Cerita Angkatan Pertama FK UNISA Yogya: Dokter Tak Cuma Menyembuhkan Orang
·waktu baca 2 menit

Tujuh bulan sejak diresmikan oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada 4 September 2024, Fakultas Kedokteran Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (FK UNISA) telah meluluskan satu semester pembelajaran bagi 50 mahasiswa angkatan pertamanya.
FK UNISA menjadi fakultas kedokteran pertama di lingkungan kampus 'Aisyiyah di seluruh Indonesia. Dekan FK UNISA, dr. Joko Murdiyanto, menjelaskan kehadiran kampus ini bukan hanya untuk mencetak dokter secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang kuat secara moral. Pendidikan karakter menjadi inti dari proses belajar.
“Jadi etika itu menjadi roh seorang calon dokter. Dokter di mana pun. Termasuk dokter Muhammadiyah. Jadi sejatinya dokter Indonesia itu dokter yang senantiasa memahami akan sumpah dokter dan kode etik kedokteran Indonesia. Dan tentu selain memahami, dia juga mengamalkan apa itu sumpah dokter dan apa itu kode etik kedokteran Indonesia,” ujarnya saat ditemui di kampus UNISA, Senin (5/5).
Semangat itu terasa dalam diri para mahasiswa angkatan pertama. Mereka tak hanya belajar anatomi atau biokimia, tetapi juga berlatih menjadi tenaga kesehatan yang mampu bersikap, berempati, dan bekerja sama.
“Kita diajarkan IPE, Interprofessional Education. Itu bukan cuma soal kerja sama antar tenaga medis, tapi juga bagaimana menyikapi pasien dengan rasa empati, menghormati profesi lain, dan membangun komunikasi yang sehat,” ungkap Syamaidzar Zarror Nibros Tsaqif, mahasiswa FK UNISA angkatan pertama.
Syam, sapaan akrabnya, sempat bercita-cita masuk akademi militer. Namun kondisi fisik mengubah arah hidupnya. Dukungan orang tua dan hasil try out bidang IPA membawanya ke dunia kedokteran. Ia memilih FK UNISA karena yakin bisa menjadi dokter yang tak hanya mengobati, tetapi juga mendidik dan membimbing.
Lain halnya dengan Nazwa Zafira. Ketertarikannya pada dunia kedokteran sudah muncul sejak SMA. Namun ia sempat gagal dalam beberapa seleksi masuk, bahkan sempat berpindah jurusan ke ilmu sosial. Ia akhirnya diterima di FK UNISA setelah mencoba kembali.
“Saya tertarik karena pendekatan UNISA yang berbasis keislaman dan fokus pada reproduksi,” tutur Nazwa.
“Menurut saya, kedokteran itu bukan cuma soal menyembuhkan. Tapi juga soal memahami orang lain, bekerja sama, dan membantu pasien dengan sepenuh hati,” ujarnya.
