Kumparan Logo
Konten Media Partner

Disbud DIY Gelar Pelatihan Dokumentasi Orkestra, Tegaskan Arsip Itu Sepenting KK

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Studi Praktis Produksi Dokumentasi Audio Video hari ke-2 yang berlangsung pada Rabu (30/7). Foto: Tannayu Hangno/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Studi Praktis Produksi Dokumentasi Audio Video hari ke-2 yang berlangsung pada Rabu (30/7). Foto: Tannayu Hangno/Pandangan Jogja

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama AMT Studiolab menyelenggarakan pelatihan dokumentasi audio video pertunjukan musik live. Sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan selama tiga hari, mulai Selasa (29/7) hingga Kamis (31/7), di Sakatoya Collective Space, Bantul.

Program bertajuk Studi Praktis Produksi Dokumentasi Audio Video yang didukung Dana Keistimewaan (Danais) ini menantang peserta untuk merekam konser orkestra secara langsung menggunakan perangkat kamera profesional, condenser microphone, CPU, hingga monitor speaker. Semua itu dilakukan melalui simulasi yang menyerupai penampilan musik secara langsung (live), di mana proses perekamannya berlangsung tanpa kesempatan pengambilan ulang (retake). Studi kasus yang digunakan berupa chamber music dengan dua ansambel utama: perkusi dan woodwind quintet, masing-masing memiliki tantangan teknis tersendiri.

Peserta menjalani studi praktis konser berupa woodwind quintet yang diisi oleh Pandawa Quintet. Foto: Tannayu Hangno/Pandangan Jogja

Manajer Program Studi Praktis Dokumentasi Audio-Video, Iwang Prasiddha Lituhayu, menekankan bahwa dokumentasi bukan hanya soal teknis, tetapi juga fondasi penting dalam sistem pengarsipan kesenian. Ia mencontohkan bahwa kehilangan arsip bisa berdampak seperti kehilangan identitas budaya.

“Ya, Anda bisa bayangkan seperti kita kehilangan kartu keluarga kita. Misalnya Bapak Anda siapa? Waduh, menurut tetangga saya Bapak saya namanya A,” ujar Iwang saat ditemui Pandangan Jogja pada Rabu (30/7).

“Kalau tidak ada arsip, 20 tahun lagi kita mungkin tidak tahu siapa saja musisi yang pernah tampil, bagaimana gaya musik mereka, atau perubahan apa yang terjadi,” lanjutnya.

Manajer Program Studi Praktis Dokumentasi Audio-Video, Iwang Prasiddha Lituhayu, usai wawancara. Foto: Tannayu Hangno/Pandangan Jogja

Iwang menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan menjawab kebutuhan akan tenaga dokumentasi pertunjukan seni di Yogyakarta. Ia menilai jumlah pertunjukan yang tinggi belum sebanding dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memadai.

“Dalam load pertunjukan di DIY khususnya, itu kalau dihitung orang yang sumber daya manusia yang benar-benar proper untuk mendokumentasikan peristiwa-peristiwa itu itu sebenarnya masih sangat minim,” jelasnya.

Senada hal tersebut Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Disbud DIY, Yohanes Alfonsus Liquori Vishnu Satyagraha, menyebut dalam ekosistem kebudayaan, khususnya seni pertunjukan musik orkestra, sudah tersedia banyak wadah pentas dan sumber daya yang berfokus pada peningkatan keterampilan bermain. Menurutnya, Disbud DIY melihat pertumbuhan tersebut belum diiringi dengan perkembangan sistem pendukung yang memadai, terutama dalam hal pengarsipan.

Studi Praktis Produksi Dokumentasi Audio Video yang berbasis simulasi. Foto: Tannayu Hangno/Pandangan Jogja

“Dinas Kebudayaan DIY berupaya untuk mendorong tumbuhnya semangat pengarsipan sehingga dampak baik kerja kebudayaan lebih sustain. Pada tahun ini, aktivitas ini berfokus pada sumber daya yang merekam audio maupun visual,” paparnya.