Curhat Calon Guru SD, Punya Mimpi Mulia tapi Kecewa dengan Aturan PPPK
·waktu baca 5 menit

Sejak masih berseragam putih abu-abu, Cindy Dhiany Desvia, sudah mantap untuk melanjutkan kuliah jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Cindy merasa prihatin melihat guru-guru SD di rumah tinggalnya mayoritas sudah berumur. Dengan mayoritas guru yang sudah tua, maka tak banyak yang bisa diharapkan, padahal zaman terus berkembang, memberikan tantangan-tantangan baru.
Dengan semangat pengabdian, Cindy memutuskan untuk jadi seorang guru SD, berharap semangat mudanya dapat menularkan energi positif demi pendidikan dasar yang lebih baik. Ibarat gayung bersambut, setelah lulus SMA pada 2019, Cindy diterima kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, dengan jurusan yang dia impikan: PGSD.
“Jadi emang panggilan hati aja, tiba-tiba terbersit pengin jadi guru SD, apalagi saya juga suka sama anak kecil,” kata Cindy Dhiany Desvia, Kamis (10/2).
Cindy menjalani hari-hari yang membahagiakan selama jadi mahasiswi PGSD. Banyak sekali yang dia pelajari dari kampusnya tentang bagaimana jadi guru SD yang baik, yang ternyata tidak semudah yang dia bayangkan sebelumnya. Namun karena pada dasarnya dia sudah mantap untuk jadi guru SD, apalagi banyak pelajaran yang membahas tentang pengelolaan anak-anak di jenjang pendidikan dasar, Cindy tetap menjalani perkuliahannya dengan antusias.
Sampai akhirnya, tahun 2021, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), mengeluarkan aturan bahwa tidak hanya sarjana PGSD yang bisa jadi guru SD. Sarjana pendidikan lain yang memiliki ijazah tidak linier dengan guru SD, ternyata memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi guru SD melalui jalur rekrutmen Pegawai Pemerintahan dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Cindy kecewa, tapi bagaimana lagi, dia tak bisa berbuat apa-apa. Jika sarjana dari jurusan lain bisa jadi guru SD, lalu buat apa dia harus lama-lama kuliah di PGSD?
“Tanpa ada kebijakan PPPK saja saya rasa untuk jadi guru SD saingannya sudah sangat ketat, apalagi ditambah guru SMP yang pindah ke SD lewat PPPK,” ujarnya.
Cindy kesal, karena tahu banyak sekali aspek-aspek pendidikan dasar yang dia pelajari di jurusan PGSD, namun tidak dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa di jurusan lain, meskipun sama-sama basisnya adalah pendidikan. Banyak sekali materi perkuliahan yang dia dapat di jurusan PGSD, dan itu sangat berbeda dengan jurusan lain. Misalnya, Cindy dan teman-teman lain di jurusan PGSD benar-benar diajari bagaimana membentuk karakter peserta didik yang paling dasar, sejak dia masuk dan kenal dengan dunia pendidikan, sampai dia lulus nantinya.
“Kami juga mempelajari pengembangan pembelajaran di SD hingga terjun langsung ke lapangan, jadi jurusan PGSD benar-benar fokus ke SD saja,” lanjutnya.
Tapi Cindy mulai berpikir jernih. Bukankah tujuan awal dia adalah untuk mengabdi? Dia akhirnya fokus kembali ke tujuan awalnya itu. Toh, rezeki tak akan pernah tertukar. Cindy kini fokus untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sebagai calon guru SD yang berkualitas, sebab dia percaya kualitas itulah yang nantinya akan jadi pembuktian.
“Semoga lulusan PGSD bisa jadi guru penggerak, guru yang terampil dalam pengajaran, mampu membangun dan mengembangkan hubungan antara guru dan sekolah dengan komunitas yang luas,” kata Cindy Dhiany Desvia.
Kekecewaan serupa juga dirasakan oleh Dwinandar Pramudita, yang sekarang masih jadi mahasiswa PGSD angkatan 2019 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Dia khawatir, jika anak-anak SD dididik oleh tenaga yang tidak kompeten, pendidikan dasar tidak akan bisa menghasilkan generasi-generasi terbaik. Sebab, pendidikan dasar adalah jenjang paling penting dalam menanamkan karakter dalam diri anak.
“Guru SD itu tugasnya bukan cuman ngajar, tapi juga menanamkan karakter dalam diri siswa,” kata Dwinandar.
Sarjana-sarjana non-PGSD menurutnya akan sulit untuk menyesuaikan diri dengan atmosfer di pendidikan dasar. Sebab, banyak sekali aspek-aspek penting dalam mendidik anak di tingkat dasar, yang tidak dipelajari oleh jurusan-jurusan selain PGSD.
“Kita aja yang belajar 4 tahun di PGSD belum tentu bisa ideal, apalagi yang tidak pernah kuliah tentang pendidikan dasar,” lanjutnya.
Untuk persaingan sendiri, Dwinandar yang sudah sejak kecil ingin jadi guru SD itu tidak terlalu memusingkan. Menurutnya peluang untuk jadi guru SD saat ini masih sangat besar. Hal itu dia lihat ketika dia mengikuti program Kampus Mengajar, dimana dia ikut mengajar di sebuah sekolah dasar. Di sana, Dwinandar melihat bahwa mayoritas guru yang aktif memang sudah berumur, bahkan sudah di ujung masa tugas mereka.
“Biasanya kebijakan ini kan berubah-ubah juga, bisa saja nanti berubah lagi. Yang penting kebijakan ini harus bisa memacu mahasiswa PGSD untuk meningkatkan skill biar bisa bersaing,” kata Dwinandar Pramudita.
Marfu'atul Khasanah, salah seorang mahasiswi PGSD juga angkatan 2020 di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, tidak terlalu mempersoalkan kebijakan tersebut. Dia optimis, dengan bekal-bekal pengetahuan yang dia dapatkan selama jadi mahasiswa PGSD, dapat bersaing dengan calon-calon guru SD lain, apalagi yang bukan lulusan PGSD.
Ma’rifatul juga mengamini, bahwa dengan semua pengetahuan itu, sarjana PGSD mestinya punya kemampuan yang lebih baik untuk jadi pendidik di tingkat dasar. Sebab, sejak awal mereka memang disiapkan untuk itu, berbeda dengan guru-guru lulusan jurusan non-PGSD.
“Misalnya kita diajari psikologi umum yang mempelajari psikologi anak sedari dini, kalau jurusan lain kan kebanyakan psikologinya untuk siswa yang sudah menjelang remaja,” ujar Ma’rifatul Khasanah.
Ma’rifatul juga memahami, bahwa di era sekarang pekerjaan itu tidak harus selaras dengan bidang pendidikan yang seseorang tekuni. Karena itu, dia juga tidak menyalahkan sepenuhnya jika lulusan non-PGSD diberikan kesempatan untuk jadi guru SD. Toh nantinya lulusan PGSD menurut dia juga punya kesempatan untuk bekerja di bidang lain yang berbeda dengan bidang pendidikannya.
“Misalnya ngajar les mata pelajaran tertentu untuk SMP, apalagi sekarang kan serba online, jadi memungkinkan buat ngajar di mana saja, enggak harus secara formal di sekolah,” kata Ma’rifatul Khasanah. (Widi Erha Pradana / YK-1)
