Kumparan Logo
Konten Media Partner

BMKG Singgung Siklon Cempaka 2017 di DIY, Apakah Berpotensi Terulang Lagi?

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi siklon tropis. Foto: Dok. Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siklon tropis. Foto: Dok. Pixabay

Siklon Cempaka yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2017 kembali dibahas oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Peristiwa tersebut menyebabkan kerugian materiil sekitar Rp200 miliar di DIY.

“Siklon tropis cempaka di perairan selatan Jawa di Yogyakarta tahun 2017 ini kategori satu,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam rapat kerja bersama Komisi V pada Senin (1/12).

Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan siklon kategori lebih kuat di wilayah padat penduduk.

“Kita perlu bersiap juga apabila siklon tropis dengan kategori yang lebih tinggi lebih kuat itu terjadi pada daerah atau provinsi yang padat penduduknya ini kesiapsiagaan perlu kita siapkan,” ujarnya.

BMKG Yogyakarta Jelaskan Status Siklon Saat Ini

Ilustrasi siklon cempaka yang pernah terjadi di DIY, 2017 lalu. Foto: Dok. Pixabay

Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Warjono, menyatakan tidak ada indikasi kemunculan siklon tropis dalam waktu dekat.

“Dalam seminggu, ke depan belum terdeteksi. Ada tekanan rendah di barat daya Enggano kemungkinan juga tidak jadi Siklon tropis,” kata Warjono saat dihubungi Pandangan Jogja, Rabu (3/12).

Meski demikian, hujan lebat disertai angin kencang tetap berpotensi terjadi di DIY akibat pola pembentukan awan hujan lokal yang masih aktif.

“Hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir yang masih berpotensi terjadi di Yogyakarta dari pola lokal yaitu pembentukan awan hujan yang terjadi malam dini hari di laut selatan bergerak ke utara dan siang hari pembentukan awan di Pegunungan Menoreh dan Merapi bergerak ke selatan,” ujarnya.

Warjono menuturkan bahwa pembentukan awan dari kawasan pegunungan sering kali memicu hujan dengan intensitas lebih kuat.

“Pembawa hujan lebih lebat dari awan hujan, dari pegunungan,” kata Warjono.

Menurut Warjono, kondisi cuaca tahun ini berbeda dibanding periode yang sama pada 2024. Fenomena global turut berpengaruh terhadap tingginya potensi hujan di wilayah DIY.

“Lebih berpotensi terjadi hujan yg lebih tinggi dibanding tahun lalu karena ada fenomena la Nina juga walaupun lemah,” jelasnya.