Anton Diserang Polio, Sumarto Hanya Punya Sebelah Mata, tapi Lihat Kerja Mereka
·waktu baca 6 menit

Suara gergaji mesin menggema memenuhi sebuah ruangan yang luas. Ruangan itu penuh dengan tumpukan potongan kayu dan mebel yang masih setengah jadi. Suara mesin makin kencang, setiap Anton Gunawan, 42 tahun, mendorong sepotong kayu mahoni pada permukaan gergaji yang tajam dan berputar kencang. Dalam hitungan detik, balok kayu itu telah terbelah menjadi dua.
Seperti sedang beribadah, Anton begitu tenang dan khidmat dalam menjalankan setiap detik pekerjaannya. Kakinya tidak bisa leluasa bergerak. Sejak usia empat tahun, dia terkena polio yang sempat melumpuhkan kakinya. Beruntung setelah menjalani berbagai terapi, dia bisa berjalan lagi meski tak bisa kembali normal seperti sediakala.
“Kalau buat berdiri biasa ndak masalah, tapi kalau angkat beban berat ndak kuat,” kata Anton di sela pekerjaannya, Sabtu (29/5).
Kakinya boleh lemah, tapi tangannya yang kekar begitu sempurna untuk menyulap kayu menjadi mebel atau berbagai macam kerajinan. Sudah sejak 2007, Anton menjadi perajin kayu di Yayasan Penyandang Cacat Mandiri Yogyakarta di Sewon, Bantul. Di tempat itulah selama hampir 15 tahun Anton meniti kariernya di bidang perkayuan untuk menyambung hidup.
“Hasilnya cukuplah untuk nutup kebutuhan,” jawabnya malu-malu saat ditanya penghasilannya setiap bulan.
Anton tinggal di Kretek, Bantul, sekitar 20 kilometer dari tempat kerjanya. Dia mesti berangkat setiap pukul tujuh pagi mengendarai sepeda motor bebek yang telah dimodifikasi menjadi beroda tiga. Perjalanan dari rumah sampai tempat kerjanya memakan waktu sekitar 45 menit.
Kadang, ketika bekerja terlalu berat atau capai, kakinya kerap merasa sakit dan pegal karena virus polio yang menggerogotinya. Obatnya, cukup istirahat sejenak sambil memijit-mijit sendiri lututnya, lalu kerja lagi.
Tidak jarang dalam perjalanannya berangkat atau pulang kerja dia melihat orang-orang dengan keterbatasan yang sama mengemis di jalanan. Bahkan, dia pernah mendengar orang dengan anggota tubuh yang sempurna pura-pura menjadi cacat untuk mendapatkan belas kasihan orang lain.
“Selama saya masih bisa mencari rezeki sendiri, pantang bagi saya untuk meminta-minta. Asal ada kemauan, pasti selalu ada jalan,” kata Anton, menyalakan lagi mesin gergajinya.
Sebelah Mata yang Tersisa
Di ruangan yang sama, Sumarto, 63 tahun, juga sedang melakukan pekerjaan yang tak jauh berbeda dengan Anton. Bedanya, balok kayu yang dia potong ukurannya jauh lebih kecil. Nantinya, potongan-potongan kayu akan dijadikan sebagai rangka kursi rotan.
Beberapa kali, Sumarto harus membetulkan letak masker merahnya yang sedikit melorot. Dia harus melakukan pekerjaannya setenang mungkin, karena kayu yang dia potong mesti benar-benar presisi bahkan sampai hitungan milimeter.
“Beda setengah senti saja jadi masalah, buyer ndak mau,” kata Sumarto.
Yang menjadi masalah adalah, dia hanya bisa menggunakan mata sebelah kiri saja. Glaukoma sekunder yang dia alami sekitar 10 tahun silam, membuat bola mata kanannya mesti diangkat. Praktis, sembilan tahun sudah dia hidup hanya dengan mata sebelah kirinya.
Menggunakan sepasang mata saja bukan perkara gampang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang butuh ketelitian dan akurasi tingkat tinggi seperti yang dikerjakan Sumarto. Apalagi hanya mengandalkan sebelah mata yang kini juga harus didukung dengan kacamata berlensa plus seiring usianya yang sudah tak muda lagi. Tapi makin hari, dia makin bisa beradaptasi hidup dengan sebelah mata.
“Awal-awal buat fokus sulit, agak cenut-cenut, tapi sekarang sudah terbiasa,” ujarnya.
Sumarto bukanlah perajin kayu amatiran. Dia sering menerima pesanan untuk membuat lemari, meja, dan perlengkapan kamar lain dari beberapa hotel terkenal di Jogja, sebutlah Hotel Melia Purosani dan Grand Zuri. Salah satu spesialisnya adalah membuat kursi rotan, yang butuh ketelatenan ekstra.
“Karena belum tentu orang telaten bikin kursi seperti ini, jadi saya fokus ke sini,” ujarnya.
Kehilangan sebelah mata tak lantas membuat Sumarto mengharap belas kasihan dan menggantungkan seluruh hidupnya pada orang lain. Sebagai seorang kepala keluarga, mengepulnya dapur adalah tanggung jawab utamanya.
Tak jauh berbeda dengan Anton, Sumarto juga punya prinsip selama anggota tubuhnya masih bisa dimanfaatkan untuk mencari rezeki, maka selama itu juga akan dia manfaatkan sebisa mungkin untuk menyambung hidupnya dan keluarganya.
“Pendapatan sehari Rp 110 ribu, Alhamdulillah cukup buat kebutuhan, masih bisa nabung juga karena istri juga kerja jadi pembantu rumah tangga,” kata Sumarto.
Ekspor sampai ke Inggris
Meski digarap oleh para penyandang disabilitas, bukan berarti kualitas mebel yang dihasilkan abal-abal. Ketua Pengurus Yayasan Penyandang Cacat Mandiri Yogyakarta, Joko Purwadi, mengatakan bahwa mebel yang sedang dibuat oleh mereka nantinya akan dikirimkan ke Inggris sebagai komoditas ekspor.
Soal kualitas, dia berani bertaruh, bahwa mebel maupun kerajinan lain yang dihasilkan pekerja disabilitas itu tidak kalah dibandingkan dengan produk yang dihasilkan pekerja ‘normal’.
“Minimal kualitasnya sama, seringnya malah lebih baik,” ujar Joko ketika ditemui di kantornya.
Meski secara fisik para penyandang disabilitas itu punya keterbatasan, tapi mereka punya kelebihan yang tak dimiliki semua orang, bahkan mereka yang memiliki anggota tubuh lengkap. Para penyandang disabilitas, punya ketekunan, ketelatenan, serta kesabaran di atas rata-rata. Itulah yang membuat produk-produk mereka memiliki kualitas terbaik.
“Tentunya didukung dengan bahan-bahan yang terbaik juga,” lanjutnya.
Sebelumnya, mereka sebenarnya fokus untuk membuat alat peraga edukasi dari kayu, misalnya puzzle. Menggaet pasar TK dan PAUD, produk-produk peraga edukasi mereka telah menyebar hampir ke seluruh kota di Indonesia. Satu-satunya kendala mereka adalah harga jual produk mereka yang ada di atas rata-rata para pesaingnya karena memaksakan menggunakan bahan-bahan dengan kualitas terbaik.
Pernah Joko menawarkan kepada para pekerja disabilitas itu untuk membuat produk KW dengan menurunkan kualitas bahan baku yang dipakai.
“Tapi mereka enggak mau, katanya takut akan merusak reputasi kita ke depan. Jadi mereka juga punya idealisme yang kuat mengenai kualitas produk yang dibuat,” ujarnya.
Awal pandemi kemudian membuat dunia pendidikan mandek, sekolah tatap muka ditiadakan sampai sekarang, penjualan alat peraga edukasi pun macet. Mereka mesti memutar otak, bagaimana supaya bisa bertahan dalam situasi yang membuat semua orang kalang kabut.
Akhirnya mereka memutuskan untuk beralih membuat mebel seperti kursi, meja, lemari, dan sebagainya. Perusahaan eksportir mebel mengajak mereka bekerja sama untuk memproduksi mebel yang kemudian diekspor ke Inggris.
“Ternyata mereka cukup cepat beradaptasi, kemauan belajarnya sangat tinggi, itu juga yang membuat mereka akhirnya bisa survive di tengah pandemi seperti sekarang,” kata Joko Purwadi.
Dihubungi terpisah, Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Penanggulangan Kemiskinan yang juga pendiri Difanesia.id, Imam Aziz, mengatakan bahwa daya survival teman-teman difable di masa pandemi musti menjadi perhatian luas publik. Sebab mereka begitu rentan tapi juga sekaligus begitu tabah dan terus semangat untuk berproduksi.
Penanganan pandemi menurut Imam musti benar-benar tidak boleh meninggalkan penyandang disabilitas, alih-alih, semestinya justru mendapat perhatian lebih. “Kita semua tahu target dalam Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Visi Indonesia 2045 adalah inklusifitas sehingga terjadi peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jangan sampai pandemi makin menyulitkan peningkatan kualitas ini terutama bagi para penyandang difabel. Kuncinya, jangan hanya dilihat sebagai dampingan dinsos tapi semestinya kemendag dan kemenperin, sebab mereka bisa berproduksi,” papar Imam.
