Kumparan Logo
Konten Media Partner

Dari Garasi Rumah, Warga Dusun di Sleman Bangun Ruang Literasi untuk Anak & Ibu

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertunjukan seni dalam peringatan 1 tahun Yayasan Literasi Desa Tumbuh di Sleman. Foto: Dok. Yayasan LDT
zoom-in-whitePerbesar
Pertunjukan seni dalam peringatan 1 tahun Yayasan Literasi Desa Tumbuh di Sleman. Foto: Dok. Yayasan LDT

Sebuah ruang baca dan kegiatan seni tumbuh dari garasi rumah keluarga di Dusun Betakan, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Sleman.

Inisiatif ini berkembang menjadi Yayasan Literasi Desa Tumbuh (LDT), gerakan literasi komunitas yang didirikan pada Juli 2024 oleh Desy Ery Dani dan Noor Huda Ismail.

“Awalnya saya hanya ingin membuat perpustakaan kecil di samping garasi rumah keluarga, agar anak-anak bisa membaca buku seperti anak-anak di kota,” kata Desy, mantan dosen Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro yang kini menetap di Singapura, dalam keterangan tertulis yang diterima Pandangan Jogja, Selasa (22/7).

Pertunjukan seni dalam peringatan 1 tahun Yayasan Literasi Desa Tumbuh di Sleman. Foto: Dok. Yayasan LDT

LDT dibangun di atas lahan seluas 1.800 meter persegi, dengan pendekatan green placemaking. Fasilitas ini mencakup Ruang Baca, Ruang Seni, dan area diskusi terbuka.

Selama satu tahun, LDT telah menyelenggarakan 53 sesi baca anak, 6 pertunjukan angklung anak-anak, 6 pertunjukan angklung ibu-ibu, 7 pertunjukan tari tradisional, dan 6 diskusi terbuka seputar keluarga, kesehatan mental, dan profesi masa depan.

“Kami ingin membentuk anak-anak yang punya empati dan nalar kritis, bukan hanya pintar, tapi juga peduli,” ujar Amsa Nadzifah, Ketua LDT dan alumni LPDP–University of Melbourne.

Acara komunitas kuliner dalam rangka 1 tahun Yayasan LDT. Foto: Dok. Yayasan LDT

Kegiatan LDT juga menyasar pemberdayaan ekonomi ibu-ibu dusun melalui program literasi kuliner. Dalam rangka ulang tahun pertama, LDT bekerja sama dengan Bola Deli menyelenggarakan Workshop Jajanan Pasar Berbasis Tepung Beras yang diikuti lebih dari 30 ibu-ibu.

“Bola Deli mendukung pelestarian warisan kuliner Nusantara melalui dapur literasi ini. Ibu-ibu adalah penjaga pangan sekaligus pilar ekonomi keluarga. Literasi kuliner seperti ini menjadi bagian penting dari ketahanan pangan masyarakat,” kata Chef Joko dari Bola Deli.

Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa Poltekpar NHI Bandung, Nasya dan Arini, yang memberikan pelatihan pengolahan patiseri tradisional.

instagram embed

Di sisi lain, anak-anak dan ibu-ibu juga rutin berlatih angklung dan tari tradisional di Ruang Seni, yang dikelola oleh Shindy Shintia, penari lulusan ISI Surakarta.

“Anak saya dulu sangat pemalu, tapi sejak ikut latihan angklung dan pentas, dia jadi lebih terbuka dan percaya diri,” kata salah satu orang tua peserta.

Gerakan ini turut digerakkan oleh warga muda seperti Amelia Sekar, alumni UNY yang kini menjadi fasilitator kegiatan harian LDT. Mereka memiliki misi untuk memperluas kemitraan lintas sektor, mereplikasi program ke desa lain, dan mengembangkan konten literasi yang kontekstual serta relevan bagi komunitas.

Peringatan 1 tahun Yayasan Literasi Desa Tumbuh di Moyudan, Sleman. Foto: Dok. Yayasan LDT