Cuma Kirim 12 Atlet Tunagrahita, DIY Borong 17 Medali di PESONAS 2026 Kupang

Kontingen Special Olympics Indonesia (SOIna) DIY hanya memberangkatkan 12 atlet ke Pekan Special Olympics Nasional (PESONAS) II 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, seluruh atlet yang diberangkatkan berhasil membawa pulang medali, bahkan jumlah medali yang diraih melebihi jumlah atletnya.
Total 17 medali berhasil dikumpulkan kontingen DIY, terdiri dari delapan emas, empat perak, dan lima perunggu. Hasil tersebut menempatkan DIY di peringkat keenam dari 22 provinsi peserta PESONAS II 2026.
Meski belum memenuhi target masuk lima besar yang dipasang sebelum keberangkatan, perolehan medali emas DIY melampaui target awal, yakni minimal satu emas dari setiap cabang olahraga (cabor) yang diikuti.
“Ternyata kan bisa melebihi dari target. Target yang kita cuma, apa? Cuma dari masing-masing itu cuma satu, satu medali emas, kemarin targetnya,” kata Bendahara SOIna DIY, Prima Laksana, saat dihubungi Pandangan Jogja, Selasa (20/10).
DIY mengikuti empat cabang olahraga, yakni atletik, bocce, tenis meja, dan bulu tangkis. Dari empat cabang tersebut, atletik menyumbangkan tiga emas, sementara tenis meja dan bulu tangkis masing-masing dua emas, serta bocce satu emas.
Prima mengaku tidak menyangka kontingen DIY dengan hanya 12 atlet mampu menembus enam besar nasional. Terlebih, DIY harus bersaing dengan sejumlah provinsi yang memberangkatkan kontingen lebih besar, seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Kalimantan Selatan.
Sempat Menghilang Jelang Lomba hingga Mengeluhkan Sakit
Di balik perolehan 17 medali tersebut, sejumlah atlet DIY juga menghadapi persoalan sebelum maupun selama pertandingan.
Pelatih kontingen DIY, Efi Maqfirah, menceritakan ada seorang atlet yang sempat menghilang sekitar satu jam sebelum perlombaan. Pelatih harus mencarinya dan membujuknya agar bersedia kembali untuk mengikuti pertandingan.
“Ada lah, satu jam sebelum lomba ada yang agak ngambek, ngilang, harus dicari. Setelah beberapa menit dibujuk akhirnya mau juga pemanasan untuk lomba,” kata Efi.
Ada pula atlet yang mengeluhkan rasa lelah dan sakit. Efi mengaku menerima berbagai keluhan dari atlet yang didampinginya selama kompetisi berlangsung.
“‘Nanti larinya semampuku aja ya, Bu’, ‘Bu, aku capek’, ‘Bu, aku sakit’, dan banyak lagi,” tutur Efi menirukan perkataan atletnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, para atlet tersebut mampu menyelesaikan pertandingan hingga akhirnya seluruh kontingen DIY mendapatkan medali.
Bagi Efi, salah satu momen yang paling membekas terjadi saat seorang atlet dipanggil untuk menerima medali. Atlet tersebut bahkan sempat mengusap air mata ketika namanya diumumkan di podium.
“Senang, terharu bisa sampai garis finish dan naik podium. Ada sih salah satu atlet pada saat naik podium, nama dipanggil sempat mengusap air mata saking senangnya,” ujarnya.
Seluruh 12 Atlet Bawa Pulang Medali
Sebanyak 17 medali DIY tersebar di empat cabang olahraga yang diikuti. Beberapa atlet bahkan berhasil menyumbangkan lebih dari satu medali.
Di cabang atletik, Syifa Salwa Salsabila menjadi salah satu penyumbang emas terbanyak dengan meraih dua emas dari nomor lari 100 meter dan 200 meter putri. Stive Anugrah Putra juga menyumbangkan emas dari lari 100 meter putra dan perunggu dari lompat jauh.
Sementara itu, Yasikur Dinar memperoleh dua perak dari nomor lari 25 meter dan 50 meter putra. Apriyo Fahmi Handoko turut menyumbangkan perunggu dari tolak peluru, serta menempati peringkat keempat pada nomor lempar turbo.
Dari cabang bocce, Anisa Nur Baiti meraih emas nomor tunggal putri, sedangkan Embun Widian Tari mendapatkan perunggu di nomor yang sama. Keduanya kemudian berpasangan di nomor ganda putri dan kembali menyumbangkan perunggu.
Masih dari bocce, Tristan Maulana mendapatkan perak tunggal putra. Ia juga meraih perunggu bersama Muhamad Reza Mustakim pada nomor ganda putra.
Di cabang tenis meja, Aldi Ferdiyanto mempersembahkan emas dari nomor tunggal putra. Aldi kemudian kembali meraih emas bersama Ervina Maulida Apriliani dari nomor ganda campuran.
Sementara di cabang bulu tangkis, Ananda Rizky meraih emas tunggal putra. Ia juga berpasangan dengan Mei Nazwa Salsabila untuk mendapatkan emas ganda campuran. Mei turut menyumbangkan perak dari nomor tunggal putri.
Dengan hasil tersebut, seluruh 12 atlet DIY yang bertanding di Kupang berhasil menyumbangkan setidaknya satu medali bagi kontingen.
Peraih Emas Berpeluang Tampil di Chile 2027
Perolehan delapan medali emas di PESONAS II 2026 juga membuka peluang bagi atlet DIY untuk mengikuti ajang olahraga tingkat dunia, Special Olympics World Games Santiago 2027 di Chile.
Namun, para peraih emas tidak otomatis mendapatkan tempat sebagai wakil Indonesia. Prima menjelaskan bahwa penentuan atlet yang akan diberangkatkan masih harus melalui proses seleksi oleh SOIna Pusat.
Menurutnya, atlet DIY dari cabang bulu tangkis dan tenis meja menjadi yang berpeluang mengikuti proses tersebut.
“Cuma ya itu dari atlet bulu tangkis sama tenis meja kemungkinan itu yang dikirim,” kata Prima.
Special Olympics World Games Santiago 2027 dijadwalkan berlangsung pada 16–24 Oktober 2027 di Santiago, Chile. Ajang olahraga dunia bagi penyandang disabilitas intelektual tersebut diproyeksikan melibatkan lebih dari 6.000 atlet dan Unified Partners dari sekitar 170 negara.
Selain membuka peluang menuju Chile, hasil PESONAS II 2026 juga menjadi pijakan SOIna DIY untuk mempersiapkan keikutsertaan dalam kompetisi berikutnya.
Prima mengatakan pihaknya berharap dapat memberangkatkan lebih banyak atlet pada PESONAS mendatang. Ia juga menyebut DIY bersama Sumatera Barat menjadi kandidat tuan rumah PESONAS 2030.
“Harapannya ya nanti bisa lebih berkiprah lagi dengan jumlah rombongan atlet yang lebih besar,” pungkas Prima.
