Dinkes DIY: Kebiasaan Bangun Siang Perbesar Risiko Digigit Nyamuk Penyebab DBD

Konten Media Partner
9 Mei 2024 11:57 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi bangun tidur kesiangan. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bangun tidur kesiangan. Foto: Pixabay
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat, per 6 Mei 2024, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) telah mencapai angka 1.112, melampaui jumlah kasus DBD sepanjang tahun 2023, yakni sebanyak 703 kasus.
ADVERTISEMENT
Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Dinkes DIY, Setyo Harini mengatakan ada beberapa pola hidup yang dapat meningkatkan risiko seseorang digigit oleh nyamuk Aedes aegypti yang merupakan penyebab DBD.
Pola hidup tersebut misalnya kebiasaan bangun tidur siang, atau kebiasaan tidur pada sore hari. Hal tersebut karena nyamuk Aedes aegypti aktif pada pagi dan sore, bukan pada malam hari.
"Jam nggigitnya jam 8-10 (pagi) dan jam 15.00 WIB - 17.00 WIB. Jadi bukan dalam kondisi sedang tidur (malam), karakter nyamuknya seperti itu. Berkeliarannya pagi, jam-jam anak sekolah, orang bekerja," kata Rini, Selasa (7/5).
Kabid Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan DIY, Setyo Harini. Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja
Karena itu, jika pada jam-jam tersebut seseorang masih atau sedang tidur, maka peluang untuk digigit oleh nyamuk penyebar DBD ini juga semakin besar.
ADVERTISEMENT
"Habis subuh tidur lagi, bangun-bangun sudah jam 10-an nah itu yang sangat berisiko, atau tidur habis ashar," ujarnya.
Sepanjang 2024 ini, dari 1.112 orang yang telah tertular DBD, tiga orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Dua pasien yang meninggal dunia berasal dari Gunungkidul, sedangkan satu pasien dari Sleman.
Pasien yang terkena DBD di DIY, menurut Rini juga mengalami pergeseran. Dari awalnya usia sekolah, kini menjadi warga dengan usia produktif.
"Mengingatkan kembali ke masyarakat untuk pola hidup sehat, pola hidup 3M plus, gerakan satu rumah satu jumantiknya. Masyarakat juga diharapkan memahami gejala dan tanda DBD supaya bisa segera antisipasi dan tidak terlambat penanganannya di fasilitas pelayanan kesehatan," ujar Setyo Harini.