Kumparan Logo
Konten Media Partner

Chamber Music Space, Harapan Berkembangnya Musik Klasik di Yogyakarta

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penampilan Duo Guitar, Rahmat Raharjo dan Mardian Bagus. Foto: Arif UT / Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Penampilan Duo Guitar, Rahmat Raharjo dan Mardian Bagus. Foto: Arif UT / Pandangan Jogja

Chamber Music Space digelar di Auditorium Sekolah Musik Kawai, di Kotabaru, Yogyakarta pada Jumat (8/12) dan Sabtu (9/12) akhir pekan lalu. Seluruh pemain merayakan perhelatan musik kamar ini dan mengungkapkan harapannya agar even serupa bisa digelar rutin minimal setahun sekali. Di tengah majunya orkestra di Yogya, pertunjukan musik kamar dinilai penting untuk memberi ruang bagi pemain musik untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya sebagai individu.

Per definisi, musik kamar atau chamber music adalah sebuah permainan musik yang dimainkan seseorang atau duo atau sekelompok kecil musisi dalam sebuah ruang kecil.

Berbeda dengan orkestra yang mempertontonkan sebuah set lengkap kelompok instrument seperti dawai, kayu, dan logam dengan melibatkan puluhan hingga ratusan musisi, musik kamar mempertontonkan sebuah pertunjukan yang lebih intim dan menonjolkan skill pribadi dari satu atau beberapa musisi.

Rahmat Raharjo, musisi gitar paling senior yang tampil pertama di hari kedua Chamber Music Space misalnya, begitu usai pertunjukan, mengatakan bahwa pertunjukan malam itu adalah pertunjukan yang sangat penting bagi musisi-musisi di Yogya untuk memperlihatkan skill individunya.

“Ini wadah atau ruang penting bagi teman-teman di luar job regular mereka di orkestra. Suatu kebanggaan bisa mengeluarkan skill di chamber atau ruang kecil begini. Pressure-nya beda dengan main di orkestra karena para pemain dilihat sebagai individu,” kata Rahmat Raharjo.

Rahmat Raharjo, Mardian Bagus, dan Chittarra Rahardjo. Foto: ES Putra

Rahmat Raharjo adalah musisi gitar senior yang jadi langganan juara beberapa kompetisi gitar di Indonesia dan juara 1 Spanish Guitar Award 2001. Pada 2022 ia belajar langsung di Barcelona berguru pada Josep Henriquez.

Malam itu Rahmat Rararjo berduet dengan Mardian Bagus yang pada 2015 lalu berguru gitar di Italy. Yang unik, Rahmat dan Mardian adalah Ketua dan Sekretaris Program Penyajian Musik di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Mardian menambahkan bahwa Orchestra di Yogya sudah cukup maju tapi Chamber masih jauh dari ideal.

Yogya memiliki beberapa kelompok dan panggung orkestra yang bisa menggelar pertunjukan secara rutin, contohnya Royal Orkestra dan Serenade Bunga Bangsa yang bisa pentas beberapa kali dalam setahun. Para musisi klasik di Yogya juga banyak menjadi pemain di kelompok orkestra di Jakarta seperti Twillite Orchestra dan Erwin Gutawa Orchestra.

“Tapi musik kamar yang digelar di luar kampus ISI dan Sekolah Menengah Musik ya setahu saya cuma ini. Iya, tahun ini sepertinya cuma ini,” kata Mardian.

Ramandk String Quartet. Foto: Arif UT / Pandangan Jogja

Bagi Ramandk String Quartet yang para musisinya lebih muda -bahkan ada yang masih belum lulus dari ISI- pertunjukan Chamber Music Space jadi sebuah karunia besar. Dayan Damar yang menjadi Violin 2 di Quartet itu menceritakan bagaimana susahnya untuk menggelar sebuah pertunjukan musik kamar seperti malam itu.

“Berapa untuk sewa gedung? Bagaimana mendatangkan penonton? Untuk bisa tampil seperti ini kita musti patungan dan pontang-panting mengurus semuanya sendiri. Saya sangat bersyukur bisa tampil di sini. Pengalaman bagi saya untuk nantinya terjun ke profesional,” kata Dayan yang belum lulus dari jurusan Musik, ISI, ini.

Penampilan Chittarra Rahardjo. Foto: Arif UT / Pandangan Jogja

Malam itu Ramandk String Quartet memainkan 6 komposisi dengan 4 komposisi adalah komposisi kasik seperti karya Thaikovski dan Haydn sedangkan 2 komposisi lainnya adalah karya dari anggota quartet, Nabila Farazhafira, yakni komposisi Resah for String Quartet yang dipopularkan Payung Teduh dan Gethuk for String Quartet.

“Saya harap Dinas Kebudayaan DIY terus menggelar acara serupa untuk tahun depan. Kalau bisa setahun lebih dari sekali agar banyak musisi-musisi yunior seperti saya kan banyak ya, bisa mendapat panggung untuk mengasah dan menunjukkan skillnya ke publik luas,” kata Dayan.

Gelaran Chamber Music Sapce pada Jumat-Sabtu pekan kemarin diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY dengan dukungan penuh dari Dana Keistimewaan DIY.

Jogja Punya Peluang

Penampilan Reclaim String Quartet. Foto: Arif UT / Pandangan Jogja

Masih ingat Putri Ariani yang melaju ke final American Got Talent 2023? Ia lulusan SMKN 2 Bantul, DIY. Dan tahukah bahwa SMKN 2 Bantul atau dulu bernama Sekolah Menengah Musik (SMM) adalah sekolah menengah musik pertama di Indonesia. Dan hari ini hanya ada 8 sekolah menengah di Indonesia yang memiliki jurusan musik klasik. Dan hanya ada 10 kampus di Indonesia yang memiliki jurusan musik yang di dalamnya tentu saja ada pengajaran musik klasik.

Perkembangan musik klasik di Indonesia, tentu saja masih sangat jauh dari dari perkembangan di Barat. Nah, salah satu kota yang dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan musik klasik adalah Yogyakarta.

“Selain Jakarta, saya kira hanya Jogja yang memiliki peluang bagi musik klasik untuk tumbuh, di sini banyak musisi musik klasik karena ada SMM dan ada ISI. Dan untuk perkembangan musik klasik, tak hanya orkestra yang penting, musik kamar juga rantai penting bagi perkembangan musik klasik karena menampilkan skill individu,” kata Raden Nestasharaji Widyastomo, pemain Cello di Ramandk String Quartet.

Raden Nestasharaji Widyastomo, pemain Cello di Ramandk String Quartet. Foto: ESP

Menurut Raden, musik orkestra tak akan bisa berkembang baik kalau musik kamar tidak berkembang. Sebab dialog intim antara musisi dan penonton di musik kamar adalah akan sama-sama menumbuhkan apresiasi terhadap keahlian bermusik, skill bermain di sisi musisi dan skill mendengarkan dan menonton di sisi penonton.

“Menonton musik klasik pun kan harus belajar juga, bagaimana menikmatinya. Apalagi memainkannya. Nah, selama ini ruang kolektif untuk chamber music di Yogya itu jarang. Hanya ada di ISI dan SMM dan tidak sampai ke mayarakat lebih luas,” jelas Raden Nestasharaji.

Hal yang sama diungkapkan oleh Mardian Bagus. Di ISI dan di SMM pertunjukan musik kamar selalu sold out. Tapi penontonnya mahasiswa saja dan kebanyakan juga mahasiswa jurusan musik.

“Jadi melebarkan penonton itu penting untuk menumbuhkan musik klasik. Ada musisi tapi kalau nggak ada yang nonton bagaimana? Jogja punya peluang untuk menumbuhkan keduanya,” kata Mardian.

Ekosistem Musik Klasik

3 anggota Ramandk String Quartet. Foto: ESP

Nabila Farazhafira dari Ramandk String Quartet secara lugas mengatakan arti penting Chamber Music Space yang diselenggarakan Disbud DIY yakni tak hanya memberi wadah bagi player dan penonton umum, tapi juga arranger, composer, dan reviewer sehingga terbentuk ekosistem musik klasik di Yogyakarta.

“Saya diberi tahu bahwa ada teman-teman mahasiswa musik yang didampingi penulis profesional untuk menuliskan pertunjukan malam ini. Itu luar biasa sekali.”

“Dan Chamber Music Space juga memberi ruang bagi arranger karena karya yang bisa dibawakan tidak saklek klasik doank tapi dibebaskan membawakan komposisi baru. Ini ruang penting sekali, semoga rutin, dan terbentuk ekosistem musik klasik di Yogya,” kata Nabila.

Violin 1 dan Violin 2 Ramandk

Violin 1 Ramandk, Risang Augus Rahmanto melihat antusiasme warga yang begitu besar pada pertunjukan-pertunjukan musik berbasis klasik inisiasi Disbud DIY seperti misalnya Serenade Bunga Bangsa. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh nomor-nomor pertunjukan Serenade yang tidak terbatas pada karya klasik tapi juga lagi-lagu nasional atau komposisi baru yang menggambarkan suasana Jogja.

Siasat yang sama barangkali bisa digunakan oleh pertunjukan musik kamar berikutnya, yakni dengan menampilkan nomor-nomor yang lebih popular sehingga audience luas mau menerimanya dan dari sana bisa beranjak lebih dalam untuk belajar menikmati musik klasik.

Sementara bagi dirinya pribadi, berbeda dengan saat tampil di pertunjukan orkestra, main di musik kamar adalah kesempatan baginya untuk melakukan personal branding yang dari sini memungkinkannya untuk menjalin kerjasama yang lebih luas lagi.

“Sehari-hari saya ngajar les musik dan main orkes di Jakarta. Main musik kamar ini jadi personal branding, dikenal banyak orang, dan bisa diajak kerjasama lebih luas lag ikan,” terang Risang.

Foto: ESP

Pemain, panggung, penonton, diskurus melalui tulisan mendalam, media massa untuk mempopularkan, dan industri tontonan musik klasik seperti di Jakarta yang relatif lebih matang, adalah syarat tercapainya sebuah ekosistem yang sehat bagi perkembangan musik klasik.

Hal itu dikatakan oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan DIY, Vishnu Satyagraha, mengenai tujuan diadakannya Chamber Music Space pada 8-9 Desember ini.

Vishnu mengatakan, sudah menjadi tugas Disbud untuk selalu mendukung ekosistem berkebudayaan yang aktif, progresif, dan berkelanjutan.

Disbud tentu akan akan terus berusaha untuk mencari format terbaik bagi pengembangan talenta muda dalam hal ini, seni musik di DIY. Dengan banyaknya musisi, dari sisi penampil sudah siap. Tapi dari sisi apresiasi, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

“Baik kemarin maupun hari ini, ada 100 undangan, penuh. Bagaimana respon penonton dan feedback dari acara ini, nanti kami lihat lagi. Begitu juga di sisi kelas menulisnya dan media. Kami akan evaluasi dulu untuk bagaimana kelanjutan Chamber Music Space ini,” papar Vishnu usai pertunjukan Sabtu (9/12).