Kumparan Logo
Konten Media Partner

Diprotes karena Berisik, Panitia Jamda RX-King di Jogja Minta Maaf

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Motor RX-King. Foto: Pandangan Jogja/Tannayu Hangno
zoom-in-whitePerbesar
Motor RX-King. Foto: Pandangan Jogja/Tannayu Hangno

Panitia Jambore Daerah (Jamda) V Yamaha RX-King Indonesia meminta maaf atas gelaran acara yang dilaksanakan di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Permintaan maaf tersebut menyusul banyaknya protes karena berisik dan menimbulkan asap.

Ketua Panitia JAMDA V YRKI DIY, Babhe Yatno, mengatakan pihak panitia mendengar serta memahami keluhan yang disampaikan masyarakat terkait pelaksanaan acara tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut telah mengantongi izin dari kepolisian dan pengelola stadion serta memiliki batas waktu pelaksanaan.

“Pertama, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat sekitar jika gelaran kami menimbulkan ketidaknyamanan soal suara dan asap. Kami mendengar dan kami memahami keluhan tersebut,” kata Yatno kepada awak media, Senin (21/9).

“Perlu kami sampaikan, acara JAMDA V ini adalah agenda resmi 2 tahunan YRKI DIY yang sudah berizin lengkap dari kepolisian dan pengelola stadion, dan pelaksanaannya pun kami batasi jamnya, tidak 24 jam,” ujarnya.

Di sisi lain, ia juga menyebut bahwa agenda yang berlangsung pada Sabtu-Minggu (19-20/9) ini memberikan dampak ekonomi dengan adanya keberadaan peserta dari luar daerah turut memberikan manfaat bagi pelaku usaha di sekitar kawasan Maguwoharjo.

“Setiap acara besar pasti ada plus minusnya. Di balik suara yang mungkin berisik, ada ribuan UMKM, pedagang asongan, tukang parkir, penginapan di sekitar Maguwoharjo yang ikut merasakan rezekinya. Ada ribuan saudara dari luar daerah yang datang tertib dan membawa nama baik Jogja,” kata Yatno.

Meski demikian, panitia mengatakan keluhan warga akan menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan kegiatan berikutnya. Koordinasi dengan masyarakat sekitar juga akan ditingkatkan, termasuk melalui RT/RW serta penerapan manajemen kebisingan yang dinilai lebih baik.

“Kami jadikan masukan dari masyarakat ini sebagai evaluasi utama kami. Ke depan kami akan koordinasi lebih intensif lagi dengan warga sekitar, RT/RW, dan akan kami siapkan manajemen kebisingan yang lebih baik,” kata Yatno.

“Kami terbuka untuk kritik yang membangun. YRKI DIY ini milik Jogja, jadi Jogja harus tetap nyaman untuk semua,” tutupnya.