Kumparan Logo
Konten Media Partner

Budayawan Jawa: Malam 1 Suro Horor dan Banyak Hantu Hanya Tipu-tipu Belanda

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Waris perempuan memeriksa tambahan keris sebagai pusaka yang melengkapi "rukun yang lima", cincin dan sapu tangan dalam rangkaian pelaksanaan "gawai" (ritual pernikahan). Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Waris perempuan memeriksa tambahan keris sebagai pusaka yang melengkapi "rukun yang lima", cincin dan sapu tangan dalam rangkaian pelaksanaan "gawai" (ritual pernikahan). Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO

Malam 1 Suro selalu diidentikkan dengan hal-hal mistik: hantu, setan, jin, kemenyan, dan sebagainya. Di manapun, di sinetron, di film-film horor, malam 1 Suro selalu digambarkan sebagai malam yang sangat menyeramkan dimana setan dan jin bergentayangan.

Tapi, benarkah pada malam 1 Suro banyak hantu-hantu yang bergentayangan?

“Sama-sekali tidak. Tidak ada hubungannya malam 1 Suro dengan klenik,” kata salah seorang budayawan Jawa sekaligus Direktur Lembaga Cahaya Nusantara (Yantra), Hangno Hartono, Jumat (29/7).

Alih-alih malam yang menyeramkan seperti yang digambarkan saat ini, malam 1 Suro adalah malam yang suci bagi orang Jawa, malam yang agung. Dalam kalender Jawa, 1 Suro adalah tahun baru, layaknya 1 Muharam dalam penanggalan Hijriah atau 1 Januari dalam penanggalan Masehi.

Meski tahun baru, namun orang Jawa merayakannya dalam kesunyian. Tak ada pesta kembang api, menabuh bedug, minum-minum, ataupun pesta-pesta lainnya. Orang Jawa merayakan tahun barunya dengan prihatin, melalui tapa bisu, diam.

“1 Suro itu kesempatan untuk intropeksi, makanya ritualnya selalu dikaitkan dengan diam, karena permasalahan orang saat ini kan kebanyakan ngomong,” ujarnya.

Budayawan Jawa sekaligus Direktur Lembaga Cahaya Nusantara (Yantra), Hangno Hartono. Foto: Dok. Pribadi

Jika malam 1 Suro digunakan untuk intropeksi diri, mengenang semua salah dan dosa selama setahun ke belakang dan menjadikannya pelajaran untuk tidak diulangi, maka orang tersebut akan selalu mengalami peningkatan kualitas hidup dari tahun ke tahun.

Tapi, kenapa hari yang suci itu justru sekarang bisa sangat identik dengan hal-hal gaib dan klenik?

Hal itu menurut Hangno disebabkan karena upaya peyoratif oleh kolonial dengan cara pengaburan dan penyesatan makna suatu budaya tertentu yang ada di tengah masyarakat Jawa.

“Malam 1 Suro yang sebelumnya dimaknai oleh masyarakat Jawa sebagai malam yang suci, ketika Belanda masuk makna itu disesatkan, bahwa malam 1 Suro identik dengan klenik,” lanjutnya.

Kasus ini tidak hanya terjadi pada malam 1 Suro, tapi juga pada aspek kebudayaan lain di tengah masyarakat Jawa. Misalnya malam Selasa Kliwon, yang bagi masyarakat Jawa dimaknai sebagai Anggara Kasih, atau malam yang berkah. Jika di Islam ada Lailatul Qadar, maka di kepercayaan Jawa ada malam Anggara Kasih yang jatuh tiap malam Selasa Kliwon.

“Tetapi konsep malam Selasa Kliwon itu dihancurkan dengan aneka macam narasi untuk mengerdilkan maknanya, salah satunya dengan narasi-narasi irasional,” ujarnya.

Ilustrasi seorang pria sedang mencuci kerisnya. Foto: Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Contoh lain adalah keris, yang juga dilekatkan dengan hal-hal klenik. Padahal, keris memiliki nilai metalurgi yang sangat tinggi. Tapi lagi-lagi karena pengerdilan makna sejak zaman kolonial, saat ini keris lebih banyak dimaknai sebagai jimat, benda yang di dalamnya berisi jin, dan sebagainya.

Gerakan-gerakan pengerdilan budaya itu dilakukan oleh kolonial dengan cara yang sistematis. Selama bertahun-tahun, berabad-abad, didoktrinkan kepada masyarakat hingga melekat sampai saat ini.

Saat itu, segala bentuk internalisasi budaya Jawa dianggap sebagai ancaman oleh kolonial, mengingat suku Jawa merupakan suku dengan jumlah pengikut terbesar di Nusantara. Jika dibiarkan berkembang, maka sangat mungkin suatu saat akan menendang kolonial dari tanah Nusantara.

Karena itu, ajaran-ajaran dan pemaknaan budaya Jawa itu mesti dilemahkan dengan berbagai macam penyesatan.

“Sehingga tidak menjadi kekuatan budaya, tetapi malah menjadi ejekan budaya,” kata Hangno Hartono.