Ada 112 Desa Wisata di Jogja tapi Ternyata Wisatawan Tidak Tertarik

Konten Media Partner
21 Juni 2022 14:20
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
ADVERTISEMENT
Masih jarang wisatawan lokal yang tertarik pada wisata-wisata edukasi berbasis kearifan kehidupan desa.
Wisata susur Gua Ngingrong di Desa Wisata Mulo. Foto: Pokdarwis Mulo
zoom-in-whitePerbesar
Wisata susur Gua Ngingrong di Desa Wisata Mulo. Foto: Pokdarwis Mulo
Desa wisata jadi salah satu andalan sektor pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Karena dibangun dan dikelola berbasis masyarakat, desa wisata digadang-gadang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Sedikitnya ada 112 desa wisata yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di DIY.
ADVERTISEMENT
Namun membangun desa wisata tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi dua tahun terakhir pandemi benar-benar membuat sektor pariwisata lumpuh.
Ketua Unit Wisata Desa Wisata Mulo di Gunungkidul, Oktiawan Setia Budi, mengatakan, bahkan sebelum pandemi peminat wisatawan untuk berwisata di Desa Wisata Mulo masih sangat kecil. Sebagian besar hanya datang ke Gua Ngingrong, sekadar untuk makan atau berfoto saja.
“Tapi untuk desa wisata yang live in atau menginap masih belum ada,” kata Oki, sapaan Oktiawan Setia Budi, saat dihubungi Pandangan Jogja @Kumparan, Senin (20/6).
Sentra kerajinan batu alam di Desa Wisata Mulo. Foto: Pokdarwis Mulo
zoom-in-whitePerbesar
Sentra kerajinan batu alam di Desa Wisata Mulo. Foto: Pokdarwis Mulo
Padahal, Desa Wisata Mulo adalah salah satu langganan juara lomba desa wisata di tingkat nasional yang mulai dikembangkan selama hampir 10 tahun. Salah satu kendala yang dihadapi oleh Desa Wisata Mulo adalah belum siapnya homestay yang bisa digunakan oleh wisatawan untuk menginap.
ADVERTISEMENT
Sebab, rumah penduduk yang bisa digunakan sebagai homestay wisatawan mesti memenuhi standar internasional, terutama memiliki sanitasi yang baik.
“Karena belum siap, jadi promosi kami lebih banyak mengarah ke one day tour desa wisata, hanya satu hari saja,” ujarnya.
Padahal potensi Desa Mulo sangat banyak, mulai dari kesenian, kerajinan, sampai wisata alam yang tidak cukup waktu sehari untuk dieksplorasi.
Oki mengatakan, memang masih banyak sekali pekerjaan rumah yang mesti dikerjakan desa wisata, termasuk Desa Wisata Mulo yang sebenarnya sudah cukup baik pengelolaannya. Mulai dari kelengkapan infrastruktur fisik, promosi, sampai keterampilan masyarakat dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan.
Wisata alam sungai di Desa Tamanmartani. Foto: Projectlensa Production
zoom-in-whitePerbesar
Wisata alam sungai di Desa Tamanmartani. Foto: Projectlensa Production
Hal serupa disampaikan oleh Ketua Divisi Pemasaran Paguyuban Wisata Tamanmartani di Prambanan, Sleman, Dobrak Tirani Tegak Nurani.
ADVERTISEMENT
Menurut Dodo, panggilan akrab Dobrak Tirani, menarik minat wisatawan lokal pada desa wisata memang bukan perkara gampang. Masih jarang wisatawan lokal yang tertarik pada wisata-wisata edukasi berbasis kearifan kehidupan desa.
Karena itu, Desa Wisata Tamanmartani menurut dia lebih menyasar kepada wisatawan mancanegara yang cenderung lebih tertarik dengan wisata-wisata edukasi.
“Sejauh ini baru satu-dua yang datang dan menginap. Itupun teman-teman kami saja,” ujarnya.
Wisata edukasi wayang kulit di Desa Tamanmartani. Foto: Projectlensa Production
zoom-in-whitePerbesar
Wisata edukasi wayang kulit di Desa Tamanmartani. Foto: Projectlensa Production
Kontribusi pemerintah dalam membangun desa wisata menurutnya juga belum optimal. Saat ini, peran pemerintah baru sebatas level kesadaran. Tapi, membangun desa wisata tak cukup dengan modal kesadaran, perlu juga didukung dengan peningkatan keterampilan konseptual, teknis, dan komunikasi supaya desa wisata tersebut bisa berkembang.
“Menurut saya, pemerintah baru bergerak efektif pada tahap kesadaran. Belum pada peningkatan keterampilan-keterampilan yang melandasi kemandirian tersebut,” lanjutnya.
ADVERTISEMENT
Tanpa dibekali keterampilan yang memadai, pembangunan desa wisata justru bisa menjadi petaka bagi pertumbuhan desa wisata di Indonesia, termasuk bagi masyarakat setempat. Kegiatan pariwisata sangat mungkin mandek di tengah jalan, bahkan bisa memicu konflik sosial terkait pembagian pendapatan pariwisata terutama untuk bisnis pariwisata yang didasarkan pada konsep padat modal.
“Untuk menghindari bumerang itu, alangkah baiknya desa wisata dibangun berdasarkan potensi yang sudah ada dan peningkatan keterampilan sangat dibutuhkan supaya masyarakat bisa mengolah potensi yang ada di desanya,” ujar Dobrak Tirani Tegak Nurani.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020