media Partner

51 Guru TK-PAUD Sleman Belajar Montessori untuk Hadapi Anak Kecanduan Gawai

Pandangan Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelatihan metode Montessori di Laboratorium Montessori Universitas Sanata Dharma, Rabu (13/5). Foto: Pandangan Jogja/Danang BK.
zoom-in-whitePerbesar
Pelatihan metode Montessori di Laboratorium Montessori Universitas Sanata Dharma, Rabu (13/5). Foto: Pandangan Jogja/Danang BK.

Penggunaan gawai semakin sulit dilepaskan dari kehidupan sehari-hari, tak hanya bagi orang dewasa, melainkan juga anak-anak usia dini. Guru TK ABA Gamplong, Moyudan, Sleman, Niken Ari Widyastuti, melihat langsung perubahan itu di kelasnya. Anak-anak didiknya cenderung lebih tertarik pada layar dibanding permainan fisik.

"Kalau anak kan karena sudah istilahnya terkontaminasi yang layar datar itu kan mereka jadi cenderung lebih suka pada layar," kata Niken kepada Pandangan Jogja, Rabu (13/5).

Untuk menghadapi itu, 51 guru TK dan PAUD dari 17 kapanewon di Kabupaten Sleman mengikuti pelatihan metode Montessori di Laboratorium Montessori Universitas Sanata Dharma, Rabu (13/5). Pelatihan yang digelar dalam rangka Bimbingan Teknis Pembelajaran dengan Strategi STEAM dan Literasi Numerasi ini diikuti anggota HIMPAUDI dan IGTKI Kabupaten Sleman.

Peserta mengikuti pelatihan Montessori dalam rangka Bimbingan Teknis Pembelajaran dengan Strategi STEAM dan Literasi Numerasi. Foto: Pandangan Jogja/Danang BK

Metode Montessori dinilai relevan karena berpusat pada kebutuhan dan ritme anak, bukan target akademik. Dosen PGSD Universitas Sanata Dharma, Apri Damai Sagita Krissand yang memandu bimtek, menjelaskan filosofi dasarnya.

"Montessori betul-betul melihat anak sebagai anak, bukan sebagai 'orang dewasa kecil'. Cara berpikir, perkembangan, kebutuhan bergerak, rasa ingin tahu, hingga ritme belajar anak sangat diperhatikan," ujar Apri.

Di sekolahnya, Niken menerapkan prinsip itu lewat aktivitas yang tidak ditemui anak di rumah, seperti bermain balok, kartu angka dan huruf, hingga permainan tradisional seperti petak gunung dan lompat tali.

"Misalnya seperti permainan-permainan zaman dulu kita kembalikan lagi, biar anak itu enggak cuma layar terus yang dilihat," ujarnya.

instagram embed

Salah satu temuan menarik dari pelatihan: banyak peserta baru menyadari bahwa aktivitas yang selama ini mereka terapkan di kelas sebenarnya sudah bagian dari metode Montessori.

"Cuma kita nggak tahu itu namanya Montessori. Karena kayak tadi terkait menjodohkan, nah itu kan ternyata juga kegiatan-kegiatan Montessori ya," ujar Ketua HIMPAUDI Kabupaten Sleman sekaligus Kepala Sekolah Kelompok Bermain (KB) Alam Uswatun Hasanah, Sri Lestari.

Usai bimtek, Sri Lestari berencana membenahi pemahaman di sekolahnya soal literasi numerasi untuk anak usia dini. "Selama ini mereka masih pahamnya literasi itu sebatas calistung," ujarnya.

Pelatihan diikuti oleh 51 guru TK dan PAUD dari 17 kapanewon di Kabupaten Sleman. Foto: Pandangan Jogja/Danang BK.

Meski begitu, ada hambatan yang belum mudah diatasi: alat Montessori relatif mahal. Niken menyiasatinya dengan bahan lokal.

"Mayoritas mahal nggih harganya. Jadi kami biasanya hanya mengusahakan yang didasari kalangan lokal. Misalnya kayak balok-balok mainan dari tukang kayu," ujarnya.

Lebih lanjut, Apri mendorong agar prinsip Montessori tidak hanya diidentikkan dengan sekolah swasta tertentu.

"Persentase sekolah yang menerapkan Montessori secara penuh masih kecil dan umumnya sekolah swasta tertentu. Padahal prinsip-prinsipnya sangat mungkin diterapkan juga di sekolah biasa dengan pendekatan yang lebih sederhana dan kontekstual," ujarnya.

Bagi sekolah atau komunitas yang ingin mengakses pelatihan serupa, Apri mengarahkan ke P4 (Pusat Penelitian dan Pelayanan Pendidikan) USD atau FKIP USD untuk kelompok besar, dan Prodi PGSD untuk peserta kecil atau perorangan.