Berkat Sosrobahu, Proyek Tol Layang di Jogja Tak Perlu Blokir Jalan
·waktu baca 4 menit

Tidak seperti wilayah lain, Yogyakarta memiliki tata ruang yang diatur oleh Keraton. Setiap pekerjaan konstruksi di Yogyakarta yang bersinggungan dengan tanah Kasultanan dan Kadipaten wajib dikonsultasikan dengan Keraton. Hal yang sama berlaku pada proyek tol layang Jogja-Solo di Ringroad Utara. Pesan dari Keraton terhadap proyek ini jelas: tidak boleh mengganggu situs bersejarah dan ekonomi warga sekitar.
“Kalau kita berbicara di Jogja, otomatis di situ ada tanah Kasultanan, tanah Kadipaten, otomatis koordinasinya pasti dengan pihak Keraton,” ungkap Gibran Satria Samudra, Construction Engineer Proyek Tol Jogja–Solo Paket 2.2, kepada Pandangan Jogja, Selasa (4/11).
Dalam pertemuan dengan Gusti Mangkubumi, tim proyek menerima arahan agar dampak pembangunan terhadap aktivitas sosial dan ekonomi bisa ditekan. Alih-alih mengganggu, proyek tol justru sebaiknya dapat mendongkrak perekonomian warga.
“Selagi bisa dikerjakan dengan tanpa mengganggu perkembangan ekonomi, entah itu pertanian dan lain-lain, itu kalau bisa dihindarkan, atau kita menggunakan lahan yang diperlukan saja,” lanjutnya.
Dengan keterbatasan ruang dan tingginya intensitas lalu lintas di Ringroad Utara, kontraktor harus mencari metode yang tidak menutup akses jalan nasional di bawahnya. Dari sinilah keputusan pemakaian teknologi Sosrobahu diambil.
Sosrobahu menjawab Persoalan Teknis dan Sosial
Di lokasi seperti Ringroad Utara yang merupakan jalur nasional dengan volume kendaraan harian yang tinggi, pemasangan lengan beton atau pier head di jalan layang dengan metode konvensional berpotensi menutup seluruh jalur di bawahnya. Sebab, besi penyangga besar yang diperlukan selama proses pengecoran tidak dapat ditempatkan tanpa memblokir lalu lintas. Jika jalan sampai ditutup, kontraktor harus menyiapkan jalur alternatif yang tentunya membutuhkan lahan tambahan serta konstruksi jalan baru.
“Kalau misalnya kita cor paksa secara konvensional sesuai desain kita, tidak menggunakan Sosrobahu, otomatis bawahnya lalu lintas tertutup. Dengan catatan tertutup, kita pasti harus menggunakan detour atau jalan peralihan dengan standar jalan yang sama,” jelas Gibran.
Di sisi lain, teknologi Sosrobahu memungkinkan pier head dicor sejajar jalan, kemudian diputar ke posisi akhir setelah beton mencapai kekuatan yang ditentukan. Pada titik paling berat di proyek tol layang Jogja-Solo, beban pier head dapat mencapai 720 ton. Pemutaran dilakukan dengan menyambungkan pier head dengan crane seberat 25 ton menggunakan tali baja. Pier head kemudian ditarik menggunakan sistem winch pada crane hingga mencapai sudut yang ditentukan. Prosesnya tak begitu lama, hanya sekitar 15 sampai 20 menit.
“Nah, itu sendiri untuk pemutarannya pasti kita kerjain malam hari. Yang kita takutkan ada keramaian volume lalu lintas, di Jogja kan agak unik ya. Jam padatnya lalu lintas itu ada tiga. Saya dapat info dari bapak-bapak Dishub Jogja itu itu ada tiga (puncak keramaian). Jadi pagi, siang, dan sore,” tutur Gibran. Ia menambahkan bahwa penggunaan Sosrobahu juga berkaitan dengan aspek keamanan, untuk menghindari jatuhan material yang dapat mencelakai pengendara jalan.
Total, ada 22 pier head di proyek tol layang Jogja-Solo yang dikerjakan Gibran. Sebanyak 11 titik pier head yang melintasi Ringroad Utara diputar menggunakan Sosrobahu, sedangkan 11 lainnya dipasang dengan cara konvensional.
Buatan Insinyur Lokal, Dipakai Sampai Internasional
Teknologi Sosrobahu pertama kali ditemukan oleh Ir. Tjokorda Raka Sukawati pada 1988. Ide ini berangkat dari kebutuhan membangun jalan layang di Jakarta tanpa menutup arus kendaraan di bawahnya. Temuannya diberi nama Landasan Putar Bebas Hambatan (LPBH), sebelum kemudian diberi nama Sosrobahu oleh Presiden Soeharto. Nama ini terinspirasi dari Arjuna Sasrabahu, tokoh dalam cerita pewayangan yang dikisahkan memiliki seribu lengan dan mampu memutar dunia.
LPBH pertama kali dipakai untuk proyek jalan layang di atas Jalan Jenderal Ahmad Yani serta jalan yang menghubungkan Cawang–Tanjung Priok. Teknologi ini kemudian banyak diadopsi di berbagai proyek jalan layang di Indonesia, bahkan mancanegara.
“Setahu saya yang pernah saya ngobrol-ngobrol sama yang teknisi Sosrobahu itu sendiri. Itu kebanyakan banyak di Filipina sekarang. Jadi laku-lakunya itu lagi di Filipina,” ujar Gibran. Negara tersebut menggunakan teknologi Sosrobahu di hampir 300 titik jalan layang.
Di Jogja, Sosrobahu sebelumnya sudah dipakai pada pembangunan Flyover Janti, meski dengan dimensi pier head yang jauh lebih kecil dibandingkan proyek tol Jogja–Solo. Kini, lisensi Sosrobahu dipegang oleh PT Citra Angkasa Persada.
