Kumparan Logo
Konten Media Partner

Digelar Sebulan Penuh, Peringatan 14 Tahun UU Keistimewaan DIY Resmi Ditutup

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penutupan rangkaian peringatan 14 tahun UU Keistimewaan DIY di Teras Malioboro, Sabtu (12/9). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
zoom-in-whitePerbesar
Penutupan rangkaian peringatan 14 tahun UU Keistimewaan DIY di Teras Malioboro, Sabtu (12/9). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Rangkaian peringatan 14 tahun Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta resmi ditutup di Teras Malioboro Beskalan, Kota Yogyakarta, Sabtu (12/9) malam. Penutupan menjadi akhir dari rangkaian Memetri Kaistimewan yang berlangsung selama 30 hari dengan lebih dari 200 kegiatan.

Gelaran penutupan ini dilakukan dengan menghadirkan pertunjukan seni dan musik yang melibatkan anak-anak hingga difabel.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, yang hadir mewakili Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa keistimewaan DIY harus terus dirawat melalui kerja bersama, tidak hanya dalam kegiatan seremonial, tetapi juga dalam kebijakan, pelayanan, karya, dan perilaku masyarakat sehari-hari.

“Tema Mulyaning Manah, Mukti Ing Bumi, Wibawaning Jagad memberi pesan yang dalam, kemuliaan hati menjadi dasar dalam membangun kehidupan sosial yang tentram. Kemakmuran bumi mengingatkan kita bahwa pembangunan harus berpijak pada kelestarian, keadilan, dan keberlanjutan,” begitu sambutan Sultan HB X yang dibacakan Ni Made, Sabtu (12/9) malam.

Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Sri Sultan menyebut tema yang diusung dalam peringatan tahun ini juga mengandung pesan tentang posisi Yogyakarta di tengah perubahan zaman. Menurutnya, kewibawaan Yogyakarta lahir dari jati diri yang kuat, karya yang berkualitas, serta kemampuan masyarakat untuk beradaptasi tanpa kehilangan akar budayanya.

“Adapun kewibawaan di hadapan dunia, lahir dari jati diri yang kukuh, karya yang bermutu, serta kemampuan masyarakat Yogyakarta untuk terus menyesuaikan diri tanpa kehilangan akar budaya. Keistimewaan DIY adalah amanah sejarah sekaligus tanggung jawab masa depan. Ia perlu dijaga dengan Eling lan Waspodo, Eling terhadap asal-usul, nilai, dan martabat budaya,” kata Made.

Pesan tersebut, lanjut Sri Sultan, perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap perubahan yang berlangsung cepat. Yogyakarta dinilai perlu terus menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kebudayaan agar keistimewaan tetap relevan di masa mendatang.

30 Hari dengan 298 kegiatan

Paniradya Pati Kaistimewan, Kurniawan. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Sementara itu Paniradya Pati Kaistimewan, Kurniawan, dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa ada 298 kegiatan selama 30 hari pelaksanaan mulai dari workshop edukasi yang berkaitan dengan keterampilan dan budaya hingga panggung seni dan musik.

“Pembukaan Memetri Kaistimewan ini dibuka di Lapangan Paseban Bantul pada 15 Agustus 2026, kemudian acara puncak pada 31 Agustus di Balai Budaya Tamanmartani, kemudian hari ini dilaksanakan penutupan di Teras Malioboro Beskalan,” kata Kurniawan.

“Semarak pagelaran ini menjangkau seluruh wilayah di kabupaten kota hingga tingkat kalurahan. Jadi di masing-masing kabupaten dan di kalurahan juga memperingati 14 tahun Undang-Undang Keistimewaan,” ujarnya.

Sejumlah layanan publik juga dibuka seperti perpustakaan keliling, pajak keliling, skrining kesehatan jiwa, pemeriksaan gula darah, gizi dan tekanan darah, konsultasi psikologi, layanan HIV, edukasi aksara Jawa serta layanan VR tata ruang. Konsep itu menurutnya dirancang agar Memetri Keistimewan tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi mendekatkan nilai keistimewaan kepada masyarakat.