Cerita Adit: Anak Disabilitas Netra, Pertama Kali Menonton PSS di Maguwoharjo
·waktu baca 3 menit

Matanya memang tak bisa melihat, tapi telinganya tak pernah berhenti mendengar. Telinga Adit menangkap tiap dentuman drum, tiap teriakan ribuan orang yang malam itu memadati Maguwoharjo International Stadium (MagIS), Jumat (22/8).
Untuk pertama kalinya, bocah tunanetra itu merasakan sendiri bagaimana gegap gempita sepak bola menyelimuti tubuhnya.
Meski hanya laga persahabatan menghadapi PSPS Pekanbaru, tapi ribuan suporter PSS Sleman tetap memadati tribun Maguwoharjo, memberikan dukungannya untuk Super Elang Jawa. Mereka bernyanyi, menabuh drum, dan berteriak tanpa henti selama 90 menit.
Di tengah euforia itu, di tribun VIP tengah, tepat di belakang bench pemain, duduk sekelompok kecil anak dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Mereka adalah anak-anak penyandang disabilitas —tunanetra dan tunawicara—yang datang bersama komunitas inklusif bernama Sadar Belajar.
Stadion yang Akhirnya Bisa Mereka Rasakan
Achmad Novrizal, alumnus Manajemen Pendidikan UNY yang menggagas Sadar Belajar, sengaja membawa anak-anak penyandang disabilitas ke MagIS malam itu.
“Kita ingin mengenalkan fasilitas umum, termasuk stadion, kepada anak-anak disabilitas. Karena mereka minim sekali akses atau pengalaman untuk mencoba ruang-ruang publik,” kata Rizal ditemui Pandangan Jogja, Jumat (22/8).
Inisiatif ini difasilitasi UPT Maguwoharjo dan didukung komunitas suporter 11.5 Roots. Para suporter itulah yang menjadi pemandu personal.
Selama 90 menit, mereka duduk di samping anak-anak, mendeskripsikan setiap detail: bagaimana bola bergulir, bagaimana sorakan membahana, hingga detik-detik saat gol tercipta.
Tawa yang Tak Butuh Mata
Adit, yang sempat gemetar ketika pertama kali masuk stadion, akhirnya pecah dengan senyum merekah.
“Ini pertama kali aku main ke stadion. Baru pertama kali juga ketemu Gustavo Tocantins. Idolaku banget di PSS Sleman. Rasanya nagih, pengen lagi!” ucapnya polos, membuat seisi tribun kecil itu ikut tersenyum.
Tak jauh darinya, Aswanda—seorang anak tunawicara—mengekspresikan gembira dengan caranya sendiri. Kalimatnya mungkin terputus-putus, tapi tubuhnya bicara lebih lantang.
Setiap kali Brigata Curva Sud atau BCS (supoter setia PSS Sleman) meneriakkan chants, tangannya meninju udara. Setiap kali drum dipukul, ia ikut melompat. Bahasa tubuhnya jadi bahasa universal kegembiraan yang tak membutuhkan kata.
Ketika Gol Menjadi Getaran
Saat PSS menjebol gawang PSPS Pekanbaru, anak-anak itu ikut melonjak. Mereka tak melihat gol itu dengan mata, tapi mereka merasakannya: dari deskripsi pemandu, dari sorakan stadion, dari getar energi di udara. Malam itu, sepak bola hadir bukan sebagai tontonan visual, tapi sebagai pengalaman sensorik penuh—dirasakan lewat suara, getaran, dan hati.
Usai pertandingan, kebahagiaan mereka bertambah. Gustavo Tocantins, sang pencetak gol, naik ke tribun, menyalami anak-anak satu per satu. Punggawa senior Kim Kurniawan pun ikut menyapa, menepuk bahu mereka dengan hangat.
Bagi anak-anak itu, pertemuan singkat dengan idola jauh lebih berharga daripada skor 2-0 di papan skor. Mereka pulang dengan kenangan pertama: bahwa stadion bukan ruang asing, melainkan rumah di mana mereka diterima.
“Kami bekerja sama dengan Komunitas Sadar Belajar dan juga tenaga-tenaga pendamping dalam memfasilitasi teman-teman disabilitas di Stadion Maguwoharjo. Agar bisa menjadi aset yang dimanfaatkan secara inklusif bagi masyarakat,” ujar Kepala UPTD Stadion MagIS, Jumat (22/8).
