Di Yogya Ada 40.000 Ibu Hamil dalam Setahun, 16.000 Merupakan Kehamilan Pertama

Konten Media Partner
12 September 2022 16:27
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi ibu hamil. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil. Foto: Pixabay
ADVERTISEMENT
Dalam setahun, terdapat puluhan ribu perempuan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mengalami kehamilan. Berdasarkan data Ikatan Bidan Indonesia (IBI) DIY, pada tahun 2021 lalu, total ada sekitar 40.000 kehamilan yang terjadi di DIY.
ADVERTISEMENT
Hal itu disampaikan oleh Ketua IBI DIY, Sutarti, ketika menjadi salah satu pembicara dalam acara talkshow Gerakan Edukasi 1.000 Bidan & Intervensi Stunting di Hotel Sahid Yogyakarta, Minggu (11/9). Sutarti mengatakan, jumlah itu termasuk cukup besar sehingga perlu mendapat perhatian serius supaya dapat melahirkan bayi-bayi yang sehat dengan selamat.
“Dalam setahun pada 2021 lalu terdapat 40.000 kehamilan di DIY,” kata Sutarti, Minggu (11/9).
Edukasi 1000 bidan di Yogya. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Edukasi 1000 bidan di Yogya. Foto: Istimewa
Lebih lanjut, Sutarti, menjelaskan bahwa dari 40.000 perempuan yang hamil, 16.000 di antaranya merupakan kehamilan pertama. Belasan ribu perempuan yang mengalami kehamilan pertama itu menurut dia membutuhkan pendampingan yang lebih intensif daripada perempuan yang sudah pernah hamil sebelumnya supaya pertumbuhan janin di dalam kandungan bisa berkembang secara optimal.
ADVERTISEMENT
Di sini, bidan menurut Sutarti punya peran yang sangat vital. Terutama untuk melakukan pendampingan dan pemantauan terhadap kesehatan ibu hamil dan bayinya supaya saat lahir tidak mengalami stunting.
Jumlah bidan di DIY menurut dia juga sudah cukup banyak. Total saat ini ada 3.611 bidan yang tersebar di seluruh wilayah DIY, dan 1.853 di antaranya telah tergabung dalam tim pendamping keluarga (TPK).
“Sehingga sudah ada ribuan bidan yang siap melakukan pendampingan ibu yang hamil pertama kali dan mendampingi tumbuh kembang anak pada 1.000 hari pertama usia anak,” ujar Sutarti.
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo. Foto: Istimewa
Sementara itu, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengatakan bahwa angka kehamilan sebanyak 40.000 per tahun di DIY sebenarnya masih dalam batas normal. Pasalnya, dengan jumlah total penduduk sekitar 4 juta jiwa, artinya angka itu hanya sekitar 1 persen dari penduduk di DIY.
ADVERTISEMENT
Namun yang perlu menjadi perhatian serius adalah bagaimana mengantisipasi supaya bayi-bayi tersebut dapat lahir secara sehat dan normal. Pasalnya, angka stunting balita di DIY masih cukup tinggi, sekitar 17,3 persen, sedangkan angka nasional mencapai 24,4 persen.
“Sehingga kami minta agar bidan ini membantu mengawal proses kelahiran melalui program pendampingan keluarga,” kata Hasto Wardoyo.
Program ini menurut dia juga jadi salah satu bagian dari upaya untuk menurunkan angka stunting hingga 14 persen pada 2024 mendatang. Target ini menurut dia cukup berat, sehingga harus melibatkan banyak pihak mulai dari pemerintah, masyarakat, maupun swasta.
“Pak Presiden minta tahun 2024 stunting menjadi 14% tetapi angka-angka yang sangat mengkhawatirkan masih cukup tinggi. Dari hasil Riskesdas 2018, remaja yang anemia masih 37%, ibu hamil anemia masih 48,9%, yang terlahir panjang badannya kurang dari 48 cm sebanyak 22,6%, yang lahir prematur angkanya masih 29.45%. Jadi bayi-bayi yang lahir yang gagal produk itu masih cukup tinggi,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·