Kumparan Logo
Konten Media Partner

Bayi di Gendongan, Lansia di Kursi Roda, & Tunanetra dalam Hening Mubeng Beteng

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ribuan orang mengikuti prosesi mubeng beteng di Keraton Yogyakarta pada Selasa (16/6) malam kemarin. Foto: Pandangan Jogja/Arif UT
zoom-in-whitePerbesar
Ribuan orang mengikuti prosesi mubeng beteng di Keraton Yogyakarta pada Selasa (16/6) malam kemarin. Foto: Pandangan Jogja/Arif UT

Tepat pukul 00.00 WIB, lonceng di Kagungan Dalem Kamandungan Lor Keraton Yogyakarta dibunyikan 12 kali sebagai penanda pergantian Tahun Baru Jawa Be 1960.

Ribuan peserta yang telah menunggu sejak malam kemudian mulai berjalan, tanpa suara, bahkan sebagian tanpa alas kaki mengelilingi Benteng Keraton Yogyakarta, Selasa (16/6).

Rute yang dilewati sepanjang sekitar lima kilometer itu melintasi kawasan Rotowijayan, Kauman, KH Wahid Hasyim, MT Haryono, Brigjen Katamso, Ibu Ruswo, hingga kembali ke kompleks Keraton.

Di sepanjang perjalanan, peserta berjalan dalam diam sebagai bagian dari laku refleksi yang menjadi ciri tradisi tahunan tersebut.

Tradisi Mubeng Beteng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015. Tahun ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, peserta yang mengikuti prosesi datang dari berbagai latar belakang dan rentang usia.

Bayi 2,5 Bulan Ikut Mubeng Beteng

Amin dan Putri, pasangan suami istri yang mengajak bayinya mubeng beteng Keraton Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Di antara peserta yang berjalan malam itu, sebelum Hajad Kawula Dalem benar-benar dimulai, Pandangan Jogja bercakap-cakap dengan pasangan suami istri yang mengenakan seragam lurik.

Andi dan Putri membawa buah hati mereka yang bernama Bening. Sang anak tidak ikut serta lampah, melainkan berada dalam gendongan ibunya sebab ia masih berusia 2,5 bulan.

Andi yang sudah 3 kali berturut-turut ikut Mubeng Beteng menyebut keikutsertaan sang anak merupakan upaya mengenalkan budaya Jawa sejak dini.

“Ini baru dua bulan setengah. Saya ingin mengenalkan budaya Jawa terhadap anak saya sendiri,” ujarnya ke Pandangan Jogja, Selasa, (16/6) malam WIB.

Peserta mubeng beteng Keraton Yogyakarta yang mengenakan kebaya peninggalan nenek. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Bukan hanya keluarga kecil Andi yang antusias menjalani Mubeng Beteng, sekelompok perempuan muda juga kompak mengenakan kebaya yang tampak vintage. Mereka adalah Ataya, Ciara, Fuska, dan Feli.

Saat ditanyai, rupanya keempat Gen Z yang berkerabat itu sengaja mengenakan kebaya warisan keluarga saat mengikuti Mubeng Beteng.

“Untuk outfit-nya kami itu semua dari turunan eyang, warisan dari eyang,” kata Ataya bersemangat.

Ia mengatakan kebaya tersebut merupakan peninggalan neneknya yang hingga kini masih digunakan oleh anggota keluarga.

“Eyang itu cukup banyak kebaya-kebaya dan bagus-bagus quality-nya. Jadi ini menjadi memorable buat kita.” Sambungnya.

Lima Kilometer Mendorong Sang Ibu

instagram embed

Usai acara, Pandangan Jogja berjumpa peserta lainnya, Mia, mengikuti Mubeng Beteng bersama ibunya, Ngatira (78), yang menggunakan kursi roda.

Bagi Mia, pengalaman itu mengingatkannya pada Mubeng Beteng yang pernah ia ikuti sekitar 15 tahun lalu saat menggendong anaknya yang masih balita.

“15 tahun yang lalu ngajak anak waktu anak usia tiga tahun kurang sedikit ya. Gendong. Cuma berdua aja sama anak. Nah sekarang sama ibu,” katanya mengenang.

Karena menggunakan kursi roda, Mia dan ibunya memulai perjalanan dari barisan belakang. Meski demikian, ia bertekad menyelesaikan seluruh rute hingga garis akhir.

“Memang harus kuat. Jadi pengennya memang harus kuat sampai akhir. Nggak berhenti di tengah jalan. Sudah tak niatin gitu.”

Ribuan orang mengikuti prosesi mubeng beteng di Keraton Yogyakarta pada Selasa (16/6) malam kemarin. Foto: Pandangan Jogja/Arif UT

Mendorong kursi roda sejauh sekitar lima kilometer di tengah ribuan peserta bukan perkara mudah. Namun Mia mengaku tetap menikmati perjalanan tersebut.

“Iya capek sih. Tapi karena senang juga ya pengen dorong ibu, jadi nggak kerasa capeknya.”

Dalam perjalanan, sejumlah abdi dalem memberi ruang agar kursi roda yang didorongnya dapat melintas.

“Start-nya paling akhir karena ibu pakai kursi roda. Sampai Pojok Beteng Kulon ada abdi dalem ngasih jalan terus. Jadi saya tertantang,” ujarnya.

Tunanetra Menjalani Tapa Bisu

Penyandang disabilitas netra turut mengikuti prosesi mubeng beteng Keraton Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Lima penyandang tunanetra juga mengikuti Mubeng Beteng bersama pendamping. Mereka merupakan atlet goalball yang rutin mengikuti kegiatan tersebut.

“Ya ini ada lima orang. Untuk yang lain ini biasanya tujuh. Pengalamannya sangat seru dan penuh semangat,” kata Yono.

Menurut dia, suasana hening selama perjalanan menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi dan bersyukur.

“Jalan dalam keadaan diam, hikmat. Di antara ribuan orang kita berusaha introspeksi diri, juga bersyukur untuk keselamatan yang diberikan sampai satu tahun dan bisa mengikuti lagi Mubeng Beteng yang tahun ini.”

Peserta lainnya, Joko Susanto, mengatakan kebersamaan menjadi salah satu alasan ia terus mengikuti kegiatan tersebut.

“Kalau kita mengikuti laku itu sendiri, itu akan terasa berat. Tapi kalau kita menjalaninya bareng-bareng, itu terasa ringan,” katanya.

instagram embed