Kumparan Logo
Konten Media Partner

DIY Punya Atlet Badminton Nomor 1 Dunia, tapi 75 Tahun Tim Beregu Gagal Ikut PON

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para atlet badminton DIY yang mengikuti babak kualifikasi (BK) PON 2023 di GOR Among Rogo, Yogya. Foto: PBSI DIY
zoom-in-whitePerbesar
Para atlet badminton DIY yang mengikuti babak kualifikasi (BK) PON 2023 di GOR Among Rogo, Yogya. Foto: PBSI DIY

Tim bulu tangkis beregu putra-putri Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akhirnya berhasil lolos dan bisa mengikuti ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan digelar di Aceh dan Sumut pada 2024 mendatang.

Ini adalah pertama kalinya tim badminton beregu DIY berhasil lolos sejak PON pertama kali digelar pada 1948. Artinya, butuh waktu 75 tahun bagi tim badminton beregu DIY untuk bisa berlaga di ajang olahraga paling bergengsi di Indonesia itu. Sebelumnya, DIY hanya bisa mengirim atlet badminton ke PON hanya untuk nomor perorangan.

kumparan post embed

Padahal DIY memiliki cukup banyak atlet badminton berprestasi, salah satunya adalah Rian Ardianto. Rian adalah pebulu tangkis asal Bantul yang bermain di nomor ganda putra bersama Fajar Alfian dan kini menempati peringkat pertama dunia.

Sekretaris Umum Pengurus Daerah (Pengda) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) DIY, Sukiman Hadiwidjaja, mengatakan bahwa selama ini memang banyak atlet-atlet badminton berkualitas asal DIY. Apalagi DIY memiliki sekitar 65 klub bulu tangkis yang tersebar di lima kabupaten dan kota.

“Kita memang punya banyak atlet. Tapi atlet-atlet yang kita miliki rata-rata mengikuti kependudukan di klub yang dinaungi,” kata Sukiman Hadiwidjaja saat dihubungi pada Rabu (23/8).

Ilustrasi atlet bulutangkis di Yogya sedang berlatih. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja

Karena bergabung dengan klub dari luar daerah, maka atlet-atlet tersebut selama ini mewakili daerah asal klub tersebut. Misalnya atlet yang bergabung dengan PB Djarum Kudus, maka mereka akan mewakili Jawa Tengah, PB Jaya Raya mewakili DKI Jakarta, PB Mutiara Bandung mewakili Jawa Barat, atau PB Suryanaga yang mewakili Jawa Timur.

Saat ini, regulasi yang ada memungkinkan para atlet-atlet yang bermain di luar luar daerah untuk mewakili daerah asalnya. Aturan itulah yang dimanfaatkan oleh DIY untuk menarik atlet potensial mereka dari klubnya masing-masing untuk mewakili DIY dalam PON.

“Sekarang kita minta mereka pulang, mohon anak-anak yang merupakan penduduk sah DIY untuk mewakili DIY di PON. Ini kan bentuk patriotisme, keteguhan sebagai penduduk wilayah setempat dalam rangka membesarkan dan memberi prestasi di daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Sekretaris Umum PBSI DIY, Sukiman Hadiwidjaja. Foto: PBSI DIY

Dalam Babak Kualifikasi PON 2023 ini, sejumlah atlet yang mewakili DIY memang telah bergabung dengan sejumlah klub dari luar daerah. Misalnya Cristiano Ronaldo Eka Saputra dan Raden Roro Widya Aninditya dari Mutiara Bandung; Muhammad Alfarizi dan Jovita Aneira Prasma Hasya dari PB Djarum Kudus; dari PB Jaya Raya Jakarta ada Rian, Adrian Pratama, Alfira Deandika, Chelsea Da Silva Yogia; serta dari Banten ada Idham Kholik.

Banyaknya atlet potensial asal Yogya yang justru bergabung dengan klub-klub luar daerah menurut Sukiman karena klub-klub yang ada di DIY belum memiliki fasilitas yang mumpuni seperti klub-klub besar di luar daerah.

“Kita memang punya 65 klub, tapi klub dari DIY ini fasilitasinya memang belum memadai seperti klub-klub besar seperti PB Djarum Kudus, Mutiara Bandung, atau Jaya Raya Jakarta,” ujar Sukiman.

Pelatih Tim Bulu Tangkis DIY, Fransiska Ratnasari. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja

Pelatih Tim Bulu Tangkis DIY, Fransiska Ratnasari, mengatakan bahwa saat ini regulasi yang ada memang cukup menguntungkan bagi DIY. Di satu sisi, banyaknya atlet dari DIY yang bergabung dengan klub-klub besar di luar DIY juga menguntungkan sebagai bagian dari pembinaan talenta muda.

Namun, ke depan DIY tentu bisa terus meningkatkan program-program pembinaan atlet serta meningkatkan kualitas klub yang ada saat ini.

“Sehingga kita bisa optimal dalam membina atlet kita sendiri, tidak lagi bergantung dengan klub-klub besar di daerah lain,” ujarnya.