Alasan Auditorium Driyarkara USD Sering Dipilih untuk Konser Orkestra di Jogja

Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD) kembali menjadi lokasi penyelenggaraan Artistic Collaboration Concert Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (16/7). Bagi Universitas Sanata Dharma, penggunaan Auditorium Driyarkara sebagai panggung konser orkestra bukan hal baru. Sebelumnya, gedung tersebut juga menjadi lokasi pertunjukan Gadjah Mada Chamber Orchestra dan Grego Julius Orchestra.
Menurut pihak kampus, Auditorium Driyarkara sejak awal dirancang sebagai single function auditorium untuk pertunjukan musik dan seni. Fungsi bangunan, tata ruang, hingga pengolahan aspek akustik menjadi bagian dari perancangannya sehingga mendukung penyelenggaraan pertunjukan musik, termasuk konser orkestra.
Di balik desain Auditorium Driyarkara, terdapat penerapan prinsip dasar akustik yang menjadi acuan dalam perancangannya. Hal itu diulas dalam jurnal Penerapan Prinsip Dasar Akustik pada Perancangan Auditorium Driyakara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karya Istiana Adianti dan Nurina Vidya Ayuningtyas yang diterbitkan dalam SINEKTIKA Jurnal Arsitektur.
Dalam perancangan auditorium, prinsip akustik diterapkan untuk mengatur kualitas suara di dalam ruang pertunjukan agar suara dari panggung dapat terdengar merata oleh penonton sekaligus meminimalkan gangguan kebisingan. Penerapannya diwujudkan melalui tata ruang, bentuk bangunan, hingga pemilihan material interior.
Auditorium Driyarkara dirancang untuk mengakomodasi pertunjukan berskala besar. Bangunan ini memiliki kapasitas hingga 1.200 penonton, terdiri atas dua lantai dan dua basement, serta dilengkapi ruang pertemuan sebagai fungsi pendukung.
Penerapan prinsip akustik juga terlihat dari penataan ruang di dalam bangunan. Ruang utama ditempatkan di bagian tengah, sedangkan ruang-ruang penunjang mengelilinginya untuk membantu meredam kebisingan dari luar sebelum mencapai ruang pertunjukan.
"Ruang Inti (auditorium) diletakkan di tengah bangunan, ruang ruang penunjang mengelilingi ruang inti terutama dominan berada di sekitar pintu masuk bangunan. Ruang penunjang ini berfungsi sebagai barrier noise," dikutip dari jurnal Penerapan Prinsip Dasar Akustik pada Perancangan Auditorium Driyakara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Senin (20/7).
Selain melalui tata ruang, prinsip akustik juga diterapkan pada bentuk ruang dan pemilihan material interior. Dinding dibuat bergerigi dengan pelapis papan akustik. Lantai panggung menggunakan HPL laminate sebagai pemantul suara instrumen, sedangkan area penonton menggunakan karpet. Langit-langit di atas panggung dilapisi kayu ramin bertekstur halus, sementara langit-langit di atas area penonton dibuat melengkung dengan lapisan gipsum berongga.
"Untuk meningkatkan kualitas akustiknya maka dindingnya dibuat bergerigi dengan pelapis papan akustik (jayabell)," tulis jurnal tersebut.
Jurnal tersebut menegaskan bahwa aspek akustik menjadi syarat utama dalam perancangan sebuah auditorium. Prinsip akustik tersebut diterapkan melalui penataan ruang, bentuk bangunan, hingga pemilihan material yang digunakan di Auditorium Driyarkara.
