BEM UGM Ganti Nama jadi Serikat Mahasiswa, Posisinya Setara dengan Ormawa Lain
·waktu baca 3 menit

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi berubah nama menjadi Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM. Deklarasi perubahan nomenklatur tersebut dilakukan di Bundaran UGM, Senin (1/6).
Ketua SEMA UGM, Sheron Adam Funay, mengatakan perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nama. Menurutnya, SEMA dibentuk dengan struktur yang tidak lagi menempatkan organisasi mahasiswa tingkat universitas di atas organisasi mahasiswa tingkat fakultas seperti yang selama ini kerap dilekatkan pada BEM.
“Serikat Mahasiswa itu bukan lagi sebagai badan eksekutif yang hirarkis. Akan tetapi yang egaliter, yang setara dengan teman-teman fakultas. Yang mencoba untuk mengobati berbagai macam penyakit, terutama adalah fragmentasi gerakan itu sendiri,” kata Sheron kepada awak media usai deklarasi, Senin (1/6).
Saat ini SEMA UGM beranggotakan sekitar 350 mahasiswa. Sheron menjelaskan perubahan dari BEM menjadi SEMA tetap menghargai sejarah gerakan mahasiswa UGM, namun tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini dinilai berbeda dibanding saat BEM pertama kali lahir.
“BEM itu terlahir dari Serikat Mahasiswa. Apa yang sudah terjadi sebelumnya, di zaman Orde Baru, dan terus lahirlah BEM, dalam konteks sekarang dan zaman sekarang, kita melihat ada permasalahan-permasalahan yang baru, sehingga bukan hanya namanya yang berubah, tapi cara kerjanya juga berubah,” ujarnya.
Perubahan juga dilakukan pada mekanisme regenerasi kepemimpinan. Jika selama ini pimpinan BEM dipilih melalui Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa), SEMA akan menggunakan sistem pemilihan internal. Dalam waktu dekat, organisasi tersebut akan fokus menuntaskan transformasi kelembagaan, termasuk penyusunan AD/ART.
“Goals-nya terutama adalah sudah menuntaskan transformasi saja sebenarnya, itu goals terutamanya. Agenda terdekat kita, seperti organisasi pada umum ya, kita membicarakan ADRT dan sebagainya,” lanjutnya.
Ketua BEM UGM 2025, Tiyo Ardianto, yang turut hadir dalam deklarasi tersebut, menyebut transformasi menuju SEMA merupakan upaya merespons perubahan zaman dan tantangan gerakan mahasiswa saat ini. Ia menilai bentuk organisasi mahasiswa perlu menyesuaikan konteks yang dihadapi generasi sekarang.
“Apa yang dulu dilakukan oleh senior kita, mas Anies Baswedan dan kawan-kawan ketika mencetuskan BEM, itu adalah respons dari zamannya. Ketika yang dihadapi waktu itu adalah rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto,” kata Tiyo.
“Hari ini ketika Prabowo Subianto, beberapa hal terjadi dan kondisinya lebih mutakhir. Kita punya kesadaran bahwa organisasi gerakan BEM itu perlu bertransformasi,” sambungnya.
Menurut Tiyo, salah satu persoalan yang kini dihadapi gerakan mahasiswa adalah tingginya tingkat apatisme mahasiswa terhadap organisasi. Karena itu, pendekatan yang selama ini bertumpu pada representasi dinilai perlu diubah menjadi partisipasi yang lebih luas.
“Jadi bayangkan, BEM itu punya asumsi merepresentasikan 42 ribu mahasiswa UGM. Ada organisasi yang merepresentasikan seluruh mahasiswa UGM. Sementara mahasiswa UGM sendiri itu apatis,” ujarnya.
“Nah dalam konteks ini, yang diperlukan sebenarnya bukan representasi, tapi partisipasi. Itu yang sedang akan dilakukan oleh Serikat Mahasiswa,” tambahnya.
Meski demikian, Tiyo menegaskan transformasi tersebut bukan pemutusan sejarah dengan BEM, melainkan bentuk keberlanjutan gerakan mahasiswa yang menyesuaikan perkembangan zaman.
