DIY Masuk Fase Akhir Siklus 200 Tahun Megathrust, Apa yang Harus Dilakukan?
ยทwaktu baca 3 menit

Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) yang juga mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengingatkan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa megathrust.
Dalam agenda bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY yang digelar pekan lalu, Dwikorita menyebut wilayah DIY dan selatan Jawa berada pada fase 30 tahun terakhir dari siklus 200 tahun gempa. Hal itu merujuk pada studi pakar Geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Angka siklus tersebut menurutnya bukan prediksi kepastian waktu kejadian, melainkan dasar ilmiah untuk kesiapsiagaan dan perencanaan infrastruktur yang mempertimbangkan risiko gempa dan tsunami.
"Yang saya sampaikan dalam webinar, saya menyitir pakar dari Geodesi ITB karena keilmuan yang paling tepat untuk menghitung itu memang beliau, makanya saya menyebutkan hasil studi Geodesi ITB," kata Dwikorita saat dikonfirmasi Pandangan Jogja, Rabu (22/4).
"Kalau untuk waktu, akurasinya itu masih rendah. Kalau kita katakan 200, belum tentu 200 persis. Siklus 200 tahun dan saat ini memasuki periode 30 tahun terakhir ada penelitian Geodesi ITB, bukan untuk menakut-nakuti tapi untuk membangun kesiapsiagaan," tambahnya.
Dwikorita menegaskan bahwa gempa megathrust tidak dapat dipastikan terjadi sesuai perkiraan waktu. Ia merujuk pada gempa Palu 2018, yang sebelumnya diprediksi akan terjadi pada tahun 2000 oleh peneliti pada 1970-an, namun meleset hampir dua dekade.
"Isu besarnya itu kesiapsiagaan, bukan angka, karena kalau angka itu tidak bisa akurat. Dulu tahun 1970-an ada yang memprediksi patahan di Palu diperkirakan akan bergerak di 2000, ini dibuat agar siaga dan waspada, terjadinya di 2018, artinya kan tidak akurat 100 persen," ujarnya.
Dwikorita meminta masyarakat tidak lengah dan terus membangun kesiapsiagaan melalui simulasi bencana. Ia juga mendorong Pemerintah Daerah DIY agar melakukan pengecekan rutin sistem peringatan dini.
"Penekanannya itu adalah agar masyarakat jangan lengah, tetap membangun kesiapsiagaan tetapi jangan takut. Setiap bulan sirine peringatan dini harus selalu dites untuk menjamin bahwa sistemnya tidak macet," kata Dwikorita.
BMKG: Gempa Tidak Bisa Diprediksi, Fokus pada Peringatan Dini
Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, menegaskan bahwa konsep siklus gempa dalam kajian ilmiah bukan alat prediksi waktu kejadian. Hingga saat ini, belum ada teknologi yang mampu memprediksi gempa secara akurat, baik dari segi waktu maupun magnitudo.
Pendekatan yang ditempuh adalah memperkuat sistem peringatan dini dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
"Untuk kapan, gempa bumi tidak bisa diprediksi. Jadi kenapa ilmuwan membuat potensi itu adalah untuk membangun kesiapsiagaan, bukan untuk memprediksi kapan terjadi," kata Ardhi saat ditemui Pandangan Jogja di kantornya, Selasa (21/4).
Ardhi menjelaskan perbedaan antara yang dapat dan tidak dapat dipastikan terkait gempa megathrust. Keberadaan sumber gempa di Indonesia adalah fakta geologi yang tidak bisa dihindari, sementara waktu dan kekuatan gempa tetap tidak dapat diketahui sebelumnya.
"Yang bisa dipastikan, kita tinggal di daerah yang terdapat sumber gempa bumi. Kita juga bisa memastikan bahwa negara membangun sistem peringatan dini yang berkembang menuju cepat, tepat, dan akurat," ujar Ardhi.
"Yang tidak bisa dipastikan adalah kapan terjadinya gempa bumi. Magnitudonya juga belum bisa dipastikan secara prediktif, yang perlu kita pastikan dari masing-masing manusia adalah kesiapsiagaannya," ujarnya.
