Atlet Sepatu Roda Makin Banyak, tapi DIY Tak Punya Tempat Latihan yang Layak

Konten Media Partner
4 Januari 2023 19:39 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Seorang anak sedang berlatih dengan sepatu roda di stadion Sultan Agung, Sabtu (18/9). (Pandangan Jogja/Danang Bakti)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang anak sedang berlatih dengan sepatu roda di stadion Sultan Agung, Sabtu (18/9). (Pandangan Jogja/Danang Bakti)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Atlet sepatu roda di DIY mengalami kenaikan signifikan selama masa pandemi COVID-19. Saat ini, dari 8 klub sepatu roda yang berada di bawah pembinaan Persatuan Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) DIY, memiliki sekitar 500 atlet. Jumlah ini mengalami kenaikan signifikan jika dibandingkan dengan masa sebelum Pandemi COVID-19.
ADVERTISEMENT
Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Perserosi Sleman, Deny Suharyanti. Di Sleman saja menurut dia saat ini ada 340-an atlet sepatu roda dari beberapa kategori mulai dari speed, freestyle, aggressive, dan skateboard. Jumlah ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan sebelum pandemi.
“Naiknya sangat drastis selama pandemi. Bahkan ada atlet binaan kami yang usianya masih 3 tahun,” kata Deny Suharyanti saat dihubungi, Rabu (4/1).
Sayangnya penambahan atlet sepatu roda di Yogya menurutnya tidak diimbangi dengan ketersediaan fasilitas latihan memadai. Di DIY saja, lintasan sepatu roda yang memenuhi standar hanya ada di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul.
“Itupun masih outdoor, jadi kalau hujan ya enggak bisa latihan,” lanjutnya.
Di Kabupaten lain kondisinya lebih sulit. Di Sleman misalnya, biasanya para atlet berlatih di halaman parkir Stadion Maguwoharjo. Kendalanya, jika ada event-event lain yang digelar di Stadion Maguwoharjo, maka kawasan parkir tersebut tak bisa dipakai untuk latihan para atlet sepatu roda.
ADVERTISEMENT
Dengan situasi seperti itu, maka sulit untuk mengoptimalkan potensi atlet-atlet berbakat. Karena itu, dia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada perkembangan sepatu roda di DIY, sehingga tren positif ini tidak terlewat begitu saja.
“Besar harapan kami bisa memiliki lintasan yang sesuai dengan standar seperti halnya di JIRTA (Jakarta International Roller Track Arena) atau venue-venue lain yang memadai sehingga bisa memaksimalkan prestasi atlet-atlet kami,” kata Deny Suharyanti.
Anak-anak yang sedang berlatih dengan sepatu roda di stadion Sultan Agung, Sabtu (18/9). (Pandangan Jogja/Danang Bakti)
Hal sama disampaikan oleh pengurus Black Hawk, salah satu klub sepatu roda yang berbasis di Sleman, Ferry Wiharsasto. Dia mengatakan selama ini atlet-atletnya seringkali tak bisa latihan karena kendala cuaca atau Stadion Maguwoharjo digunakan untuk event lain.
“Bahkan teman-teman di Gunungkidul itu tidak punya tempat latihan, jadi mereka harus turun ke Yogya kalau mau latihan,” kata Ferry Wiharsasto.
ADVERTISEMENT
Dia juga mengatakan bahwa dari segi lintasan hanya lintasan sepatu roda di SSA Bantul saja yang memenuhi standar dan cukup layak untuk digunakan latihan.
“Itupun masih outdoor, jadi kalau hujan ya bubar, enggak bisa latihan,” ujarnya.
Dia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada perkembangan olahraga sepatu roda di DIY, salah satunya dengan menyediakan tempat latihan yang layak dan khusus digunakan untuk olahraga sepatu roda atau sejenisnya saja.
“Jadi atlet bisa fokus latihan, tidak harus mengalah lagi kalau ada event lain kayak sepak bola, pacuan kuda, dan sebagainya,” kata Ferry Wiharsasto.