Cerita Musisi Muda Jogja Menanti 2 Tahun untuk Konser Bareng Orkestra Australia
·waktu baca 4 menit

Bagi Leonora Larasati Sekarjati, malam konser di Auditorium Driyarkara Sanata Dharma, Kamis (16/10) adalah mimpi yang jadi nyata. Dua tahun lalu, ia hanya bisa menonton penampilan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dari kursi penonton. Tahun ini, di usianya yang ke-15, Leonora menjadi satu dari 25 peserta terpilih yang berkesempatan tampil bersama orkestra profesional tertua di Australia itu.
“Aku tahu MSO itu karena sekitar dua atau tiga tahun lalu, aku pernah nonton konsernya di Driyarkara. Habis itu, aku pengen ikut masuk, tapi saat itu aku masih umurnya 13 tahun, jadinya aku belum bisa ikut audisi. Terus, karena tahun ini aku udah 15 tahun, jadi bisa ikut audisi,” tutur Leonora, peserta termuda Youth Music Camp 2025.
Perjuangan menuju panggung yang sama juga dirasakan Reynold Rayllaya, mahasiswa ISI Yogyakarta asal Banyuwangi. Demi ikut audisi, ia bahkan harus meminjam biola temannya, hingga akhirnya berhasil menjadi salah satu peserta yang lolos dari 86 pendaftar.
“Aku nyoba audisi di tahun lalu, 2024, tapi gagal. Tapi enggak patah hati. Aku coba aja lagi lah, dengan upgrade cara latihan, segala macam. Alatnya minjem, karena violaku sendiri itu lagi dibenerin. Alhamdulillah tahun ini keterima,” kenang Reynold.
Leonora dan Reynold adalah dua dari 25 pemain musik dawai dari berbagai daerah yang menjalani latihan intensif bersama MSO di Griya Persada Kaliurang, Sleman, Senin (13/10) hingga Rabu (15/10). Latihan ini menjadi bagian dari program Youth Music Camp dan Art Management Workshop 2025 yang digelar Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY bekerja sama dengan MSO. Kerja sama Disbud DIY-MSO telah berjalan sejak 2015 dalam kerangka sister province antara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Negara Bagian Victoria, Australia.
Latihan di Kaliurang menjadi tahap akhir sebelum konser kolaborasi bertajuk “The Harmony of Working Hand in Hand” digelar di Auditorium Driyarkara, Kamis (16/10) malam. Bagi para peserta yang merupakan pemain musik klasik, latihan ini bukan sekadar persiapan konser, melainkan kesempatan langka untuk belajar langsung dari orkestra yang telah berusia lebih dari satu abad.
“Mereka (mentor dari MSO) selalu menyandingkan teknik bermusik itu dengan interpretasi ekspresi dan mood dari lagu. Lalu juga mereka kalau ngajari pakai metode, jadi pelan-pelan, benar-benar dari nol. Mungkin kita nangkapnya lama, tapi akhirnya nyantol di otak terus yang mereka ajarin,” ungkap Reynold.
Padukan Orkestra dan Gejog Lesung
Pada konser kolaborasi tersebut, para peserta tampil bersama lima musisi profesional dari MSO dan enam pemain Gejog Lesung, alat musik tradisional khas Yogyakarta yang memanfaatkan alu dan lesung untuk menciptakan irama musik. Enam repertoar dimainkan, termasuk karya penutup “Alunan Digdaya” gubahan komposer Vishnu Satyagraha.
“Gejog Lesung ini merupakan suatu alat yang dulunya sebenarnya alat pertanian untuk menumbuk padi. Kemudian, ketika orang-orang itu menumbuk, itu ada bunyi-bunyian. Ternyata masyarakat kita ketika muncul bunyi-bunyian itu kemudian diolah, sehingga ketika bekerja itu menghasilkan bunyi-bunyian yang menarik dan saling mengisi dalam pola, kalau dalam bahasa musik (disebut) interlocking,” kata Vishnu.
Danny Ceri, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta selaku mentor biola dan konduktor di Youth Music Camp 2025, menyebut “Aluna Digdaya” sebagai bentuk paling konkret dari tema konser yang berbicara tentang gotong royong lintas budaya.
“Itu konsepnya dari lesung. Ada (konsep) gotong-royong, kerja sama, terus ada kesedihan dan harapan di situ. Itu yang menurut saya cukup menarik,” ujar Danny.
Sementara itu, mentor celo Dimawan Krisnowo Adji, akrab disapa Wawan, menganggap proses latihan tak hanya fokus pada teknik, melainkan juga penyesuaian karakter bunyi. Menurutnya, karakter suara yang dihasilkan alat musik senar harus menemukan keseimbangan dengan suara kayu lesung yang cenderung keras.
“Komposisi baru ini (Alunan Digdaya) dengan lesung itu juga mempunyai tingkat kesulitan yang tersendiri karena urusan balance. Nah, lesung yang yang notabenenya keras ya, instrumen keras, dengan instrumen string yang sebenarnya lebih, katakanlah, beda karakter,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Wawan menyebut kolaborasi ini penting untuk memperluas apresiasi terhadap musik tradisional. “Gejog Lesung dipadukan dengan musik Barat, tradisi Barat, musik tradisi Barat dengan tradisi kita. Itu kan jadi wawasan baru bahwa musik-musik yang kita punya itu bisa dikolaborasikan dengan musik-musik Barat,” pungkasnya.
