Kumparan Logo
Konten Media Partner

Dari Cak Imin Menuju Gus Imin, Apa yang Berubah dari Muhaimin Iskandar?

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eep Saefulloh Fatah, menjadi salah satu pembicara dalam sesi diskusi bertajuk ”Pemilu 2024: Tantangan Repolitisasi dan Menakar Kepemimpinan” di UGM Yogyakarta, Senin (5/6). Foto: H. Danuri
zoom-in-whitePerbesar
Eep Saefulloh Fatah, menjadi salah satu pembicara dalam sesi diskusi bertajuk ”Pemilu 2024: Tantangan Repolitisasi dan Menakar Kepemimpinan” di UGM Yogyakarta, Senin (5/6). Foto: H. Danuri

Dalam beberapa tahun terakhir, Muhaimin Iskandar, politisi yang juga merupakan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), lebih banyak mengenalkan dirinya dengan nama Gus Imin. Sebelumnya, selama bertahun-tahun Muhaimin Iskandar telah dikenal luas dengan sapaan Cak Imin.

CEO Polmark Indonesia yang kini melakukan pendampingan PKB dalam Pemilihan Legislatif 2024, Eep Saefulloh Fatah, mengatakan bahwa transformasi dari Cak Imin menjadi Gus Imin bukan tanpa maksud dan tujuan.

Nama Cak Imin, menurut Eep, punya image kelincahan, kesigapan, keberanian, sekaligus kelenturan dalam berpolitik. Cak Imin merepresentasikan seorang tokoh elit politik di antara para pengambil kebijakan.

Di dalam pemerintahan, Cak Imin selalu memiliki posisi yang bisa menentukan arah kebijakan. Sedangkan di ranah politik, Cak Imin berhasil menjadi ketua umum partai dan pimpinan muda DPR pada usia yang relatif muda.

“Tapi itu Cak Imin. Apa yang kurang dari Cak Imin?"

"Yang kurang menurut saya adalah kesadarannya yang penuh, untuk secara optimal menggalang kerja-kerja elektoral dengan basis political marketing yang terjaga,” kata Eep Saefulloh Fatah, dalam wawancara usai menjadi salah satu pembicara di sesi diskusi bertajuk ”Pemilu 2024: Tantangan Repolitisasi dan Menakar Kepemimpinan” di UGM Yogyakarta, Senin (5/6).

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar di Kafe Plataran Menteng, Jakarta, Kamis (9/8/2018). (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)

Ketika Cak Imin ingin jadi Gus Imin, dia harus bertransformasi untuk melakukan kerja politik yang orientasinya ke pemilih, yakni rakyat kebanyakan. Misalnya dengan memperbanyak pertemuan-pertemuan dengan calon pemilih, alih-alih mengumpulkan kadernya sendiri.

"Dari Cak Imin menuju Gus Imin musti ditempuh dengan cara, dari bicara menjadi mendengar, dari mengumpulkan kader menjadi bertemu dengan calon pemilih," jelas Eep.

Saat menjadi Gus Imin, Muhaimin Iskandar akan memperbanyak kerja-kerja senyap keluar rumah ketimbang menyukai selebrasi keriuh rendahan di rumahnya sendiri bersama kader-kadernya sendiri.

“Lalu kemudian dari bergerak di tataran atas menjadi bersedia menjejakkan kakinya di bawah,” lanjutnya.

Eep menjelaskan, salah satu perubahan yang telah dilakukan Muhaimin Iskandar dalam hampir 1 tahun terakhir bisa dilihat dari cara penggalangan yang telah mengalami perubahan langgam.

Kalau tadinya mengumpulkan banyak orang mendeklarasikan bahwa PKB kuat dengan berkumpul bersama orang-orang NU dan PKB, Gus Imin mengubah gayanya dengan cara datang ke beberapa titik potensial mengumpulkan sejumlah segmen pemilih yang berbeda.

"Gus Imin di situ bukan ngomong tapi mendengar. Gus Imin bertemu Mbah Kirun dan mendengarkan para seniman berbicara."

"Anda juga mungkin pernah dengar program Budal Gus, program itu antara lain Gus Imin datang ke suatu tempat kepala desa dikumpulkan di situ dinamai kegiatannya Mandat Desa. Kepala desa mendapat kesempatan bicara yang sangat banyak apa yang bisa diaspirakan secara nasional, sementara Gus Imin hanya mendengar dan sedikit saja bicara di akhir," kata Eep.

Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin memberi keterangan pers usai daftarkan bacaleg di Gedung KPU, Jakarta, Sabtu (13/5/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Yang tidak kalah penting, menurut Eep, untuk menjadi Gus Imin, Muhaimin Iskandar juga mengubah gaya politik dari yang awalnya lebih banyak dengan gagasan dan isu-isu besar menjadi berpolitik dengan gagasan dan langkah-langkah kecil.

Berpolitik dengan gagasan besar misalnya dengan ungkapan, "Saya dibesarkan dalam lingkungan yang terbatas, kalau ngomong kemiskinan di sekitar saya inilah kemiskinan, karena itu pemberantasan kemiskinan adalah prioritas pembangunan saya."

“Jika dalam gagasan kecil, maka dia akan berkata, jika saya diberi kesempatan untuk membuat keputusan dan memimpin, saya gratiskan listrik untuk rumah tangga 450 dan 900 VA. Gagasan kecil itu artinya konkrit dan jelas dan itu semua sudah dikerjakan oleh Gus Imin dan PKB, ini yang musti diperbanyak,” jelasnya.

Eep Saefulloh Fatah, dalam wawancara usai menjadi pembicara di sesi diskusi bertajuk ”Pemilu 2024: Tantangan Repolitisasi dan Menakar Kepemimpinan” di UGM Yogyakarta, Senin (5/6).

Contoh lain berpolitik dalam gagasan besar adalah mendengungkan pentingnya pembangunan desa. Gagasan kecilnya adalah dengan mengefektifkan bantuan hukum dan usaha desa (Bahu Desa). Program Bahu Desa ini juga merupakan salah satu yang sedang dikerjakan oleh Gus Imin saat ini.

Bantuan hukum ini dimaksudkan untuk membantu kepala desa yang sekarang sangat berpotensi mengalami kriminalisasi dalam penyalahgunaan dana desa. Sedangkan usaha desa adalah memberikan bantuan kepada BUMDes di tempat tertentu untuk menjadi unit keuangan mikro di tingkat desa.

Hal lain yang telah dilakukan Gus Imin menurut Eep adalah dengan meningkatkan dana bantuan desa dari Rp 1 miliar per tahun menjadi Rp 5 miliar dengan mengoptimalkan anggaran dari semua kementerian dan lembaga. Jadi yang dimaksud dana desa tidak hanya dana desa yang diberikan oleh Kemendes PDTT (Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi).

“Jadi Cak Imin akan menjadi Gus Imin dengan transformasi-transformasi seperti itu. Kalau transformasi ini berjalan dengan kuat, Gus Imin akan jadi faktor yang sangat menentukan dalam Pilpres 2024,” ungkap Eep Saefulloh Fatah.