Kumparan Logo
Konten Media Partner

Bencana di DIY Tahun 2022 Tertinggi dalam 5 Tahun, Kerugian Capai Rp 266 Miliar

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana. Foto: Arif UT
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana. Foto: Arif UT

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat adanya tren kenaikan kejadian bencana dalam lima tahun terakhir. Sepanjang tahun 2022, kejadian bencana yang terjadi di DIY adalah yang tertinggi sejak tahun 2018.

BPBD DIY mencatat, ada sebanyak 1.817 kejadian bencana yang terjadi sepanjang tahun 2022, tahun 2021 sebanyak 958 kejadian, 2020 sebanyak 1.058 kejadian, 2019 ada 1.355 kejadian, dan pada 2018 hanya terjadi 782 bencana.

“Kejadian bencana sempat turun pada tahun 2021, tapi kemudian naik lagi pada 2022 bahkan menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir,” kata Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana, dalam konferensi pers data kejadian kebencanaan DIY tahun 2022 di Kantor BPBD DIY, Selasa (7/2).

Kejadian gempa bumi baik yang terasa maupun tidak menjadi yang paling sering terjadi sepanjang 2022 dengan total 771 kejadian, kemudian diikuti oleh tanah longsor dengan 707 kejadian. Kejadian tanah longsor itu paling banyak terjadi di Kulon Progo dengan total 454 kejadian.

Selain itu ada juga kejadian angin kencang yang selama tahun 2022 terjadi sebanyak 147 kali di DIY, kemudian diikuti kebakaran sebanyak 114 kali, serta banjir sebanyak 74 kali.

Dari semua kejadian bencana ini, total kerugian materil akibat kerusakan fisik menurut Biwara mencapai lebih dari Rp 266 miliar.

“Nilai kerusakan fisik mencapai kurang lebih RP 266.735.898.000,” kata dia.

Konferensi pers data kejadian kebencanaan DIY tahun 2022 oleh BPBD DIY, Selasa (7/2). Foto: Arif UT

Adapun kerusakan paling banyak terjadi pada rumah penduduk mencapai 2.347 rumah, kemudian pohon tumbang 1.054 pohon, kerusakan infrastruktur seperti jalan dan jembatan sebanyak 532 unit, bangunan tergenang sebanyak 417 unit, serta kerusakan jaringan listrik, telepon, dan internet sebanyak 276 unit.

Ada juga kerusakan yang dialami tempat usaha sebanyak 148 unit, kerusakan kendaraan 126 unit, fasilitas umum 91 unit, serta kandang hewan sebanyak 77 unit.

“Dengan jiwa terdampak sebanyak 6.624 orang, dengan rincian 64 orang luka-luka, 66 meninggal dunia, dan 699 harus mengungsi,” kata Biwara Yuswantana.

Kasus-kasus kejadian kebencanaan tersebut menurut Biwara perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam menyusun kebijakan penanggulangan bencana ke depan. Di BPBD sendiri, dari tingkat provinsi sampai kabupaten/kota menurut dia sudah melakukan upaya untuk memperkecil dampak dari kejadian bencana.

Misalnya dengan membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana), Kalurahan Tangguh Bencana (Kaltana), dan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di seluruh DIY. Hingga tahun 2022, sudah ada 326 Destana dan Kaltana yang berhasil dibentuk dan untuk SPAB sudah ada 201 sekolah di seluruh DIY.

“Biaya penanganan bencana mahal, sehingga upaya pengurangan risiko harus menjadi sikap dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan DIY ke depan supaya biaya penanganan lebih efisien,” tegasnya.