Kumparan Logo
Konten Media Partner

Aedes aegypti Nyamuk yang Pintar, Peneliti: Susah Tangani DBD Cuma dengan PSN 3M

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Riris Andono Ahmad saat membiarkan tangannya digigit oleh ratusan nyamuk ber-wolbachia. Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Riris Andono Ahmad saat membiarkan tangannya digigit oleh ratusan nyamuk ber-wolbachia. Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja

Peneliti nyamuk wolbachia yang juga Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM, Riris Andono Ahmad, mengatakan bahwa sulit menangani kasus demam berdarah dengue (DBD) dengan hanya mengandalkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Menguras, Menutup, dan Mengubur (PSN 3M).

Sebelumnya, mantan Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari, mengkritik rencana pemerintah untuk menyebar nyamuk Aedes aegypti dengan bakteri wolbachia ke lima kota untuk menangani DBD. Menurut Siti, program PSN 3M yang dilakukan pemerintah sudah efektif untuk turunkan kasus DBD sehingga tak perlu menyebarkan nyamuk ber-wolbachia.

Riris Andono Ahmad mengatakan, bisa saja mengendalikan DBD dengan program PSN 3M. Tapi untuk bisa berdampak signifikan, program PSN 3M harus dilakukan secara rutin, luas, dan terus menerus sehingga butuh energi dan biaya yang besar.

kumparan post embed

Apalagi bukan perkara mudah menjamin semua masyarakat menerapkan PSN 3M secara disiplin.

“Jadi kalau mau satu kota itu terkontrol dengue-nya minimal setiap minggu, terus menerus sepanjang tahun sampai akhir zaman, PSN itu dilakukan,” kata Riris Andono Ahmad saat dihubungi Pandangan Jogja, Rabu (22/11).

Hal ini karena nyamuk Aedes aegypti adalah nyamuk yang sangat pintar berevolusi di lingkungan manusia. Mereka bisa tinggal di rumah warga dan bertelur di sembarang tempat yang ada airnya.

“Bahkan kalau tidak ada airnya telurnya bisa bertahan selama 6 bulan, begitu ada air dia bisa menetas lagi,” ujarnya.

Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti. Foto: Shutterstock

Riris juga menyampaikan meski sudah puluhan tahun Indonesia menerapkan PSN 3M, namun data menunjukkan bahwa kasus DBD dan kematian akibat DBD terus meningkat dari tahun ke tahun.

Efektivitas PSN 3M menekan DBD semakin sulit dengan adanya pemanasan global, sebab nyamuk Aedes aegypti menyukai suhu yang hangat. Itu mengapa, daerah-daerah di dataran tinggi Indonesia kini sudah banyak ditemukan kasus DBD.

kumparan post embed

Karena itu, intervensi menggunakan nyamuk ber-wolbachia menurutnya perlu dilakukan untuk menekan DBD. Proses penyebaran tak harus dilakukan terus menerus, sebab mereka akan berkembang biak secara alami.

Nyamuk betina ber-wolbachia jika kawin akan menghasilkan anak-anak nyamuk yang juga sudah memiliki bakteri wolbachia. Sedangkan nyamuk jantan ber-wolbachia jika kawin dengan nyamuk lokal maka semua telurnya tidak akan menetas. Dengan begitu maka populasi nyamuk akan tetap stabil.

“Sehingga kita tidak harus melakukan intervensi terus menerus, sehingga biaya yang dikeluarkan tentu jauh lebih murah,” kata Riris Andono Ahmad.